Upacara Penetapan Tanah Bebas Pajak yang Diakhiri dengan Kutukan

Upacara Penetapan Tanah Bebas Pajak yang Diakhiri dengan Kutukan
Kadilangu menjadi wilayah yang dihadiahkan kepada Sunan Kalijaga oleh sultan Demak. (Aksara)

Sebagai ucapan terima kasih raja pada orang atau kelompok tertentu, biasanya sebidang tanah perdikan diberikan. Jangan salah, jika sebuah tempat sudah perdikan, status ini bakal disandang selamanya. Penetapan ini diatur dalam Manusuk Sima. Pelanggar ketentuan harus siap menerima kutukan mengerikan.

Inibaru.id – Istilah tanah bebas pajak atau perdikan menjadi hal lumrah sejak kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara berdiri. Begitu corak kerajaan berganti menjadi Islam, perdikan tetap ada. Biasanya diberikan kepada ulama. Salah satu contoh tanah perdikan adalah daerah Kadilangu, Demak.

Orang-orang yang tinggal di tanah perdikan nggak perlu lagi membayar pajak kepada kerajaan sebagaimana daerah lain. Enak ya?

Bisa dibilang, tanah perdikan merupakan status bebas pajak pada tanah atau bangunan yang diberikan oleh raja atau pejabat tinggi kepada seseorang yang telah berjasa besar bagi raja atau kerajaan. Sebutan kerennya reward gitu deh. Wujudnya nggak melulu tanah lapang, tapi bisa juga bangunan keagamaan.

Sebenarnya, bukan cuma raja yang bisa memberikan status perdikan ini, Millens. Para pejabat tinggi yang bergelar rakai atau pamgat juga punya kuasa untuk bagi-bagi perdikan. Nah, begitu sebuah tempat berstatus perdikan, haram hukumnya petugas menarik pajak. Status ini ditetapkan dalam upacara Manusuk Sima.

Prosesi Manusuk Sima

Manusuk Sima merupakan ritual pembacaan mantra sekaligus mengutuk siapa saja yang mengganggu ketetapan ini. Hm.

Ritual dimulai dengan penyiapan pelbagai sesaji dan ubo rampe, seperti telur, kepala kerbau, ayam, jarum, pemotong kuku dandang, peralatan makan minum, serta peralatan tanah dan persawahan. Fungsi dari tiap-tiap sesaji yang dipilih nggak diketahui untuk apa. Besar kemungkinan, pemilihan ini hanya berdasarkan kebiasaan masyarakat zaman itu yaitu bertani dan beternak.

Meski begitu, ada lo perlengkapan utama yang harus ada dalam ritual Manusuk Sima yaitu hyang watu teas dan sang hyang kalumpang. Keduanya berupa prasasti batu yang berbentuk lingga. Prasasti ini merupakan benda yang sangat sakral bagi leluhur.

Acara berlanjut dengan jamuan makan bersama. Menunya adalah sesaji yang tadi dibawa, seperti dendeng celeng, pelbagai macam nasi, ikan asin, sayur, hingga minuman tuak.

Upacara Manusuk Sima yang dilaksanakan guna memperingati hari jadi Kota Kediri. (Duta)
Upacara Manusuk Sima yang dilaksanakan guna memperingati hari jadi Kota Kediri. (Duta)

Setelah perut terisi, sang makudur (pemimpin upacara) mulai merapal mantra dan kutukan dengan suara lantang. Maklum, speaker belum ada sehingga ia harus memastikan semua yang datang itu mendengarnya. Betewe, isi kutukannya sangat mengerikan lo. Orang yang melanggar ketetapan bakal kena musibah yang berat dan mati mengenaskan.

Nggak usah heran, nenek moyang kita memang "dibesarkan" oleh kutukan. Tapi serius deh, tampaknya kutukan ini cukup ampuh. Sampai-sampai Belanda lebih memilih mengalah kalau harus berurusan dengan tanah perdikan. Di samping itu, di sana juga terdapat makam orang-orang yang dihormati masyarakat. Makin minder deh mereka.

Sebagai informasi, status perdikan ini berlangsung selamanya. Perdikan baru dihapus setelah Indonesia merdeka.

O ya, di beberapa tempat Manusuk Sima masih diadakan lo. Namun, fungsinya nggak lagi sama. Jika dulu digelar untuk mencegah para pengganggu ketetapan, di masa kiwari ritual ini dijadikan sebagai bagian dari tradisi. Salah satu kota yang rutin menggelar Manusuk Sima untuk memperingati hari jadi adalah Kediri. 

Menarik ya? Eh, coba deh kamu cek apa daerahmu dulu termasuk tanah perdikan, Millens? (His/IB31/E05)