Tradisi Samseng, Sajian Beragam Makanan di Altar Abu Leluhur saat Imlek

Keluarga Tionghoa penganut Tri Dharma melakukan tradisi samseng berupa makanan sesajian. Ada makanan wajib, dan ada yang jadi pantangan.

Tradisi Samseng, Sajian Beragam Makanan di Altar Abu Leluhur saat Imlek
Sajian samseng (baltyra.com)

Inibaru.id – Setiap menyambut Tahun Baru Imlek, ada tradisi yang selalu dijalani penganut Tri Dharma (Tao, Buddha, Konghucu). Namanya samseng alias sesajian tiga kurban.

Dikutip dari laman archive.li yang mengunggah tulisan Arie Parikesit (seorang pengamat kuliner) yang termuat dalam Sinar Harapan (30 Januari 2004), tradisi samseng dijalani penganut Tridarma di Kota Semarang.

Tradisi menyiapkan persembahan tersebut masih dijalankan di kota Semarang, terutama di Kawasan Pecinan yang dulunya dinamakan Cap Kao King, mulai dari Gang Baru atau Jl. Wotgandul Timur, Gang Pinggir, Gang Besen, dan sekitarnya.

Ya, sesajian untuk para leluhur yang disebut samseng itu bertujuan sebagai persembahan bagi para leluhur dalam menyambut pergantian tahun. Umumnya sesajian itu berupa 12 macam masakan yang melambangkan 12 shio. Penganan-penganan itu diletakkan di Meja Abu Leluhur.

Apa saja masakan sesajian itu? Yang harus selalu ada itu daging babi, ikan, dan ayam betina. Itu untuk melambangkan bahwa selain manusia juga ada makhluk lain yang hidup di darat, laut, dan udara. Secara filosofis, ketiga hidangan itu untuk memperingatkan manusia agar tidak meniru sifat buruk dari ketiga binatang tersebut. Babi yang malas, ayam yang suka berpindah-pindah dalam mencari makan dan ikan terutama bandeng yang dipercaya melambangkan ular yang sering berbuat kejahatan.

Baca juga:
Barongsai di Indonesia, Dulu dan Kini
Menyaksikan Aksi Menusuk-nusuk Tubuh dalam Pawai Tatung di Singkawang

Namun ada juga yang menghubungkan ikan sebagai perlambang rezeki, karena dalam logat Mandarin kata ”ikan” sama bunyinya dengan kata ”yu” yang berarti rezeki. Selain direbus, cara memasak ketiga macam bahan tersebut bermacam-macam.

Ayam direbus dengan saus tiram, babi dengan rebung, pak cham kee atau ayam rebus jahe dan bawang putih, ayam atau babi dengan jamur hio-ko, tite (kaki babi) tim obat, ayam semur tomat, ayam pangang dengan saus hoisin. Sedang ikan biasanya diolah dengan cara digoreng atau dipindang.

Makanan lain yang biasa ditemukan dalam sesajian samseng adalah udang dengan pete, semur rebung, siu mie (mi panjang umur), cap cay (yang berarti sepuluh sayuran) ditemani dengan beberapa mangkuk nasi putih dan sumpit atau sendok.

Selain masakan, kue-kue, cian-ap atau manisan dan buah juga bisa didapati di Meja Abu Leluhur. Makanan yang manis, liat dan lengket itu sebagai simbol agar tahun mendatang menjadi tahun yang membuat hidup lebih manis atau sejahtera.

Manisan nanas yang identik dengan ong atau mahkota raja, tangkwe atau manisan buah beligo, ang-co (kurma merah), kolang-Kaling manis yang melambangkan pikiran jernih sepanjang tahun. Manisan buah belimbing, cermai merah dan kuning yang biasanya diatur berderet-deret dalam tusukan yang ditaruh berdiri pada tempat berhias. Banyaknya tusukan sendiri mewakili satu leluhur.

Selain dalam bentuk tusukan banyak juga yang mengambil jalan mudah dengan membeli pa cen kao atau aneka manisan dalam kotak. Dan selain manisan, juga disediakan bermacam-macam permen, kacang, dan kuaci.

Dan kue yang terbilang wajib ada saat Imlek adalah nian gao alias kue keranjang. Oya, pada zaman old banyaknya atau tingginya kue keranjang yang disajikan menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah.

Kue lain yang biasa hadir adalah kue ku merah berisi kacang hijau berbentuk kura-kura melambangkan harapan untuk panjang umur. Kue lapis beras atau lapis legit yang melambangkan datangnya rezeki yang berlapis-lapis. Lemper yang dibentuk seperti ayam, wajik berwarna pink atau cokelat dibentuk seperti gunung melambangkan kemakmuran yang menggunung. Lalu ada juga ketan tetal atau ketan biru dengan bumbu kelapa parut dan gula jawa. Tak ketinggalan kue mangkok merah dari tepung beras yang merekah melambangkan kehidupan yang makin mekar, biasa dicetak dengan menggunakan takir atau daun pisang yang dibuat menjadi cetakan, dan kue sberbentuk segi panjang yang dibungkus kertas merah.

Makanan Pantangan

Selain makanan wajib disajikan pada Imlek, ada juga yang dipantangkan seperti bubur yang melambangkan kemiskinan atau kesusahan serta makanan-makanan berasa pahit seperti pare yang melambangkan kepahitan hidup.

Perlu kamu tahu, semua makanan tersebut diatur rapi di Meja Abu Leluhur yang berisi foto leluhur, lilin merah, hio swa, bunga sedap malam, dan dihiasi dengan kain berwarna merah bergambar naga atau binatang khas negeri Tiongkok lainnya. Lalu pemilik rumah memanggil arwah leluhur untuk menyantap hidangan, setelah itu pemilik rumah melempar dua koin untuk mengetahui apakah leluhur sudah hadir.

Baca juga:
Keunikan Tari Orek-orek Khas Rembang
Berebut Apem Yaqowiyu, Berdoa untuk Keberkahan

Seusai melakukan sembahyang, pemilik rumah kembali melempar dua koin untuk mengetahui apakah leluhur sudah puas dan siap pergi. Setelah itu makanan dapat disantap atau dibagikan kepada kerabat.

Nah, menurut Arie Parikesit, tradisi menyiapkan makanan di atas tentu nggak hanya dijumpai di Kota Semarang, tapi juga di kota-kota lain di Indonesia dengan tatacara yang disesuaikan dengan daerah setempat maupun asal-muasal suku keluarga tersebut. (EBC/SA)