Pendidikan Tinggi Tak jamin Kebal Hoax

Dewasa ini hampir setiap orang tak lepas dari akses terhadap media. Mereka membaca buku atau koran, mendengarkan radio, menonton televisi, atau media massa lainnya. Tapi, tak ada jaminan bahwa seseorang yang cerdas juga memiliki kecerdasan bermedia.

Pendidikan Tinggi Tak jamin Kebal Hoax
tak ada jaminan cerdas juga memiliki kecerdasan bermedia. (Foto : google)

inibaru.id - Dewasa ini hampir setiap orang tak lepas dari akses terhadap media. Mereka membaca buku atau koran, mendengarkan radio, menonton televisi, atau media massa lainnya. Tapi, tak ada jaminan bahwa seseorang yang cerdas juga memiliki kecerdasan bermedia.

Kita sepakat bahwa banyak produk media yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang hendak dibangun. Tak sedikit produk media justru mengenalkan bahkan mengajarkan gaya hidup hedonis, pornografi dan pornoaksi, agresivitas, bullying, politisasi, dan konstruksi lain dengan agenda tersembunyi. Banyak pihak melakukan persuasi kepada khalayak melalui tayangan yang “cantik” di media, tetapi sebetulnya punya tujuan yang kurang baik.

Tapi kendati demikian, kita tak bisa begitu saja menganggap media sebagai hal yang harus dihindari. Pasalnya, hal itu hanya akan menghilangkan peluang untuk mengasah kecerdasan majemuk kita.

Melihat kenyataan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa tak dimungkiri media memiliki dua sisi berlawanan yang berpotensi memunculkan masalah baru. Belum lagi menjamurnya peredaran informasi hoax di media sosial dan aplikasi pesan singkat. Kita seakan dituntut cerdas untuk menyikapi dan menyiasati realitas media agar kita mampu mengoptimalkan peran media dalam menumbuh-kembangkan kecerdasan kita.

Unik

Penyebaran informasi hoax di media sosial belakangan ini bisa dibilang unik. Mengapa begitu? Karena ternyata tingkat pendidikan tak menjamin seseorang kebal terhadap hoax. Buktinya ada sejumlah orang lulusan perguruan tinggi luar negeri ternama, meski mereka sangat ahli dalam bidangnya, namun dia bisa termakan hoax dalam bidang lain.

Ada pula yang merupakan tokoh agama yang alim dan disegani jamaahnya, namun terkadang ia juga terjebak menyebarkan berita hoax. Apalagi masyarakat umum yang sering kali belum memahami cara untuk mengonfirmasi kebenaran sebuah berita.

Penyebaran berita hoax ini merebak sejak media sosial semakin popular di kalangan masyarakat. Banyaknya akun anonim dan akun-akun dengan latar belakang tidak jelas memiliki kesempatan yang sama untuk membuat postingan berupa kalimat-kalimat bohong dan provokatif.

Bahkan sejumlah orang tak bertanggung jawab menggunakan celah ini untuk menggunakan media sosial sebagai sarana menyebarkan fitnah, hasut dan hoax. Biasanya hal tersebut semakin parah menjelang musim-musim pemilihan umum.

Tak hanya digunakan sebagai ajang kampanye positif. Banyak oknum yang menggunakan fitnah dan hoax untuk menyerang lawan politiknya sebagai bentuk kampanye negatif. Fenomena semacam ini mulai muncul pada Pilgub DKI 2012 dan menjadi sangat masif ketika Pilpres 2014. Dan yang terhangat adalah maraknya persebaran informasi hoax terkait Pilkada DKI 2017.

Itu sebabnya agar penyebaran hoax tak semakin merajalela sejumlah netizen secara sporadis melakukan perlawanan terhadap hoax. Banyak netizen yang dengan panggilan hati mulai melawan setiap hoax yang berseliweran. Bentuk perlawanan itu berkembang menjadi pembentukan grup atau Fanpage.

Untuk membantu menyukseskan upaya kelompok netizen yang tergabung dalam grup-grup perlawanan hoax tersebut Anda bisa bergabung digrup sehingga Anda bisa ikut tabayun mencari kebenaran dari informasi hoax yang tersebar. Tabayun dengan memeriksa kebenaran berita sebelum menyebarkannya dengan emosional adalah salah satu bentuk kecerdasan bermedia yang perlu dilatih oleh masyarakat. (IP)