Sapi-Sapi Bersolek dari Madura

Bak supermodel di atas catwalk, mereka melangkah anggun dan melenggak-lenggokkan tubuh dengan gemulai. Hm, cantiknya!

Sapi-Sapi Bersolek dari Madura
Sapi Sonok adalah kontes kecantikan untuk sapi. Sapi-sapi itu dinilai berdasarkan kecantikan dan keselarasan gerak. (Zainulhariss.blogspot.co.id)

Inibaru.id – Kita mengenal karapan sapi sebagai tradisi di Pulau Madura yang mempertandingkan sapi jantan dalam sebuah trek balapan. Lalu, bagaimana dengan yang betina? Nah, ternyata, para sapi betina juga diberi kompetisi sendiri, yakni kontes kecantikan.

Ya, Sapi Sonok namanya. Kontes ini diikuti sepasang sapi. Secara literal, sapi sonok berarti sapi masuk. Ada pula yang bilang, sonok adalah singkatan dari sokonah nongkok atau kaki yang berpijak. Ajang ini disebut kontes sapi cantik karena sapi dihias dan berlenggak-lenggok seolah berjalan di atas catwalk.

Dilansir dari Liputan6, Sabtu (28/10/2017), dalam rangka HUT ke-72 Provinsi Jawa Timur, kontes sapi sonok kembali digelar di Stadion Soenarto Hadiwidjojo, Pamekasan. Kontes itu sekaligus sebagai pembuka lomba karapan sapi Piala Presiden 2017 yang tahun ini dipusatkan di Pamekasan.

Baca juga:
Misteri Petilasan Watu Sigong Klaten Perlu Diteliti
Warisan Legendaris di Alor Itu Satu-satunya di Dunia

"Kontes sapi sonok diikuti tiga puluh sembilan pasang sapi dari empat kabupaten,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kabupaten Pamekasan, Akhmad Sjaifuddin, Sabtu (28/10).

Akhmad mengatakan, kontes sapi sonok merupakan kebudayaan asli warga Kecamatan Waru, Pamekasan. Namun seiring waktu, peminat kontes ini sudah menyebar ke kabupaten lain seperti Sumenep, Sampang, dan Pamekasan.

Tak semua sapi betina bisa ikut kontes ini. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Sepasang sapi itu harus memiliki bobot yang nyaris sama. Keduanya juga harus memiliki bentuk wajah semirip mungkin.

Penilaian utama kompetisi ini terletak pada kekompakan saat melangkah di trek sepanjang 200 meter. Sapi yang paling cepat memijakkan kakinya pada sebatang kayu melintang di garis finis adalah pemenangnya. Sepanjang arena lomba, sapi-sapi itu akan melenggak-lenggokkan tubuh mereka.

Baca juga:
Gamelan Berkumandang di Moskwa
Gandaria: Maskot di Jabar, Nama Daerah di Jakarta

Sebentuk kayu (pangonongan) dipasang di antara kedua sapi agar posisi keduanya sejajar. Kemudian, ada seorang joki yang mengendalikan pangonongan dengan seutas tali.

Supaya terlihat cantik, sapi diberi hiasan. Tanduk sapi betina diberi semacam mahkota yang diikatkan.

“Jadi, sistem penilaiannya adalah gerak langkah kaki yang sesuai dengan garis yang sudah dipasang panitia lomba,” ungkap Akhmad.

Ia berharap kontes sapi sonok  terus menjadi warisan budaya yang lestari karena kontes sapi ini tidak mengandung unsur kekerasan seperti dalam karapan sapi. (GIL/SA)