Pakai PLTMH, Desa di Kulonprogo ini Nggak Pernah Alami Mati Listrik

Pakai PLTMH, Desa di Kulonprogo ini Nggak Pernah Alami Mati Listrik
Rejo Handoyo dan listrik PTMH-nya. (HarianJogja)

Warga Dusun Kedungrong, Desa Purwoharjo, Samigaluh, Kulon Progo, DIY, menggunakan sumber listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Hal ini membuat mereka lebih hemat biaya listrik. Selain itu, mereka juga nggak perlu lagi khawatir dengan pemadaman.

Inibaru.id - Warga Dusun Kedungrong, Desa Purwoharjo, Samigaluh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta barangkali tidak pernah merasakan mati listrik. Sebab, selain dialiri listrik dari PLN, mereka juga mendapatkan pasokan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang sudah dibangun sejak 2012.

Karena punya dua sumber listrik, bahkan ketika musim hujan warga desa ini nggak bakal khawatir bakal ada pemadaman. Kalau listrik PLN padam, ya tinggal pindah saja ke sumber listrik dari PLTMH.

Listrik alternatif ini awalnya banyak diragukan masyarakat setempat. Hanya sedikit yang memakainya dengan alasan keamanan. Namun, setelah terbukti bermanfaat, orang-orang yang awalnya ragu akhirnya tertarik. Terkini, sudah ada 50 keluarga  yang memakainya.

 “Karena juga jauh lebih murah, satu selapan (35 hari) itu cuma bayar Rp 12 ribu. Selain murah juga andal,” kata Rejo Handoyo, pengelola PLTMH Kedungrong ketika ditemui, Rabu (3/2/2021).

Kistiyah, salah seorang warga yang menggunakan listrik PLTMH untuk usaha jahit. (Kumparan)<br>
Kistiyah, salah seorang warga yang menggunakan listrik PLTMH untuk usaha jahit. (Kumparan)

Harga yang murah itu nggak mengurangi kualitas sumber listrik. Daya yang didapat warga pun hampir sama dengan listrik PLN. Hal itu pun bikin warga di Kedungrong bergelimang listrik.

 “Saya pakai TV, speaker aktif, kulkas, pompa air, sama mesin las masih kuat,” ujar Rejo.

Sementara bagi Kistiyah, menggunakan PLTMH membuatnya lebih hemat dalam urusan membayar listrik. Kalau sebelumnya dia harus menyiapkan uang Rp 170 ribu per bulan, kini dia hanya mengeluarkan Rp 140 ribu untuk dua sumber listrik.

 “Setelah ada PLTMH baru berani beli mesin jahit, soalnya sudah nggak mikirin lagi biaya listrik,” kata Kistiyah.

Ada Kendala di Balik Berbagai Kemudahan

Meski sangat membantu, ternyata ada kendala yang dialami warga dalam mengelola PLTMH, yakni adanya sampah yang terkadang menghalangi gerak kincir sehingga putarannya jadi terhambat. Kumpulan sampah itu berasal dari sungai Progo yang masuk ke saluran irigasi.

 “Itu tidak bisa lepas sendiri, jadi harus diambilin sampah-sampahnya, dibersihkan supaya putarannya normal lagi,” ujar Rejo Handoyo.

Saat melakukan pembersihan, mau nggak mau kincir harus dimatikan. Otomatis listrik harus dipadamkan. Biasanya, kegiatan bersih-bersih ini dilakukan sekitar pukul 16.00 sampai 17.00 sore.

Rejo Handoyo ingin warganya menggunakan PLTMH untuk usaha. (Harian Jogja)<br>
Rejo Handoyo ingin warganya menggunakan PLTMH untuk usaha. (Harian Jogja)

Kala musim hujan, aktivitas pembersihan ini harus lebih sering dilakukan jika nggak ingin kincir macet. Sementara saat musim kemarau, pembersihan cukup dilakukan dua hari sekali.

Selain sampah, kendala lain dalam mengelola PLTMH adalah jika ada pembangunan di atasnya. Tahun lalu, PLTMH ini sempat nggak beroperasi 3 bulan karena pembangunan tebing irigasi. 

 “Biasanya setiap tanggal 1 itu, di atas dikuras, sampahnya dibuang, jadi alirannya kan di sini berhenti. Selain itu, jarang sekali ada masalah,” kata Rejo Handoyo.

Dimanfaatkan untuk Usaha

Hal lain yang jadi perhatian warga adalah belum adanya sistem penyimpanan energi listrik. Meski hasil listrik PLTMH melimpah, banyak yang akhirnya hanya dibuang ke ballast karena nggak dipakai. Jika sampai ada penyimpanan, bisa saja listrik tersebut dipakai untuk mesin pengering gabah atau hal-hal lainnya. 

Sayangnya, ada biaya yang nggak sedikit untuk mengurus penyimpanan energi listrik yang nggak terpakai ini. Apalagi, ada sejumlah peralatan penunjang lain yang juga harus disediakan.

 “Kalau punya duit, sudah saya bikin," pungkas Rejo.

Sejauh ini, warga banyak yang mulai memaksimalkan listrik dari PLTMH untuk membuka usaha seperti bengkel, produksi kue, menjahit, hingga kerajinan. Hanya, jumlahnya memang masih sedikit.

Wah, ide penggunaan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) seperti ini mungkin bisa diaplikasikan di banyak daerah lain, ya, Millens? Banyak manfaatnya! (Kum/IB28/E07)