Tradisi Unik Mengarak Pengantin Baru di Grobogan

Menikah dengan pangeran berkuda. Wah, kisah romansa bak negeri dongeng itu memang dijamin bikin "baper" ya? Eits, di dunia nyata juga ada lo prosesi mengarak pasangan pengantin baru dengan menunggang kuda.

Tradisi Unik Mengarak Pengantin Baru di Grobogan
Sepasang pengantin menunggang kuda. (maisyahmiftah.blogspot.com)

Inibaru.id – Apa yang ada di benak kamu tentang rangkaian acara pernikahan? Akad nikah, prosesi adat, dan resepsi? Hm, rasanya rangkaian pernikahan itu sudah biasa kita temui di mana-mana ya.

Tapi ada yang berbeda nih saat warga Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan menikah. Mereka punya tradisi unik di luar prosesi akad nikah dan resepsi. Setelah resmi menikah, sepasang pengantin di Desa Banjarejo akan diarak keliling kampung dengan menunggang kuda. Wah, semacam cerita-cerita negeri dongeng ya? Ha-ha! 

Sepasang pengantin berada di barisan paling depan. Di belakangnya ada rombongan grup barongan yang mengiringi. Barisan arak-arakan ditutup dengan rombongan keluarga kedua mempelai.

Tradisi pasca pernikahan di Desa Banjarejo itu memang sudah ada sejak dulu. Nggak jarang arak-arakan itu menyita perhatian warga sekitar. Jadi semakin ramai deh yang ikut menonton.

Arak-arakan itu dilakukan sebagai bentuk pengumuman pada warga sekitar kalau pasangan pengantin sudah resmi menikah. Oya, arak-arakan juga dilakukan sebagai ajang si pengantin baru untuk mengenalkan pasangannya tuh. Terutama bagi jika pasangannya bukan berasal dari kampung itu.

Pengantin bersiap diarak keliling desa. (murianews.com)

Selain itu, melalui tradisi arak-arakan keliling kampung secara nggak langsung kedua mempelai juga pengin meminta doa dari warga sekitar, Millens.

Sayangnya belakangan arak-arakan pengantin sudah jarang terlihat di Desa Banjarejo. Kepala Desa Banjarejo, Ahmad Taufik mengatakan bahwa tradisi arak-arakan sudah jarang terlihat di desanya. Setiap tahunnya kini rata-rata hanya ada lima kali tradisi arak-arakan seperti ditulis koranmuria.com (27/9/16).

Hm, sayang banget ya kalau jarang dilakukan. Semoga masyarakat tergerak untuk melestarikannya ya, Millens! (IB10/E05)