Heboh Telur Ayam Infertil Berharga Murah, Ini Cara Mengenalinya

Heboh Telur Ayam Infertil Berharga Murah, Ini Cara Mengenalinya
Membedakan telur infertil dengan telur ayam negeri lewat warna cangkang. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Telur ayam infertil ukurannya hampir sama dengan telur ayam negeri. Ketika dimasak pun rasanya nggak jauh berbeda. Meski begitu, telur infertil sebenarnya dilarang untuk dikonsumsi. Lantas, bagaimana sih mengenali telur ayam infertil saat membelinya?

Inibaru.id – Telur ayam infertil atau yang disebut telur hatched egg (HE) merupakan telur yang berasal dari perusahaan pembibitan (breeding). Oleh pemerintah, telur ayam infertil dilarang beredar. Sayangnya, kamu masih bisa menemuinya di pasaran. Bentuknya mirip dengan telur ayam negeri pada umumnya. Lantas, bagaimana sih cara untuk membedakannya?

Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Blitar Rofiyasifun mengatakan, fisik cangkang telur infertil berwarna putih atau pucat. Sedangkan untuk telur broiler atau telur ayam negeri memiliki warna kecokelatan.

“Paling gampang membedakannya, kalau ciri telur HE itu warnanya pucat. Kalau telur biasa kan warnanya agak cokelat. Memang telur ayam negeri juga ada yang putih, itu biasanya berasal dari ayam yang sakit, tapi itu jumlahnya sedikit,” kata Rofiyasifun pada Selasa (13/5/2020).

Memilih telur harus cermat dilakukan agar nggak mendapatkan telur infertil. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
Memilih telur harus cermat dilakukan agar nggak mendapatkan telur infertil. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Warna putih ini dikarenakan telur ayam infertil relatif nggak disimpan pada suhu ruangan dalam jangka waktu tertentu. Jadi, telur ayam infertil relatif nggak bertahan lama dan membusuk dalam waktu sekitar seminggu saja. Berbeda dengan telur ayam negeri yang bisa disimpan dalam suhu ruangan hingga satu bulan.

Harga telur ayam infertil juga sangat murah. Berkisar antara Rp 7 ribu – Rp 10 ribu per kg. Bahkan di media sosial Facebook, ada yang menjual telur HE ini dengan harga Rp 200 saja per butir. Jika setiap kilogram rata-rata berisi 20 butir, maka seseorang cukup membayar Rp 4 ribu saja! Bandingkan dengan harga telur ayam ras seharga Rp 20 ribu per kg. Sangat berbeda, bukan?

“Murah karena telur ini harus segera cepat dijual, karena dia akan cepat membusuk dalam seminggu. Makanya dijual sangat murah. Dari sisi kualitas juga kurang. Telur HE harusnya dimusnahkan atau untuk CSR perusahaan,” tambahnya.

Pemerintah melalui Permentan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi melarang penjualan telur HE. Ini tertuang dalam Bab III Pasal 13 yang isinya adalah pelaku usaha integrasi, pembibit GPS, pembibit PS, pelaku usaha mandiri dan koperasi nggak boleh memperjualbelikan telur bertunas dan infertil untuk kebutuhan konsumsi.

Jenis telur bisa dibedakan lewat warna cangkangnya. (Flickr/

Josie)
Jenis telur bisa dibedakan lewat warna cangkangnya. (Flickr/ Josie)

Lebih jauh, telur HE merupakan telur yang nggak digunakan atau masuk dalam produk nggak terpakai perusahaan breeding ayam broiler. Telur HE berasal dari telur fertil tapi nggak ditetaskan karena suplai anakan ayam (day old chick/DOC) terlalu banyak. Hal ini disebabkan oleh harga proses menetaskan telur lebih mahal dibanding harga jual DOC.

Jadi, nggak perlu khawatir lagi akan salah membeli telur infertil, Millens. Sudah tahu kan cara membedakannya, sekarang? (Kom/MG26/E07)