Misteri Kapitan Sepanjang, Sosok Sentral dalam Geger Pecinan

Misteri Kapitan Sepanjang, Sosok Sentral dalam Geger Pecinan
Cuplikan dalam litografi Jakob van der Schley (1715–1779) berdasar lukisan karya Adolf van der Laan (1690 –1742) tentang Massacre des Chinois—pembantaian orang-orang Cina di Batavia pada 9 Oktober 1740. (National Geographic/Rijksmuseum Amsterdam)

Sebelum sentimen anti-Tionghoa muncul, orang Jawa-Tionghoa pernah bahu-membahu melawan kekejaman VOC. Pemimpin perang itu dikenal dengan Kapitan Sepanjang. Namun, sosoknya masih misterius hingga kini.

Inibaru.id – Dalam Perang Sepanjang (1740-1743), Kapitan Sepanjang menjadi tokoh yang cukup misterius. Dialah yang menjadi pemimpin pasukan Tionghoa saat pertempuran melawan VOC tersebut. Usai kekalahan pasukan aliansi dan tertangkapnya Sunan Kuning, dia terus bergerak ke arah timur pulau Jawa.

Selama itu pula Kapitan Sepanjang terus menyerang pos-pos VOC, sebelum akhirnya menyeberang ke pulau Bali. Konon, di Pulau Dewata tersebut dia mengabdi pada sebuah kerajaan. Sayangnya, bagaimana keadaan dan akhir hidupnya nggak ada yang tahu. Nama dan nasibnya terlupakan.

Menurut beberapa sumber, Kapitan Sepanjang memiliki nama asli Souw (Oey) Phan Ciang, Wang Tai Pan, atau Tay Wan Soey. Sebagai informasi, nama Tay Wan Soey kali pertama disebut sebagai pentolan pemberontak Tionghoa. Pada 5 Oktober 1740 silam, Belanda pengin mengajaknya berunding tapi ditolak oleh Tay Wan Soey (Didi Kwartanada dalam Pengantar “Geger Pacinan 1740-1743").

Beberapa ahli sejarah, antara lain Prof BJ Veth dan du Bois berpendapat Tay Wan Soey adalah saudara lain ibu dari Kaisar Tiongkok bernama Kin Lung atau Kian Liong (Mandarin: Qian Long).

Kin Lung merupakan salah satu kaisar terbesar dinasti Qing yang dikuasai bangsa Manchu. Tay Wan Soey dibuang ke luar Tiongkok karena dicurigai hendak memberontak.

Sejarah Perang Sepanjang

Monumen Laskar Tionghoa di TMII. (Tirto/Petrik Matanasi)
Monumen Laskar Tionghoa di TMII. (Tirto/Petrik Matanasi)

Jangan dikira hidup warga keturunan Tionghoa selalu enak. Mereka juga mengalami penindasan-penindasan ketika Belanda berkuasa. Karena terus menderita, orang-orang Tionghoa di Batavia melakukan perlawanan pada Oktober 1740. Mereka menyerang berbagai aset milik VOC.

Tentu saja Kompeni nggak diam saja. Mereka membalas dengan lebih kejam. Banyak penduduk Tionghoa yang dibantai. Jumlahnya pun nggak main-main. Diperkirakan ada 10.000 orang termasuk anak-anak yang harus meregang nyawa di tangan Kompeni atau pihak yang ditugasi melakukan eksekusi.

Peristiwa ini disebut sebagai De Chinezenmoord atau 1740 Batavia Massacre: Pembantaian Orang-orang Cina di Batavia.

Kejadian ini memicu gerakan berantai selama tiga tahun berikutnya di bawah pimpinan Kapten Sepanjang. Bersama orang-orang Tionghoa yang selamat, Kapten Sepanjang berjalan ke arah timur dan memperingatkan warga Tionghoa lain yang mereka temui. Mereka menghimpun kekuatan di setiap kota yang mereka lalui.

Usaha mereka nyatanya nggak hanya mengundang simpati warga keturunan. Para bupati di wilayan Mataram pun tergerak untuk ikut membantu. Kesewenang-wenangan Belanda memang sudah kelewatan pada masyarakat Jawa. Bahkan, Raja Mataram Pakubuwono II ikut dalam gerakan ini. Maka, lahirlah persekutuan pasukan Jawa-Tionghoa yang bikin Kompeni sangat kerepotan.

Hampir di seluruh pantai utara Jawa dari Batavia, Karawang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Kudus, Rembang, Lasem, Tuban, Surabaya, hingga Pasuruan larut dalam peperangan. Perang juga pecah di pedalaman, di sekitar pusat Mataram, yang sekarang dikenal sebagai Yogyakarta, Surakarta, Banyumas hingga Pacitan, Madiun, Malang (Iwan Santosa, Catatan Editor dalam “Geger Pacinan”).

Pasukan Jawa Terpecah

Mungkin, sejarah akan berbeda jika Sunan Pakubuwono II nggak berbalik arah. Dia yang tadinya mendukung persekutuan Jawa-Tionghoa dan melawan VOC selama enam bulan menjadi pro VOC. Para bawahannya kaget dan bingung. Sebagian ada yang mengikuti Sunan, sebagian lagi tetap ikut melawan VOC.

Biar nggak oleng, Aliansi Jawa-Tionghoa kemudian mengangkat Raden Mas Garendi, cucu Amangkurat III, sebagai raja ‘tandingan’ dengan gelar Sunan Amangkurat V. Serangan-serangan pasukan ini akhirnya dapat merebut keraton Mataram di Kartasura pada pertengahan tahun 1742.

Sayang, enam bulan kemudian, pasukan Madura di bawah pimpinan Sunan Pakubuwono II merebut kembali tahtanya dengan bantuan sobat barunya, VOC.

Sunan Amangkurat V, yang juga dikenal sebagai Sunan Kuning, diusir dan meneruskan perlawanan secara gerilya. Nahas, pada 1743, Sunan Amangkurat V tertangkap di Surabaya dan dibuang ke Sri Lanka. Perang Sepanjang akhirnya padam pada 1743.

Perang ini barangkali menjadi salah satu pertempuran yang menyatukan Jawa dengan Tionghoa. Delapan puluh tahun setelah Perang Sepanjang, sentimen anti-Tionghoa muncul. Sentimen ini mewarnai Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Nyawa orang Tionghoa yang nggak bersalah kembali melayang sia-sia.

Duh, jangan sampai intoleransi seperti ini terulang kembali ya, Millens! (Ein/IB21/E03)