Ritual Manisan, Gambaran Manisnya Hubungan Petani Tlogomulyo Dengan Tuhan

Para petani di Dusun Tanggung punya tradisi unik setelah masa tanam. Namanya tradisi Manisan. Seperti apa sih tradisi ini?

Ritual Manisan, Gambaran Manisnya Hubungan Petani Tlogomulyo Dengan Tuhan
Warga sedang meletakkan bucu saat tradisi Manisan. (Jateng.merdeka.com)

Inibar.id - Temanggung memang nggak pernah kehabisan cerita. Selain pemandangan Gunung Sindoro-Sumbing, Bukit Petarangan, ada tradisi Manisan yang berlangsung selama dua hari berturut-turut, bisa jadi daya tarik bagi wisatawan, lo! Tradisi ini dilakukan warga Dusun Tanggung, Desa Tanjung Sari, Kecamatan Tlogomulyo.

Manisan diadakan setelah masa tanam padi. Melalui tradisi ini, masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan bertani berharap agar tanaman tumbuh subur dan melimpah saat panen, Millens.

Kata Kepala Dusun Tanggung, Timbul Basuki, Manisan konon berasal dari kata Sumo Manis (Senin Legi) dalam penanggalan Jawa.

https://lintaskebumen.files.wordpress.com/2015/04/bajak-sapi.jpg

Sapi, hewan pembajak sawah yang telah banyak digantikan traktor. (Lintaskebumen.wordpress.com)

Sejak zaman dahulu, warga setempat memercayai kalau Senin Legi merupakan waktu naasnya sapi sebagai hawan yang turut berjasa bagi petani. Jika dilanggar, niscaya akan terjadi halangan saat memasuki masa panen padi.

Tradisi Manisan diselenggarakan selama dua hari. Menjelang Tradisi Manisan, warga akan “lek-lekan” atau begadang semalaman di rumah kepala dusun. Lek-lekan tersebut hanya diikuti kaum lelaki, Millens.  Biasanya, “lek-lekan” dilakukan sehari menjelang Senin Legi.

Acara selanjutnya, pukul 06.30 WIB, seorang warga akan memukul kentongan hingga suara menggema ke seluruh sudut dusun. Nggak lama setelah prosesi memukul kentongan, para kepala keluarga akan datang menuju titik kumpul, tepatnya di rumah kepala dusun dengan membawa bermacam-macam makanan.

Tahu Kupat, Makanan Utama

Nah, makanan utama adalah tahu kupat. Dengan filosofi semua bahan yang ada di dalam makanan tersebut berasal dari hasil pertanian warga. Kalau warga sudah kumpul, mereka akan berdoa dan melantunkan ayat suci Alquran.

Ketupat sumpil yang menggambarkan hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia. (Bloggerkendal.com)

Setelah doa bersama, sesepuh akan mempersilakan warga yang datang untuk menyantap hidangan. Acara selanjutnya, warga akan menuju ke sawah masing-masing untuk meletakkan sebuah bucu atau wadah berisi ketupat sumpil pethotan di saluran irigasi.

Maksud dari ritual ini adalah meminta harapan ke Yang Maha Pencipta agar tanaman padi mereka menuai hasil melimpah lewat saluran air yang lancar.

Itu dia tradisi para petani di Temanggung. Kalau para petani di daerahmu punya tradisi apa nih, Millens? (MG10/E05)