Mendengar Nostalgia Para Pemain Lawas PSIS soal Stadion Diponegoro

Mendengar Nostalgia Para Pemain Lawas PSIS soal Stadion Diponegoro
Stadion Diponegoro Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Stadion Diponegoro menyimpan jejak emas bagi dunia sepak bola Semarang dan itu cukup menyita ketertarikan saya. Untuk mengobati rasa penasaran ini, saya menemui sejumlah tokoh sepak bola Semarang untuk mendengarkan kisah mereka saat masih jaya-jayanya merumput di sana.

Inibaru.id - Stadion Diponegoro bukanlah tempat yang asing bagi saya. Semasa SMA hingga awal kuliah saya sempat memupuk asa lewat sepak bola. Di stadion inilah tempat saya menempa diri dengan berlatih maupun bertanding dengan tim lain.

Mungkin nggak banyak yang tahu kalau stadion ini merekam banyak peristiwa bersejarah khususnya bagi dunia sepak bola Kota Semarang. Dari era kejayaan PSIS sampai munculnya tim dari Liga Galatama yang bertabur bintang macam Inyong Lolombunan, Jaya Hartono, dan Widiantoro pun pernah mematri kisahnya.

Saya berinisiatif menemui tokoh sepak bola Semarang yang sempat merasakan bagaimana kejayaan maupun segala ingar-bingar yang pernah terjadi di stadion yang sekarang lebih akrab digunakan konser daripada main bola ini.

Sartono Anwar saat sedang memantau anak didiknya yang sedang berlatih di Stadion Diponegoro. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Sartono Anwar saat sedang memantau anak didiknya yang sedang berlatih di Stadion Diponegoro. (Inibaru.id/ Audrian F)

Awalnya saya bertemu Sartono Anwar (73) pada Kamis (19/12) sore.  Bagi pencinta sepak bola Indonesia, khususnya Kota Semarang pasti nggak asing dengan dirinya. Berbagai prestasi telah dia torehkan. Kebetulan waktu itu dia sedang memantau anak didiknya berlatih di Stadion Diponegoro.

“Wah, saya bawa PSIS juara tahun 1987 itu waktu pakai lapangan ini. Lapangan yang becek cukup menempa kami. Hasilnya PSIS sampai dijuluki 'Tim Jago Becek' karena saking seringnya pakai lapangan becek jadi sering menang kalau lapangannya becek,” ujar Sartono. Dia juga mengaku kalau sorak-sorak penonton dan komentator pada waktu itu masih terngiang di telinganya.

Sartono merupakan salah seorang tokoh sepak bola Semarang yang giat menyalurkan ilmunya untuk pembinaan pemain bola usia dini. Di Stadion Diponegoro inlah pertama kali pada tahun 1987 dia membuat sebuah sekolah sepak bola bernama “Tugu Muda”.

Rumput lapangan Stadion Diponegoro yang meninggi nggak menyurutkan langkah kaki Sartono Anwar untuk terus berolahraga di sana. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Rumput lapangan Stadion Diponegoro yang meninggi nggak menyurutkan langkah kaki Sartono Anwar untuk terus berolahraga di sana. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kemudian saya menemui Ahmad Muhariyah. Saat ditemui dia sedang bermain bola bersama PSIS Legends di Lapangan Sekaran Unnes pada Minggu (22/12) sore. Perannya sebagai pemain maupun pelatih nggak perlu diragukan lagi.

Kalau bagi Ahmad, dia memang nggak terlalu sering bermain di Stadion Diponegoro tapi tetap saja ada kenangan yang selalu membekas sampai bertahun-tahun lamanya.

“Kalau di Diponegoro saya masih jadi anak gawang. Kala itu saya melihat senior-senior saya bermain. Dari situ saya jadi serius ingin jadi pemain bola,” ucapnya.

Maryono, pemain PSIS Semarng era 1972. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Maryono, pemain PSIS Semarng era 1972. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kemudian saya juga punya kesempatan bertemu dengan Maryono. Kalau dia merupakan angkatan yang paling tua, yakni PSIS tahun 1972. Lima tahun setelah bergabung, dia membawa PSIS meraih juara liga. Kata Maryono lawannya adalah Persema Malang.

“Wah, dulu saya ingat penontonnya penuh. Di Velodrome itu juga mbludak sampai ke lapangan. TV juga masih hitam putih. Gaji saya masih Rp 5 ribu. Namun pada tahun itu, bisa dipanggil untuk bermain bersama PSIS di Stadion Diponegoro saja rasanya sudah sangat bangga,” ujar Maryono. Dia juga cerita kalau merek sepatu bola pada saat itu hanya ada dua, yakni Cuit dan Rajawali.

Nah, jadi begitulah cerita seputar kegemilangan Stadion Diponegoro. Sayangnya, kondisi stadion ini nggak begitu diperhatikan. Sayang banget ya, Millens. (Audrian F/E05)