Bertahan dengan Mengais Kepingan di Persimpangan Lampu Merah Kota Semarang

Persimpangan jalan atau pemberhentian lampu merah di Kota Semarang acap digunakan orang untuk menggantungkan hidup. Menolak dikatakan pemalas, mereka mencari cara, mulai dari menjadi penari dadakan, menjadi manusia silver, hingga main biola. Satu tujuannya, bertahan hidup dari kepingan di persimpangan lampu merah.

Inibaru.id - Azan Zuhur berkumandang saat Tri dan kawan-kawannya menghentikan alunan dendang musik angklung di perempatan Jalan Jenderal Pol Anton Sujarwo, Srondol Wetan, Banyumanik, Kota Semarang. Perkusi seperti angklung, tamborin, drum kecil, dan drum gentong, langsung saja diletakan.

Uang receh kumal yang terkumpul setengah hari pun dikumpulkan untuk dihitung. Teko kecil berisi es teh ditenggak bergilir oleh para personel Casper, grup musik angklung yang digawangi Tri, untuk mengobati haus yang mereka tahan-tahan sedari pagi "manggung" di persimpangan.

“Azan berhenti dulu. Takut dosa!” kelakar Tri saat saya temui pada Kamis (22/10/2020), yang mengaku sudah hampir dua tahun mengamen bersama Casper di Banyumanik. Sebelumnya, mereka "manggung" di jalanan pusat Kota Semarang.

Tri tinggal di Barutikung, Semarang Utara. Cukup jauh dari tempat ngamennya sekarang. Namun, menurutnya tempat ngamen yang mulai dijajakinya sejak 2018 itu jauh lebih "aman" karena risiko kena angkut Satpol PP lebih kecil ketimbang di pusat kota.

“Kalau di Banyumanik saya sudah ada link dengan petugas. Jadi kalau ada operasi sudah dikabari,” katanya. Saya tersenyum simpul mendengarnya.

Dalam sehari, Tri dkk bisa mendapat penghasilan sekitar Rp 200 ribu hingga 300 ribu. Namun, itu belum bersih, karena masih dipotong penyewaan alat, penitipan, dan trasportasi. Setelah dipotong, penghasilan bersih tersebut dibagi personel Casper yang berjumlah lima orang.

Tri dkk hanyalah satu dari banyak orang yang mencoba bertahan dengan mengais penghidupan di persimpangan lampu merah Kota Semarang. Dalam seminggu terakhir, saya mencoba membidik para seniman jalanan yang ngupoyo upo di sana.

Seniman lain yang saya temui adalah kelompok tari jalanan di perempatan Jalan Brigjen Sudiarto. Mereka adalah Kadimin, Ari, dan Tegar. Nama terakhir masih sangat muda. Namun, siapa menyangka beban hidup pemuda 18 tahun tersebut begitu berat?

Di Semarang, Tegar hidup berdua dengan ibunya di sebuah kos-kosan. Putus sekolah sejak SD hingga sekarang, dia mengaku masalah keluarga menjadi penyebabnya. Namun, dia enggan menjelaskannya lebih detail. Ya, sudahlah, itu privasinya.

Namun, Tegar bersyukur kedua adik perempuannya kini ada di pondok pesantren, bukan di jalanan seperti dia.

Menjadi penari jalanan, dalam sehari dia bisa mengantongi uang sekitar Rp 60 ribu hingga 70 ribu. Selain untuk makan sehari-hari, sebagian penghasilannya dia gunakan untuk membantu membayar kos saban akhir bulan. Dia harus menopang kehidupan keluarga lantaran ibunya juga nggak kerja.

“Nggak apa-apa kerja begini, yang penting halal,” ujar lelaki yang mengaku sebetulnya nggak terlalu menguasai gerakan-gerakan tari. Namun, daripada sekadar meminta-meminta, menari lebih baik karena menunjukan sedikit kerja keras.

Tegar sebetulnya pernah bekerja di sebuah pabrik roti. Namun, dia memilih resign karena nggak ingin terpengaruh teman kerjanya yang punya kebiasaan buruk menenggak minuman keras. Sungguh santun!

Mengais kepingan di persimpangan lampu merah juga dilakukan Agus. Frustasi dengan menjadi kondektur bus membuat lelaki yang biasa mangkal di sekitar Terminal Penggaron itu mengubah diri menjadi "manusia silver".

Sejak pandemi Covid-19, manusia silver memang menjadi tren baru di persimpangan lampu merah. Orang-orang mengecat diri dengan warna perak, lalu berjalan di persimpangan membawa kotak, meminta recehan dari para pengendara. Nah, Agus si Manusia Silver adalah salah satunya.

Semula, saya berpikir, apa sulitnya pekerjaan itu? Namun, saya terkejut saat mengetahui bahwa Agus menggunakan cat kayu atau besi untuk mengecat tubuhnya.

“Ya, gatal (memakai cat besi), tapi mau gimana lagi?” tuturnya, retoris. Saya ingin sekali mengatakan cat itu buruk untuk kulit, tapi saya urungkan. Pekerjaan itulah yang kini menyelamatkan hidupnya dan sepertinya itu cukup bagi dia.

Tri, Tegar, dan Agus, hanyalah potongan kecil dari kue berisikan kisah-kisah getir di jalanan. Banyak profesi yang saya temukan di persimpangan jalan. Ada Satria si violinis, para pengasong, penjual koran, pengemis, dan banyak lagi.

Saya pikir, nggak ada orang yang minta dilempar ke dunia untuk hidup susah sembari menunggu ajal. Mereka, yang mencari kepingan di persimpangan, cuma belum punya pilihan lain yang memungkinkan. Kalau pun memungkinkan, mereka juga pengin mentas, menjadi pengusaha atau kembali sekolah.

Jika bertemu mereka di jalanan Kota Semarang, bukalah jendela mobil atau kaca helmmu. Sapalah dan beri mereka seikhlasnya. Bukan semata karena pahala atau iming-iming surga, tapi untuk menyambung hidup mereka, biar asa mereka nggak redup. Saya kira, itu cukup! (Audrian F/E03)