Geliat Teman-Teman Tuli Agar Dapur Tetap Mengepul

Geliat Teman-Teman Tuli Agar Dapur Tetap Mengepul
Vita, salah seorang teman tuli yang beralih profesi menjadi penjahit masker. (Inibaru.id/ Audrian F)

Tak ada rotan, akar pun jadi. Seperti itulah peribahasa yang tepat menggambarkan kehidupan terkini teman-teman tuli dari Gerkatin ini. Mereka memberi saya pelajaran penting agar dapat tetap bertahan di tengah kesulitan.

Inibaru.id - Derit mesin jahit terdengar ritmis di sudut rumah Imam. Vita, istri Imam memang sedang menjahit. Pasangan itu saling bekerja sama membuat masker. Imam membuat pola sementara tugas Vita menjahit. Di tengah pandemi seperti ini, Imam sempat dirumahkan dari pekerjaannya. Apa yang kini dikerjakannya merupakan caranya untuk menyambung hidup.

Imam dan Vita mungkin sedikit contoh orang yang bisa menangkap peluang. Mereka membuat masker, perlengkapan yang kini wajib dimiliki semua orang. Melalui Gerakan Kesejahteraan untuk Tuna Rungu (Gerkatin), Imam, Vita bersama para teman tuli lainnya di Kota Semarang diberdayakan untuk memproduksi masker. Sebelumnya, mereka berprofesi sebagai penjahit konveksi.

Selasa (14/4) saya menemui pasangan istri suami ini di kediamannya yang berada di Jalan Tlogosari Raya, Kota Semarang. Kami sempat kesulitan komunikasi. Namun dengan beberapa siasat, informasi dapat tersampaikan.

“Saya cuma sambilan. Lagi diliburkan soalnya karena corona,” kata Imam begitu saya datang. Di Gerkatin, dia menjabat sebagai wakil ketua.

Vita memproduksi masker dari rumah. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Vita memproduksi masker dari rumah. (Inibaru.id/ Audrian F)

Bahan masker yang Imam gunakan dari kain perca. Awalnya dia mendapat bahan dari bantuan Gerkatin. Namun karena kemudian hasilnya menguntungkan, Imam jadi mencoba mencari bahan sendiri.

Pada hari berikutnya, saya mengunjungi Hetty. Perempuan berusia 48 tahun tersebut juga bahu-membahu bersama suaminya, Agus membuat masker. Sebelum ini, pasangan tersebut menjahit gaun pengantin atau kebaya.

“Semua jahitan kebaya lagi sepi karena corona,” ucap Hetty terbata-bata.

Produksi masker jadi lahan usaha baru bagi teman-teman tuli Kota Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Produksi masker jadi lahan usaha baru bagi teman-teman tuli Kota Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Seperti Imam dan Vita tadi, Hetty dan Agus juga bergiliran membuat pola dan menjahit. Sejauh ini Hetty sudah mendistribuskan 142 masker.

Selama memproduksi masker, Hetty mengeluh kesulitan dalam mencari bahan. Mungkin karena sudah menjadi trend, banyak juga orang yang mencari bahan yang sama.

“Kain katun sudah mulai susah. Nggak ada warna yang cocok. Karet hitam pun juga ikut habis,” ungkap Hetty.

Hetty menyalurkan masker bikinannya melalui dua pintu yaitu Gerkatin dan jalur mandiri. Maskernya nggak cuma beredar di Kota Semarang tetapi juga Bogor dan Jakarta.

Bebe Stevia mengkoordinir pembuatan masker teman-temannya. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Bebe Stevia mengkoordinir pembuatan masker teman-temannya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Menurut saya, apa yang dilakukan mereka sangat menginspirasi. Manusia memang nggak selayaknya berpangku tangan dan mengeluh mengenai keadaan. Setiap kesulitan pasti ada jalan. Tampaknya, saya harus berterima kasih pada Bebe Stevia, sekretaris Gerkatin. Dialah orang yang memberitahu saya mengenai para teman tuli yang memproduksi masker tadi. Dia juga ikut mencari bahan masker dan mengkoordinasi penyaluran pesanan.

“Biasanya teman-teman ambil bahan ke rumah saya. Kalau ada yang nggak mampu ya saya yang mengantar,” ujar Bebe saat ditemui di rumahnya, Jalan Tentara Pelajar pada Sabtu (11/4).

Kamu juga tertarik bikin masker nggak, Millens? (Audrian F/E05)