Transformasi Dugderan, Dug Tanpa Der!

Transformasi Dugderan, Dug Tanpa Der!
Sekretaris Masjid Kauman Muhaimin. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Nggak pernah absen setiap tahun, tradisi Dugderan tahun ini terancam dilaksanakan tanpa mengundang keramaian. Bagaimana pihak takmir masjid Kauman menanggapi hal ini?

Inibaru.id  - Menjelang Ramadan, masyarakat bersuka ria menyambutnya dengan berbagai persiapan dan acara. Salah satu budaya menyambut Ramadan di Kota Semarang adalah Dugderan yang nggak pernah luput diselenggarakan setiap tahun. Sayangnya, akibat pandemi corona tradisi yang biasanya melibatkan banyak orang ini terancam absen.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan bahwa tradisi ini bakal tetap dilakukan dengan sangat sederhana.

“Nanti prosesi Dugderan ini saya dan wakil datang ke Masjid Kauman Kota Semarang dan diterima oleh takmir masjid tersebut, lalu takmir akan mengumumkan kepada masyarakat lewat TOA (pengeras suara) masjid,” terang Hendi pada Kamis (16/4).

Selain itu, Hendi menekankan bahwa prosesinya bakal digelar tanpa arak-arakan dan tanpa melibatkan masyarakat.

Ditemui terpisah, Muhaimin Sekretaris Takmir Masjid Kauman Semarang mengatakan bahwa pihaknya belum diajak berkoordinasi dengan pemerintah Kota Semarang. Namun dia mengatakan bahwa internalnya sudah mempersiapkan acara Dugderan kali ini secara mandiri.

“Jika memang diundang rapat, kami baru tahu yang dikehendaki pemkot seperti apa. Tapi internal kami sudah menyiapkan,” tuturnya.

Pihaknya juga mengaku siap mengikuti keputusan Pemkot Semarang terkait Dugderan yang bakal dibahas pada rapat pada Senin mendatang.

“Kalau Dugderan prosesinya diadakan secara sederhana, kami siap mengikuti,” sambung Muhaimin.

Perlu Dimaklumi

Bedug yang akan dipukul saat prosesi Dugderan. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Bedug yang akan dipukul saat prosesi Dugderan. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Menurut Muhaimin, ketiadaan tradisi Dugderan oleh masjid Kauman kali ini merupakan hal yang patut dimaklumi. Dalam perjalanannya, prosesi Dugderan yang menurutnya mulai digelar pada 1880 ini pernah mandek dan digarap oleh pemkot saja. Baru pada 2004, pihak takmir Masjid Kauman dilibatkan dalam perayaannya.

“Selama (mulai 2004) itu diadakan baru kali ini tidak ada,” tutur Muhaimin.

Agar tradisi ini tak hilang, Muhaimin mengaku bakal membuat alternatif berupa pemukulan bedug tanpa penyalaan petasan (meriam).

“Tradisi pukul bedugnya ada, tapi dher-nya nggak ada, kami menyiapkan pukul bedugnya saja,” tutupnya.

Kabar peniadaan tradisi ini membuat Nasir jemaah masjid yang nggak pernah absen mengikuti Dugderan merasa sedih. Menurut lelaki asli Semarang ini, peniadaan Dugderan merupakan yang pertama dia alami.

“Ya pasti kangen. Tapi mau gimana lagi, kami harus manut sama peraturan pemerintah,” kata lelaki yang berdagang nggak jauh dari masjid Kauman ini.

Tentang kesederhanaan perayaan Dugder ini, bagaimana tanggapanmu, Millens? (Zulfa Anisah/E05)