Abraham Fletterman, sang Arsitek Belanda yang Sayang Istri dan Perhatian pada Pribumi

Abraham Fletterman, sang Arsitek Belanda yang Sayang Istri dan Perhatian pada Pribumi
Abraham Flatterman dan istrinya, Corrie Fletterman Smith. (Inibaru.id/ Audrian F)

Mungkin namanya nggak semenonjol Thomas Karsten, tapi arsitek Belanda yang satu ini memiliki jiwa yang istimewa. Setidaknya itulah yang saya tangkap. Nggak cuma membangun bangunan indah, Abraham Fletterman juga menunjukkan bagaimana cara memanusiakan manusia dengan membantu mereka. Selain itu, dia juga sukses menjadi suami idaman untuk Corrie, istrinya.

Inibaru.id - Jika kamu melintas di Jalan Kyai Saleh yang terhubung ke Jalan Veteran, pasti akan melewati sebuah rumah besar dengan gaya arsitektur Belanda. Saat saya lewat di jalan ini 5 atau 7 tahun, rumah ini masih tampak terbengkalai. Kini, rumah ini telah direkonstruksi. Kamu pun bisa melihat seperti apa rupa asli rumah kuno ini. Klasik dan menarik. Saking apiknya, rumah ini sering disewa untuk melangsungkan "hajatan".

Rumah itu dulunya milik Abraham Fletterman yang dibangun pada 1890. Nah, memang siapa sih dia? Saya mencoba mencari informasi lebih lanjut dengan mendatangi rumah itu pada Selasa (7/1) pagi. Di sana saya diberi tahu lebih banyak tentang sosok ini oleh Dwi Prakoso, Kepala Pengelola Rumah Abraham Fletterman (RumahKS15).

Rumah tua Abraham Fletterman tampak depan. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Rumah tua Abraham Fletterman tampak depan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Abraham Fletterman merupakan warga negara Belanda. Dia lahir di Den Haag Nedeerland pada 13 Desember 1888. Dia adalah seorang arsitek.

Mungkin namanya sedikit asing bagi orang Semarang. Saya pun yang lahir dan besar di Kota Lumpia ini juga baru sekarang mendengar namanya. Ketidaktahuan saya ini bukan tanda kuper ya. Tapi memang nggak banyak catatan tentang orang ini.

“Abraham Fletterman punya istri warga negara Belanda yang lahir di Wonogiri. Namanya adalah Corrie Fletterman Smith,” kata Prakoso. “Saat Belanda kejayaannya mulai surut di Indonesia, Fletterman memutuskan untuk tinggal di Indonesia demi istrinya. Dan di rumah inilah dia tinggal,” lanjutnya.

Pada 26 Mei 1959, Fletterman tutup usia. Enam tahun kemudian istrinya menyusul. Keduanya dimakamkan di Mount Carmel, Ungaran. O ya, sepeninggal nyonya rumah, rumah ini diwariskan kepada rekan sekaligus anak angkatnya bernama Maximillian Van der Sluys dan istrinya Elly Kristanti.

Dwi Prakoso bercerita  tentang Abraham Fletterman. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Dwi Prakoso bercerita tentang Abraham Fletterman. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Salah satu bangunan karya Abraham Fletterman yang masih bertahan hingga sekarang adalah Hotel Kesambi Hijau. Untuk yang lainnya kami belum mendapatkan infonya secara lengkap,” beber Prakoso

Konon, Fletterman membangun hotel tersebut untuk istrinya pada 1926. Sweet banget kan? Sayangnya, sang istri menolak dan lebih memilih tinggal rumah yang dibangun sebelumnya. Ya, saya percaya bahwa keinginan akan kemewahan bakal berkurang seiring bertambahnya usia. Yang diinginkan hanya satu, hidup tenang dan damai bersama orang tercinta. Di rumah inilah Corrie ingin menghabiskan hidupnya dengan sang suami.

Oleh penghuni terakhir (Elly), rumah ini dihibahkan untuk Yayasan Mardi Waluyo. Ini dia "karya" lain Abraham yang bikin saya salut. Memang kalau kamu membuka laman resmi Yayasan Mardi Waluyo, kamu nggak akan menemukan nama Abraham di sini. Hanya ada nama sang istri menjabat sebagai wakil ketua yayasan pada 1958. Saya berspekulasi kalau saat itu kondisi fisik Abraham sudah nggak memungkinkan. Dia meninggal satu tahun setelah yayasan berdiri.

Hebat ya, di saat usia sudah senja dia masih saja memikirkan orang lain. Awalnya yayasan ini bernama Vereeniging tot Bevordering van de Inlandsche Ziekenverpleegin (perkumpulan untuk meningkatkan perawatan orang-orang pribumi yang sakit). Yayasan ini fokus untuk memperhatikan kesehatan dan pendidikan ibu dan anak-anak kurang mampu. Di rumah inilah dahulunya yayasan dijalankan.

Semua perabotan di lantai 1 dan 2 masih asli. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Semua perabotan di lantai 1 dan 2 masih asli. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Pak Fletterman ini punya jiwa sosial tinggi. Maka dari itulah dia membuat yayasan tersebut. Dulu rumah ini sering dijadikan acara-acara sosial oleh Pak Fletterman. Misal seperti acara musik dan acara kebudayaan lain," kata Prakoso.

Di akhir obrolan saya dengan Prakoso, dia mengucapkan rasa syukurnya atas keberadaan yayasan ini. Menurutnya, rumah ini bakal terbengkalai jika yayasan ini nggak ada.

Hm, meski nggak banyak informasi yang saya dapat mengenai sosok Fletterman, paling nggak ada hal positif yang saya pelajari; jangan cuma mikirin diri sendiri! He (Audrian F/E05)