Ketika Hakim Bao Menggugat Raja Neraka demi Seorang Bocah

Ketika Hakim Bao Menggugat Raja Neraka demi Seorang Bocah
Ilustrasi: Bao Zheng, penegak hukum paling adil dari Sinasti Song. (Wikipedia/Flickr/Peter Chan)

Hakim Bao sering digambarkan sebagai sosok berkulit gelap dengan tanda bulan sabit di dahinya. Ia adalah seorang hakim yang adil. Saking adilnya, ia sampai pergi ke alam baka untuk menuntut Raja Neraka demi seorang bocah baik namun bernasib malang. 

Inibaru.id – Hakim Agung Bao yang bernama lengkap Pao Kong atau Bao Zheng merupakan salah satu tokoh legenda Tiongkok dari Dinasti Song Utara. Ia merupakan hakim paling adil yang pernah ada dan selalu bisa memecahkan kasus serumit apa pun.

Ada banyak kisah kecerdikan Hakim Bao dalam memecahkan kasus rumit dan terkesan nggak mungkin. Salah satunya, ketika ia harus pergi menghadap Dewa Neraka untuk mempertanyakan nasib seorang anak kecil.

Dikisahkan, di sebuah desa hidup seorang anak yatim piatu berusia 10 tahun. Kaki anak tersebut cacat. Hidupnya sangat menderita. Dia hanya mengandalkan bantuan para tetangga dan warga desa. Nggak jarang dia mengemis demi menyambung hidup.

Meski hidup melarat, anak ini baik hati. Melihat sungai di dekat tempat tinggalnya sering meluap dan merendam jalanan, dia tergerak untuk melakukan sesuatu. Dengan tekun, bocah malang ini mengangkat batu besar dan menyusunnya di pinggir sungai.

Orang-orang bertanya apa yang pengin dia lakukan dengan baru-batu itu. Si bocah menjawab kalau dia pengin membangun jembatan agar warga melintas dengan leluasa, nggak terganggu genangan air lagi. Bukannya memperoleh dukungan, banyak orang yang malah menertawainya.

Patung Hakim Bao. (tridharma.or.id)
Patung Hakim Bao. (tridharma.or.id)

Cemoohan orang nggak membuatnya keder. Semangatnya bahkan menginspirasi banyak orang untuk membantu. Mereka terharu dengan apa yang dilakukan si bocah. Mereka pun ikut membangun jembatan.

Nasib buruk si bocah ternyata masih berlanjut. Ketika sedang memecah batu untuk jembatan, pecahan batu mengenai kedua matanya hingga buta. Warga sangat menyayangkan hidup si bocah dan menganggap Thian (Langit) nggak adil.

Mengapa anak yang begitu susah hidupnya dan berhati baik malah mendapat musibah? Di luar perkiraan, si bocah nggak mengeluh. Dia bahkan datang ke lokasi pembuatan jembatan setiap hari. Dengan meraba-raba, dia tetap membantu menyelesaikan jembatan.

Jembatan akhirnya selesai dibangun melalui gotong-royong warga. Mereka juga mengadakan syukuran dan berterima kasih pada si bocah yang kini buta. Bocah itu pun tersenyum bahagia.

Ketika semua orang sedang berpesta, mendadak turun hujan yang sangat lebat dan guntur menggelegar. Saking kerasnya, semua orang sampai menutup mata. Usai membuka mata, warga terkejut karena si bocah mati terpanggang petir. Kembali mereka menggerutu pada langit dan menuduh telah nggak adil.

Hakim Bao Protes pada Raja Neraka

Hakim Bao dalam sebuah opera. (S3d1m3n.wordpress)
Hakim Bao dalam sebuah opera. (S3d1m3n.wordpress)

Warga menyampaikan kejadian yang sangat memilukan ini kepada Hakim Bao yang mereka juluki Hakim yang Bersih dan Adil. Mereka berkata, “Mengapa orang baik tak memperoleh imbalan baik?” Mereka khawatir nggak ada lagi orang yang mau berbuat baik dan memilih berlaku jahat.

Hakim Bao tergugah dengan luapan emosi warga dan menuliskan 6 aksara yang berarti “Mana boleh berbuat jahat, tidak berbuat bajik?”

Sebenarnya, di dalam hati ia juga nggak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Sampai suatu ketika Kaisar mengundang Bao untuk melihat putranya yang baru lahir. Kaisar bingung mengapa putra mahkotanya menangis terus.

Bao mendekat dan melihat ada aksara yang dulu ia tulis di lengan si bayi. Hakim Bao kaget dan memegang bayi itu. Dalam sekejab, tulisan itu hilang.

Lukisan Raja Neraka sedang mengadili para arwah. (Tionghoa info/epochtimes)
Lukisan Raja Neraka sedang mengadili para arwah. (Tionghoa info/epochtimes)

Awalnya, Baginda khawatir akar rezeki putranya bakal hilang. Bao akhirnya menceritakan bagaimana ia pernah menulis aksara tersebut. Raja kemudian memerintahkannya menggunaan Bantal Mustika Yin-Yang untuk menyelidiki kasus ini ke alam baka.

Konon, bantal ini bisa membuat orang mendapatkan wangsit. Bao akhirnya berkelana sejenak ke alam baka dan menggugat Raja Neraka mengenai si bocah malang. Ternyata pada kehidupan lampau, si anak tersebut sering berbuat jahat sehingga karma buruknya sangatlah besar.

Dia harus hidup menderita selama tiga kehidupan untuk melunasi dosanya. Yang pertama, dia hidup cacat dan sebatang kara, kehidupan kedua mata buta dan sengsara, dan kehidupan ketiga harus mati disambar petir.

Anak itu pun lahir cacat kaki dan miskin. Tetapi, selama hidupnya,  bocah ini selalu berbuat baik sehingga Dewa mengatur agar dia bisa langsung melunasi karma kedua. Ketika kedua matanya buta, dia nggak juga menyalahkan Dewa dan masih berbuat baik. Maka, Dewa kembali memberi karma ketiga yaitu mati disambat petir.

Raja Neraka Giam Lo Ong (Yanluo Wang) kemudian bertanya pada Hakim Bao, “Tiga masa karma buruk telah dilunasi hanya dalam satu masa, coba bilang ini baik atau tidak?” Hal itu bisa terjadi karena seseorang terus melakukan kebaikan. Kebajikan itulah yang kemudian membuat si bocah reinkarnasi menjadi Putra Mahkota.

Pesan moral dalam kisah ini, jangan langsung menuduh Tuhan nggak adil ketika kebaikan yang kita lakukan nggak dapat mengusir musibah. Tertimpa musibah juga bukan alasan untuk pergi meninggalkan Tuhan dan berbuat jahat. Hm, menarik ya, Millens? (Tion/IB21/E03)