Mendengar Suka Duka Mereka yang Bekerja dari Rumah

Mendengar Suka Duka Mereka yang Bekerja dari Rumah
Apa saja suka duka WFH? (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Bekerja dari rumah membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi dengan kebiasaan yang baru. Hal ini tentu menimbulkan pengalaman negatif serta positif. Apa saja ya?

Inibaru.id - Serba-serbi bekerja dari rumah tampaknya menimbulkan berbagai pengalaman baru. Nggak cuma harus membiasakan diri dengan pola yang baru, sistem kerja yang populer karena pandemi corona ini pun punya berbagai sisi negatif dan positif yang menarik untuk diketahui.

Kala itu saya bertemu tiga staf muda yang bekerja dalam satu lembaga, Legal Resource Center untuk Keadilan Gender dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah. Mereka bertiga yang punya kesibukan superpadat ini mengaku kini harus menyelesaikan pekerjaan via daring.

Ardany Nuril Fahma misalnya, perempuan yang biasanya "beredar" di Grobogan, Semarang dan Kendal untuk menyelesaikan tugasnya di divisi advokasi dan kebijakan ini kini menyelesaikan semua pekerjaannya via daring.

Begitu juga Lenny Ristiyani yang mobile ke berbagai kota dan kabupaten di Jawa Tengah mendampingi korban kekerasan seksual dalam sidang, kini cuma bisa mendampingi lewat konferensi video. Sedangkan Pujiharti Romadhani, yang bekerja untuk divisi informasi dan dokumentasi ini mengaku harus stand by dari pagi hingga malam.

WFH Bukan Berarti Liburan

Meskipun berbagai pekerjaan bisa dilakukan dari rumah, bukan berarti mereka nggak mengalami kendala lo, Millens! Salah satu kendala yang sering terjadi adalah komunikasi antarpegawai yang sulit. Aturan kantor tentang WFH yang kurang mengikat bikin karyawan jadi semaunya termasuk dalam hal menjaga komunikasi dan jam kerja.

Hal inilah yang dikeluhkan oleh Lenny, dia mengaku sering kesulitan jika harus berkoordinasi dengan pegawai yang pulang kampung dan sulit mendapatkan sinyal.

“Lama responsenya mengingat beberapa staf lain yang pulang ke rumah dan sulit dihubungi,” keluhnya.

Kadang jaringan internet jadi kendala saat video telekonferensi. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Kadang jaringan internet jadi kendala saat video telekonferensi. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Hal ini tentu menghambat kerjanya untuk mendampingi korban kekerasan seksual yang butuh respon cepat. Dia menyesalkan pada sikap pegawai yang menganggap WFH adalah momen untuk pulang kampung. Secara nggak sengaja, orang-orang itu malah menghambat pekerjaannya.

“Yang sering pulang kampung juga harusnya menjaga agar tetap berkoordinasi. Lembaga juga harus memberikan peringatan dan memberi tahu bahwa WFH bukanlah liburan,” sahut Ardhany.

Jadi Lebih Hemat

Meskipun banyak kekurangan yang dihadapi selama WFH, ketiganya mengaku enjoy menjalaninya. Selama WFH ini mereka mengaku senang karena isi kantong tetap tebal karena bisa menghemat bensin. Selain itu, jarak tempuh menuju dan pulang dari kantor juga bisa ditiadakan.

“Kita juga hemat tenaga dan bensin karena lokasi kantor juga jauh,” tutur Lenny

Meskipun pekerjaan kantor bisa saja dikerjakan hingga larut malam karena menunggu respon dari karyawan lain, mereka mengaku bisa mengerjakan hal lain selama WFH seperti memasak untuk makan siang bersama.

“Di rumah bisa disambi, walaupun bisa sampek malam,” imbuh Lenny.

Dari segala suka duka WFH yang dirasakan, mereka bertiga kompak berharap agar virus corona bisa segera enyah dari Indonesia sehingga berbagai kegiatan bisa berjalan normal kembali.

“Semoga Covid-19 segera hilang karena perempuan juga terdampak di perekonomian, krisis pangan dan meningkatnya kekerasan terhadap perempuan,” tutup Puji.

Kalau suka duka yang kamu alami selama bekerja di rumah apa, Millens? (Zulfa Anisah/E05)