Arak-arakan "Dhondang", Tradisi Saparan di Desa Cukilan, Kabupaten Semarang

Arak-arakan
Tradisi Saparan. (5211100070.blogspot)

Hampir sama dengan tradisi Saparan di daerah lain, Saparan di Desa Cukilan, Semarang juga diisi dengan arak-aran. Namun, bedanya yang diarak adalah dhondang. Hm, apa ya itu?

Inibaru.id – Indonesia memang dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya termasuk tradisi yang dimiliki masyarakatnya. Salah satu tradisi yang masih berlangsung hingga sekarang yakni tradisi Saparan yang digelar masyarakat di pelbagai daerah salah satunya di Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang.

Tradisi Saparan adalah sebuah tradisi yang dilangsungkan saat Safar atau bulan kedua dalam penanggalan Hijriah. Di Desa Cukilan tepatnya di Dusun Krajan, tradisi saparan dimaknai untuk mengenang jasa seorang tokoh agama bernama Ki Ageng Cukil yang meninggal saat Safar.

Konon, Ki Ageng Cukil adalah seorang pejuang nasional yang juga menyebarkan syiar agama Islam di tanah Jawa yang berasal dari Magelang. Dia juga yang diketahui membangun pesanggrahan yang kini bernama Desa Cukilan.

Masyarakat akan membuat rangkaian sesaji yang bernama dhondhang dalam tradisi Saparan tersebut. Dhondang
adalah sebuah tempat kayu berbentuk persegi panjang yang atasnya diberi penutup dengan hiasan tertentu. Di dalam dhondang, ada beraneka makanan khas masyarakat Desa Cukilan.

Sesaji itu kemudian diarak menuju kompleks Makam Ki Ageng Cukil yang berjarak satu kilometer. Makam tersebut berada di sebelah sumber air yang biasa digunakan warga sekitar untuk mandi dan mengambil air bersih.

Saat arak-arakan, masyarakat juga punya susunan khusus. Pada barisan depan, sepuluh warga yang berpakaian menyerupai prajurit Wonokesuman atau para pengikuti Ki Ageng Cukil akan memimpin barisan. Kesepuluh prajurit itu kemudian berjalan dan diikuti ratusan warga yang membawa dhondhang. 

Nggak semua warga ikut sejak titik awal arak-arakan, Millens. Mereka justru baru bergabung ke barisan begitu iring-iringan lewat di depan rumah mereka.

Salah satu makanan khas yang selalu hadir dalam tradisi ini adalah ingkung. Makanan khas Jawa ini berupa ayam utuh yang dimasak menggunakan bumbu khusus.

Ayam ingkung. (Tribunnews)

Selain mengarak dhondhang, digelar pula doa bersama dan karnaval budaya pada tradisi Saparan di Desa Cukilan. Pertunjukan seni itu ditampilkan untuk menambah kemenarikan tradisi ini.

“Tradisi ini sudah berlangsung lama dan baru beberapa tahun belakangan dikemas dengan acara yang lebih menarik dengan menampilkan hiburan rakyat. Banyak pendatang dari luar daerah yang secara rutin mengikuti tradisi ini,” ujar Ahmad Soleh, salah seorang penjaga Makam Ki Ageng Cukil seperti ditulis Sindonews.com, Sabtu (4/7/2015).

Wah, menarik juga ya, Millens. Dengan banyaknya tradisi yang ada di Indonesia, sudah sepatutnya kita menjaga warisan budaya ini, ya. (IB07/E04)