Wadah Sesaji dari Daun Pisang dalam Tradisi Jawa

Wadah Sesaji dari Daun Pisang dalam Tradisi Jawa
Sesaji persembahan untuk leluhur, lengkap dengan wadahnya yang unik. (Jarakpandang.com)

Sadar nggak, Millens, ada banyak sekali jenis wadah sesaji dari daun pisang dalam tradisi Jawa. Nah, berikut adalah penjelasan dari jenis-jenis wadah sesaji tersebut.

Inibaru.id - Sesajen atau sesaji adalah bagian dari tradisi Jawa yang memiliki makna unik dan sakral. Nah, keberadaan sesajen yang berbentuk makanan kecil, benda-benda kecil, atau bahkan bunga-bungaan ini merupakan salah satu wujud penghormatan yang diberikan kepada alam semesta atas nikmat yang diterima.

Kalau kamu cermat, wadah yang dijadikan tempat sesaji biasanya terbuat dari daun pisang. Daun yang dipakai juga harus yang berwarna hijau segar, bukannya yang mengering atau sudah mulai menguning. Biasanya sih, ya, wadah ini dibuat sehari sebelum upacara, Millens.

Kalau upacara ini dilakukan di keraton, wadah-wadah sesaji bakal dibuat oleh para Abdi Dalem di pawon alias dapur. Nah, berikut adalah sejumlah jenis wadah sesaji dari daun pisang yang sebaiknya kamu ketahui, Millens.

Sudi

Sudi yang memiliki tonjolan berbentuk kerucut ditengahnya (Diadona)
Sudi yang memiliki tonjolan berbentuk kerucut ditengahnya (Diadona)

Sudi merupakan wadah berukuran kecil dengan bentuk bulat dan bagian tengahnya memiliki tonjolan berbentuk kerucut. Di acara selamatan, sudi digunakan sebagai wadah lauk kering, kue, atau jajanan jajanan pasar.

Sudi umumnya memiliki diameter 8,5 cm dan dipakai sebagaiwadah lauk sederhana seperti sambal tempe, tempe bacem, atau bakmi putih. Terkadang, sudi juga dibuat dengan ukuran yang lebih kecil sebagai wadah bumbu pelas, kethak kluwak, dan bubuk kedelai.

Takir

Takir yang dapat digunakan dengan kedua sisi simbang dan selaras (Youtube/Dapur HD)
Takir yang dapat digunakan dengan kedua sisi simbang dan selaras (Youtube/Dapur HD)

Takir merupakan wadah sesaji berbentuk kotak terbuka. Takir dibuat dengan hati-hati agar sisi-sisinya bisa menampung makanan dengan baik dan nggak tumpah. Wadah ini juga jadi simbol bahwa dalam kehidupkan diperlukan keseimbangan, keharmonisan, dan keselarasan dalam segala hal agar nggak terjadi kejomplangan.

Takir yang biasa digunakan di dalam Keraton berukuran 12 x 9 cm. Untuk prosesi Sugeng Agung di keraton, wadah ini biasanya digunakan untuk tempat rujak-rujakan, jenang neton, nasi golong dan lauk, serta lauk nasi adem-ademan.

Cekentong

Cekentong mirip takir namun lebih besar. (Kratonjogja.id)
Cekentong mirip takir namun lebih besar. (Kratonjogja.id)

Cekentong memiliki bentuk yang mirip dengan takir. Hanya, ukuran cekentong lebih besar. Cekentong biasanya digunakan sebagai wadah sesaji berupa pisang raja, salak, lember, nagasari, nasi gurih berlauk ayam, dan rambak dhahar.

Ancak

Tempat tumpeng tradisional dari daun pisang (Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Tempat tumpeng tradisional dari daun pisang (Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Ancak merupakan wadah berbentuk pesegi yang dibuat dari tangkai daun pisang dan anyaman bambu. Di berbagai daerah, ancak digunakan sebagai wadah tumpeng beserta lauk-pauk untuk kemudian dimakan bersama-sama.

Ancak di keraton dengan ukuran besar biasanya digunakan untuk wadah sesajen berupa rangkaian tumpeng, roti kering, salak, berbagai macam pisang, dan kembang sundukan. Ancak dengan ukuran sedang biasanya digunakan sebagai wadah kupat luar, ketan golong lulut, dan kupat sido lungguh. Sementara itu, ancak dengan ukuran kecil biasanya diisi dengan ketan-ketan kecil dengan jumlah tujuh warna.

Menarik, ya. Omong-omong, kamu sudah pernah melihat wadah-wadah sesaji secara langsung, nggak nih, Millens? (Kra/IB32/E07)