Menyelamati Padi-Padi dan Gaung Doa untuk Keberlimpahan Panen

Tradisi tingkeban ternyata nggak hanya dilakukan oleh perempuan hamil, lo. Para petani di Kendal, Jawa Tengah juga melaksanakan tradisi tingkeban. Seperti apa?

Menyelamati Padi-Padi dan Gaung Doa untuk Keberlimpahan Panen
Tingkeban pari. (Jatengprov.go.id)

Inibaru.id – Tradisi tingkeban sering dilakukan untuk memperingati kehamilan perempuan yang mencapai usia tujuh bulan. Nah, laiknya bersyukur atas anugerah serupa, petani-petani di Kendal, Jawa Tengah juga memiliki tradisi tingkeban. Ketika tanaman padi di sawah mulai berisi buliran, mereka melaksanakan tradisi yang disebut Tingkeban Pari.

Mengutip suaramerdeka.com (18/2/2018), acara selamatan ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur dari masayrakat atas anugerah kesuburan padi yang diterima dan pengharapan agar panen yang didapat nanti akan melimpah. Dua desa yang menghidupkan tradisi ini adalah Desa Laban, Kecamatan Kangkung dan Desa Pucangrejo, Kecamatan Pegandon.

Tingkeban Pari dilakukan dalam bentuk doa bersama. Umumnya, warga duduk lesehan secara berhadap-hadapan di jalan yang membelah dua area persawahan. Semuanya turut mengikuti kegiatan ini, termasuk penyuluh pertanian, pemerintah desa, dan pemerintah kecamatan. Suasana keakraban nan guyup akan sangat terasa.

Baca juga:
Kamu Gebyuk Ikan-Ikan, Kamu Melestarikan Sungai
Medium Dakwah Bernama Tari Zipin

Setelah selesai berdoa, para warga pun makan bersama. Makanan disajikan di atas daun pisang yang disusun memanjang mengikuti arah duduk para peserta syukuran. Makanan yang disajikan adalah nasi kendil, gudangan, ikan asin kering, telur goreng, dan lauk-lauk lainnya.

Tradisi Gropyok

Ada kalanya, tradisi tingkeban ini dilanjutkan dengan kegiatan gropyok bersama-sama. Gropyok merupakan istilah Jawa yang merujuk pada kegiatan menghalau dan memburu tikus yang menjadi hama pertanian. Upaya ini dilakukan demi menjaga tanaman padi sampai panen tiba.

Mengutip tribunnews.com (15/2/2017), pemberantasan tikus itu dilakukan dengan cara mengasapi lubang-lubang tikus. Sebelumnya, asap tersebut sudah diberi racun tikus. Dengan demikian, setelah diberi asap, tikus-tikus akan mabuk.

Sip, deh! Tikus pun keluar dari lubang di dalam tanah dan lebih mudah ditangkap.

Baca juga:
Kentrung Demak, Sajian Cerita Tutur yang Hampir Hilang
Pasang Surut Perkembangan Gambang Semarang

Tingkeban pari rutin dilakukan karena mampu menjaga kerukunan antar warga. Kerukunan ini dapat menjadi modal untuk mewujudkan harapan-harapan secara sinergis, termasuk meningkatkan perekonomian desa.

“Jika warga guyub rukun, maka kesejahteraan warga gampang tercapai,” kata Camat Kangkung Mansyur, seperti ditulis jatengprov.go.id (20/2/2018).

Luar biasa, ya! Kalau di daerahmu, ada tradisi seperti apa, Millens? (IB08/E02)