Cerita Dwi Mendongeng untuk si Jabang Bayi

Cerita Dwi Mendongeng untuk si Jabang Bayi
Dwi Yuliastuti merasakan sendiri manfaat stimulus dongeng yang diberikan pada anak sejak dini. (Inibaru.id/ Rafida Azzundhani)

Mendongeng, barangkali menjadi kegiatan yang sudah nggak terlalu populer. Padahal ada banyak manfaat yang bisa didapat dari kegiatan ini. Dwi sudah merasakannya. Hm, kira-kira seperti apa ceritanya?

Inibaru.id - Dwi Yuliastuti punya keinginan "kecil". Dia pengin anak-anak tumbuh dengan budaya mendongeng. Menurutnya, amanat dalam dongeng dapat membentuk karakter anak. Karena itu, dia dan beberapa rekannya menjalankan Omah Dongeng Marwah (ODM).

Berada di Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Omah Dongeng Marwa seperti memberi penawaran menarik. Salah satu fokus mereka adalah melestarikan budaya mendongeng.

Dwi merasa prihatin lantaran budaya mendongeng semakin tergerus zaman. Anak-anak menghabiskan banyak waktu di depan ponsel pintar sementara orang tua mereka nggak ada waktu untuk mendongeng.

“Budaya mendongeng saat ini sudah mulai luntur. Ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa orang tua saat ini enggan untuk mendongengi anak-anak mereka dalam kesehariaan,” ujarnya.

Menurut Dwi kurangnya pemahaman masyarakat terlebih orang tua tentang manfaat dongeng bagi tumbuh kembang anak, menjadi salah satu faktor penyebab dongeng mulai ditinggalan.

Di Omah Dongeng Marwah, anak dilatih untuk berani tampil di depan umum. (Omah Dongeng Marwah)
Di Omah Dongeng Marwah, anak dilatih untuk berani tampil di depan umum. (Omah Dongeng Marwah)

Selain itu, kurangnya bahan bacaan, buku dongeng juga turut menjadikan alasan orang tua nggak membacakan dongeng anak. Padahal sebenarnya ada banyak sarana untuk menemukan dongeng. Yap, dongeng nggak cuma didapat dari buku dongeng, adabanyak sumber lain untuk menyetok cerita. Jadi, selalu ada cara.

Sebagai orang tua, Dwi telah merasakan besarnya manfaat dongeng bagi tumbuh kembang anaknya.

“Kebetulan saya mengalami sendiri. Ketika saya hamil, setiap malam saya berinteraksi dan memberikan stimulus dongeng kepada janin. Kalau nggak saya yang mendongeng ya papahnya atau kakaknya,” ungkap Dwi.

Efek stimulus terlihat, anaknya yang saat ini belum genap berusia 3 tahun sudah lancar berbicara dan menguasai banyak kosakata.

“Dan hasilnya itu si kecil, saat ini sudah bicara lancar dan kosakatanya banyak, dia sudah bisa menceritakan kejadian. Ketika membaca buku, walaupun dia belum bisa baca, dia bisa mendongeng. Pura-pura gitu, misalnya ‘Bapak tani ngajak ini…’,” lanjutnya menirukan celotehan sang anak.

Satria, salah seorang pendamping di Omah Dongeng Marwah. (Inibaru.id/ Rafida Azzundhani)
Satria, salah seorang pendamping di Omah Dongeng Marwah. (Inibaru.id/ Rafida Azzundhani)

Dwi menganggap perkembangan putranya lebih pesat dari anak yang seusia. Banyak anak seusia putranya belum bisa berbicara lancar dan menguasai banyak kosakata. Selain itu, dongeng juga menjadi sarana efektif untuk membangun karakter anak. Melalui dongeng banyak sekali pesan moral yang dapat dengan mudah ditangkap oleh anak.

Ya, anak akan lebih mudah mencerna nasihat dan amanat melalui cerita dalam dongeng.

“Di dongeng kan kita selipi amanatnya ya, jadi secara nggak sadar akan terbawa dalam kehidupan sehari-hari anak,” kata Dwi.

Dia menyayangkan saat ini budaya mendongeng semakin tergerus zaman. Di sinilah peran ODM dalam menjaga budaya mendongeng agar nantinya tetap ada untuk generasi penerus. ODM ingin mendekatkan anak kembali kepada dongeng dan mencintainya.

Di sini, anak-anak dikenalkan dengan tradisi mendongeng. “Dari dongeng itu bisa membuat anak-anak Indonesia lebih berkarakter,” pungkasnya.

Kalau kamu punya pengalaman didongengi nggak, Millens? (Rafida Azzundhani/E05)