Punya Garis Pantai Terpanjang di Dunia, Kok Bisa Indonesia Masih Impor Garam?

Punya Garis Pantai Terpanjang di Dunia, Kok Bisa Indonesia Masih Impor Garam?
Ilustrasi: Indonesia masih impor garam meski punya garis pantai terpanjang di dunia. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Setelah Kanada, Indonesia adalah pemilik garis pantai terpanjang di dunia. Sayangnya, fakta ini nggak selaras dengan kebijakan pemerintah yang membuat kita masih impor garam. Apa alasan dari keputusan untuk masih mengimpor ini, ya?

Inibaru.id – Indonesia adalah salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Logikanya, kita punya keunggulan dalam hal hasil laut, termasuk garam. Namun, realitanya hingga sekarang Indonesia masih impor garam. Kok bisa, ya?

Tahu nggak, seberapa panjang total garis pantai di Indonesia? Yap, panjangnya adalah 99.093 km. Hanya, kalau menurut Kepala Badan Informasi Geospasial Priyadi Kardono, kalau pemetaan dilakukan dengan lebih mendetail, bisa jadi panjang garis pantai di Indonesia melebihi 100 ribu km. Hal ini membuat Indonesia jadi negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada.

Sebenarnya, saat Susi Pudjiastuti masih menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan pada 2015 lalu, dia sempat mengutarakan keinginan menjadikan Indonesia swasembada garam. Sayangnya, hingga sekarang hal itu nggak terwujud. Bahkan, berdasarkan data 2020 lalu, setidaknya 2,61 juta ton garam diimpor ke Tanah Air, meningkat dari hanya 2,59 juta ton pada 2019 lalu.

Pada Januari dan Februari 2021 lalu saja, lebih dari 80 ribu ton garam sudah diimpor Indonesia. Jumlahnya memang menurun jika dibandingkan periode yang sama pada 2020, tapi tetap saja kita masih ketergantungan dengan garam impor. Ironis?

Kementerian Kelautan dan Perikanan mengaku Indonesia masih kekurangan pasokan garam. Akhirnya, pemerintah pun memutuskan untuk mengimpor demi menutupi kekurangan tersebut. Hal ini pun sudah diizinkan oleh Undang-undang Cipta Kerja.

Petani garam di Indonesia  masih memakai cara tradisional sehingga kualitas dan kuantitas produksi garamnya rendah. (Flickr/

Brian Evans)
Petani garam di Indonesia  masih memakai cara tradisional sehingga kualitas dan kuantitas produksi garamnya rendah. (Flickr/ Brian Evans)

Pada Oktober 2020 lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut produksi garam Indonesia memang cenderung rendah. Sebagai contoh, jika kebutuhan garam Tanah Air pada 2020 lalu mencapai 4 juta ton, Indonesia baru bisa memproduksi garam sendiri sebanyak 2 juta ton. Bahkan, data pada September 2020 lalu menguak fakta bahwa lebih dari 738 ribu ton garam produksi dalam negeri justru nggak diserap industri lokal.

Lantas, kok bisa produksi garam lokal masih rendah? Nah, Jokowi punya alasannya. Yang pertama, kualitas garam nasional cenderung masih rendah. Penggunaan teknologi untuk memproduksi garam seperti washing plant juga belum maksimal. Hal yang sama juga terjadi pada bagian pasca-produksi seperti buruknya kualitas dan kuantitas gudang untuk menyimpan garam.

Lahan produksi garam di Indonesia juga nggak banyak meski sudah menyebar di 10 provinsi. Kebanyakan petani garam masih memakai metode lawas, yakni menguapkan air laut. Padahal, tambak garam jumlahnya semakin menurun. Selain itu, teknik membuat garam ini hanya bisa dilakukan di musim kemarau.

Pemerintah sendiri dianggap belum serius melakukan modernisasi produksi garam nasional. Dukungan terhadap petani garam masih rendah sehingga mereka pun seperti memproduksi garam seadanya, dengan cara seadanya, dan hasilnya adalah kualitas garam yang juga seadanya.

Jadi, kalau ada lagi yang bertanya mengapa Indonesia masih impor garam meski kita punya garis pantai terpanjang di dunia? Sudah tahu kan apa saja alasannya, Millens? (Cnb,Sol/IB09/E05)