Warga Satu Desa di Banyuwangi Kompak Hanya Punya Kasur Berwarna Merah dan Hitam

Warga Satu Desa di Banyuwangi Kompak Hanya Punya Kasur Berwarna Merah dan Hitam
Kasur merah dan hitam khas Desa Kemiren, Banyuwangi. (Okezone/MPI/Avirista)

Ada yang unik di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Seluruh warganya punya kasur yang sama dengan kombinasi warna merah dan hitam. Kok bisa seragam, ya?

Inibaru.id – Jelang Hari Raya Iduladha, masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi menjemur kasur di depan rumah. Tradisi yang dikenal dengan istilah mepe kasur ini memang selalu dilakukan menjelang Hari Raya Kurban. Konon, tradisi turun-temurun ini bisa membuat hubungan istri-suami semakin harmonis, lo.

Tapi, kalau kamu cermati, kasur yang dijemur di depan rumah ini seragam, yakni kombinasi warna merah dan hitam. Bahan kasurnya juga dari kapuk, bukan springbed atau busa modern.

Hm, jadi penasaran nih, kok bisa ya satu desa kompak punya kasur yang serupa begini?

Menurut keterangan tokoh Adat Using Desa Kemiren bernama Adi Purwadi, mepe kasur masuk dalam rangkaian acara Tumpeng Sewu di desa tersebut. Tradisi ini digelar pada minggu pertama penanggalan Islam Dzulhijjah, tepatnya di antara Kamis sampai Minggu.

“Tumpeng Sewu bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur warga terhadap nikmat yang telah diberikan Sang Pencipta,” ungkap Adi, Kamis (7/7/2022).

Balik lagi soal kasur yang dijemur warga, ya Millens. Ternyata, ada alasan mengapa kasurnya memiliki kombinasi warna merah dan hitam. Bagi warga Desa Kemiren, kedua warna ini adalah simbol kerukunan rumah tangga sekaligus lambang dari keberanian serta keabadian.

Kasur jadi lambang kerukunan rumah tangga. (Liputan6.com/ Dian Kurniawan)
Kasur jadi lambang kerukunan rumah tangga. (Liputan6.com/ Dian Kurniawan)

“Mungkin (desa kami) satu-satunya desa yang punya kasur seragam dengan warna merah dan hitam. Hitam warna keabadian dan merah warna keberanian,” lanjut Adi.

Bagi warga Desa Kemiren, kasur lebih dari sekadar tempat tidur. Kasur adalah simbol dari rumah tangga. Karena itulah, agar rumah tangga awet dan harmonis, kasurnya juga harus dirawat. Salah satu cara merawatnya adalah dengan menjemurnya setiap kali jelang Hari Raya Iduladha.

O ya, ada juga fakta menarik lain dari kasur merah dan hitam ini. Jadi, setiap kali ada anak perempuan yang menikah di desa ini. Maka, orang tuanya pasti bakal memberikan kasur tersebut. Kasur ini adalah hadiah pertama dari orang tuanya bagi sang anak yang akan mengarungi mahligai rumah tangga, bukannya peralatan rumah tangga lainnya.

“Orang tua di sini kalau punya anak perempuan (menikah) pasti dihadiahi kasur merah hitam sebelum kebutuhan lainnya,” pungkas Adi.

Menarik juga ya cerita tentang kasur di Desa Kemiren, Banyuwangi ini, Millens? (Ine/IB09/E05)