Warga Wonogiri Pertahankan Budaya melalui Tradisi Encekan

Warga Wonogiri Pertahankan Budaya melalui Tradisi Encekan
Tradisi Encekan. (Instagram)

Di Kabupaten Wonogiri ada sebuah tradisi yang digelar setiap tahun dalam rangka mengucap rasa syukur dan mempersatukan kerukunan warganya. Tradisi apakah itu?

Inibaru.id – Rasa syukur bagi masyarakat Indonesia diekspresikan dalam banyak cara, seperti melakukan tradisi turun-temurun. Di Kabupaten Wonogiri, Desa Pracimantoro, Dusun Jenar, ada sebuah tradisi Rasulan atau bersih desa yang dilaksanakan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.

Ritual tersebut setiap tahunnya selalu diikuti oleh ratusan warga. Nah, yang menarik adalah tradisi Encekan yang merupakan salah satu bagian dari tadisi Rasulan tersebut.

Hiburan saat tradisi Rasulan. (KRjogja)

Pada tradisi Encekan, biasanya setiap kepala keluarga diwajibkan membuat dan membawa sesajen berupa nasi lengkap dengan lauk pauknya. Hal yang bikin unik adalah wadah sesajennya, karena nggak terbuat dari baki plastik tapi dari gedebok (batang pisang).

Menurut Timlo.net (6/9/2017), para warga khususnya kaum lelaki mulai berbaris menuju balai desa setempat dengan mengenakan berbagai kostum tradisional. Tua dan muda beramai-ramai datang memanggul ambeng atau encek sebagai simbol rasa syukur.

Camat Pracimantoro, Waskito menjadi cucuk lampah atau pimpinan barisan tersebut. Kemudian barisan dilanjutkan oleh perangkat desa setempat untuk memasuki balai desa.

Tradisi encekan. (Timlo.net)

Halaman balai desa ramai dipadati warga. Iringan suara gamelan pun terdengar sayup-sayup di halaman. Setelah itu ratusan encek ditata berjajar di tengah pendopo balai desa. Dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dilakukan oleh tokoh adat setempat.

“Tradisi ini merupakan bentuk wujud syukur kepada Tuhan, atas limpahan rejekinya. Selain itu, dengan adanya ritual ini kita memohon agar desa kami terbebas dari segala penyakit dan marabahaya,” ungkap Warsito.

Menurut Warsito, tradisi Ambengan atau Encekan yang terkandung dalam acara Rasulan ini sendiri memiliki makna filosofi sangat tinggi. Tradisi itu harus terus dilestarikan keberadaannya.

“Ini merupakan aset budaya, yang harus dijaga kelestariannya, agar anak cucu kita masih dapat mengetahui adanya budaya adiluhung ini,” bebernya.

Tradisi encekan. (Timlo.net)

Oya, di dalam ritual Rasulan, nggak hanya diisi tradisi Encekan saja Millens, namun masih ada sejumlah acara lainnya, seperti hiburan. Biasanya, beberapa jam sebelum tradisi Encekan digelar, diawali dengan penampilan tarian Reog. Kemudian, dilanjutkan dengan pergelaran wayang kulit semalam suntuk.

“Rasulan ini juga merupakan media pemersatu antarwarga,” tandasnya.

Wah, menyenangkan ya Millens? Kalau di tempatmu ada tradisi seperti ini nggak? Ceritakan di kolom komentar ya! (IB06/E05)