Tradisi Penobatan GPH Bhre Cakrahutomo Jadi KGPAA Mangkunegara X, dari Tarian Sakral hingga Kemah di Makam

Tradisi Penobatan GPH Bhre Cakrahutomo Jadi KGPAA Mangkunegara X, dari Tarian Sakral hingga Kemah di Makam
GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo dinobatkan jadi Kanjeng Gusti Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro X. (Intime.id)

GPH Bhre Cakrahutomo dinobatkan jadi KGPAA Mangkunegara X alias Raja Mataram Islam di Keraton Solo. Selain ada tarian sakral di acara penobatan, kabarnya selama sepekan sebelum acara ini, GPH Bhre berkemah di makam, lo.

Inibaru.id – Hari ini, Sabtu (12/3/2022), Pura Mangkunegaran Surakarta menggelar hajatan besar penuh nilai sejarah. Jadi, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo bakal dinobatkan jadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro X.

Usia GPH Bhre masih muda, yakni 24 tahun. Yang menarik, dia adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Selain itu, GPH Bhre juga dikenal sudah lama aktif di berbagai acara yang digelar di Pura Mangkunegaran.

GPH Bhre juga dikenal luas sebagai orang yang memiliki hobi fotografi. Hasil karyanya yang bertema landscape serta human interest pun menghiasi akun media sosial Instagram-nya.

Tradisi Saat Penobatan, dari Kemah di Makam Ayahanda dan Tarian Sakral

Sehari sebelum pelantikan, tepatnya pada Jumat (11/3), GPH Bhre diketahui berziarah di makam sang ayahanda KGPAA Mangkunegaran IX yang ada di Astana Girilayu. Fyi, Millens, sang ayahanda meninggal pada 13 Agustus 2021 lalu.

Nah, ternyata, sejak sepekan terakhir, GPH Bhre berkemah di dekat makam sang ayah. Kok bisa selama itu? Hal ini disebabkan oleh adanya aturan adat dari Kerajaan Mataram Islam di mana raja yang bertahta ternyata nggak boleh lagi melakukan ziarah. Jadi, selama itu pula, GPH Bhre berpamitan dengan makam sang ayahanda.

Sebelum dinobatkan sebagai Mangkunegara X, GPH Bhre sempat kemah di makam ayahnya selama sepekan. (Era.id/Amalia Putri/)
Sebelum dinobatkan sebagai Mangkunegara X, GPH Bhre sempat kemah di makam ayahnya selama sepekan. (Era.id/Amalia Putri/)

Di acara penobatannya sebagai raja, digelar pula tarian sakral dan bersejarah bernama Tari Bedhaya Anglir Mendung. Jadi, tarian ini dilakukan oleh tujuh penari terpilih yang baru dari Pengageng Kemantren Langen Praja Pura Mangkunegaran. Usia para penari ini masih muda, Millens.

Oya, tarian ini sangat menarik karena menceritakan Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Said. Kalau kamu belum tahu siapa dia, dialah yang mendirikan Mangkunegaran.

Saking ketatnya seleksi para penari untuk tarian agung ini, Penanggung Jawab Kesenian Pengageng Kemantren Langen Praja Pura Mangkunegran Samsuri menyebut para penari sudah melalui proses seleksi dan latihan sejak Februari 2022. Bahkan, kalau ada yang haid pada hari ini, harus diganti dengan penari lainya.

Sebenarnya, diangkatnya GPH Bhre ini sempat jadi kontroversi di lingkup internal Keraton Solo. Maklum, ada anak yang lebih tua, yakni Paundrakarna yang merasa lebih berhak. Apalagi, selama ini Paundrakarna juga aktif terlibat dalam pelestarian budaya dan sering dianggap sebagai pewaris tahta.

Sayangnya, secara tradisi, Paundrakarna memang sudah ‘kalah’ dari GPH Bhre karena orang tuanya (KGPAA Mangkunegara IX dan Sukmawati Soekarnoputri) telah berpisah sebelum sang ayah dinobatkan jadi KGPAA Mangkunegara IX. Lika-liku penobatan GPH Bhre juga sempat diwarnai isu soal keyakinannya. Dia dikabarkan sulit bertahta karena beragama Katolik sebagaimana keluarga ibunya. Padahal, dia bakal jadi raja Mangkunegaran yang bercorak Islam. Namun kabarnya, saat ini dia disebut telah masuk Islam.

Wah, menarik juga ya Millens penobatan GPH Bhre jadi KGPAA Mangkunegara X ini. (Gen, Tem, Rad, Det/IB09/E05)