Warisan Legendaris di Alor Itu Satu-satunya di Dunia

Moko atau nekara perunggu datang ke Alor sekitar satu milenium lalu. Jumlahnya ribuan dan hingga kini benda bersejarah itu diwariskan secara turun-menurun dan menjadi mas kawin.

Warisan Legendaris di Alor Itu Satu-satunya di Dunia
Moko (GNFI/Akhyari Hananto)

Inibaru.id - Pulau Alor, tak hanya menyimpan keindahan alam bawah laut yang begitu memukai, tapi juga menyimpan salah satu tradisi yang memukau. Pulau Alor punya julukan Pulau 1000 Moko. Apa “moko” itu?

Ditulis Akhyari Hananto dalam GNFI (24/10/2017), moko atau nekara perunggu merupakan benda budaya zaman prasejarah. Menurut para ahli arkeologi dan sejarah, teknologi pembuatan moko Alor berasal dari teknologi perunggu di Dongson, Vietnam bagian Utara. Kemudian teknologi ini menyebar ke berbagai daerah di Asia Tenggara, termasuk ke Pulau Alor. Bagaimana moko dari Vietnam ini bisa sampai di Alor dalam jumlah beribu-ribu pada masa lalu?

Baca juga: Warga Beijing Terpikat Karya Seni Rupa Kontemporer Indonesia

Sebuah pendapat mengatakan, moko-moko tersebut dibawa pedagang Tiongkok pada masa lalu untuk ditukarkan dengan komoditas dari kawasan tersebut (kawasan penghasil rempah-rempah seperti Kepulauan Banda dan Maluku). Bisa jadi, ada armada kapal pedagang tersebut yang terdampar di perairan Alor, dan kehabisan perbekalan. Nekara perunggu yang mereka bawa sebagai alat tukar, akhirnya ditukarkan dengan komoditas utama makanan dari Alor, yakni biji kenari, dan jagung. Ini terjadi 1000 tahun lalu, dan perdagangan kenari juga jagung berlanjut dengan ditukarkan dengan moko.

Jadilah, Pulau Alor menjadi pulau dengan koleksi Moko terbanyak hingga kini, meski tidak ada sejarahnya pulau ini memproduksi barang-barang dari perunggu.

Secara fisik, moko berbentuk seperti drum tangan dengan diameter 40 cm hingga 60 cm dan tinggi 80 cm hingga 100 cm  dan memiliki bentuk dan desain yang bermacam-macam, termasuk ornamen-ornamen khas Indochina seperti gajah dan ornamen lain yang beragam. Pada umumnya Moko berbentuk lonjong seperti kendang kecil, namun ada pula yang berbentuk gendang besar.

Pola hiasannyapun bermacam-macam, bergantung atas zaman pembuatannya dan sangat mirip dengan benda-benda perunggu di Jawa pada zaman Majapahit yang beragam. 

Konon, Ferdinand Magellan, pelaut ulung dari Portugis sempat singgah ke pulau ini saat saat berlayar kembali dari Maluku menuju Eropa pada tanggal 12 Januari 1522. Di Alor, Magellan melihat ada suatu tradisi yang menarik perhatiannya. Yakni pemberian mas kawin keluarga mempelai pria ke mempelai wanita. Mas kawin diberikan tak seperti kebanyakan di tempat-tempat lain di Nusantara, yang biasanya berupa hewan ternak atau hewan piaraan. Di Alor, masyarakatnya menggunakan peninggalan turun-temurun nenek moyangnya yang disimpan secara estafet, yaitu moko.  

Moko (GNFI/Akhyari Hananto)

Penggunaan Moko sebagai mas kawin di masyarakat Alor terus terjaga hingga kini. Hampir setiap keluarga di Alor, terutama yang masyarakat asli pulau tersebut, menyimpan setidak-tidaknya satu moko di rumahnya.

Baca juga: Menong: Boneka Keramik Nusantara dari Purwakarta

Jadilah moko bagaikan barang sangat berharga yang nilainya akan terus bertambah seiring waktu. Bisa dibayangkan, berapa puluh ribu Moko yang tersimpan di Pulau Alor yang berpenduduk sekitar 200 ribu jiwa tersebut.

Perlu diketahui, satu buah moko bisa seharga 50 juta. Harga ini, menurut mereka, pantas mengingat arti pentingnya ikatan perkawinan, yang akan mempersatukan berbagai keluarga. (EBC/SA)