Tradisi Ngelik di Banjarnegara dan Anak Muda yang Nggak Tertarik

Tradisi Ngelik di Banjarnegara dan Anak Muda yang Nggak Tertarik
Tradisi ngelik di Banjarnegara yang hampir punah. (Tribunbanyumas/Khoirul Muzakki)

Tradisi ngelik di Banjarnegara, Jawa Tengah, hampir punah. Kini hanya tinggal 5 orang sepuh di Kecamatan Karangkobar yang bisa melakukannya, Millens.

Inibaru.id – Perkembangan zaman yang semakin modern memang seperti menjadi dilema tersendiri. Di satu sisi, bisa memberikan banyak keuntungan. Namun, di sisi lain, juga bisa membuat hilangnya sejumlah tradisi dan kearifan lokal. Salah satunya yang terancam hilang tersebut adalah tradisi ngelik di Banjarnegara.

Ngelik bisa dijelaskan sebagai karya seni di mana pemainnya bakal melantunkan shalawat dengan iringan rebana. Yang beda dari biasanya, nada salawat ini cukup tinggi. Jadi, nadanya mirip dengan yang dilantunkan penyanyi musik rock gitu.

Menurut Instruktur Program Organisasi penggerak (POP) Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) Aziz Arifianto, kini hanya tinggal lima orang di Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara yang masih melakukan tradisi ini. Itu pun semuanya sudah berusia lanjut. Jika sampai mereka meninggal tanpa ada satu pun orang yang mewarisi keahliannya, maka tradisi ini pun bisa punah di masa depan.

“Tradisi ngelik di Kecamatan Karangkobar sekarang hanya terdiri atas 5 orang anggota yang usianya sudah sangat tua. Tetapi, semangat mereka untuk melestarikan ngelik tak pernah hilang. Meski sudah tak pernah pentas, mereka sering memainkan kesenian ini di sela waktu luang mereka. Kalau tidak didokumentasikan, bisa hilang tradisi ini,” cerita Aziz, Sabtu (13/11/2021).

Ngelik cukup sulit untuk dilakukan karena harus dilantunkan dengan nada tinggi. (Tribunbanyumas/Khoirul Muzakki)
Ngelik cukup sulit untuk dilakukan karena harus dilantunkan dengan nada tinggi. (Tribunbanyumas/Khoirul Muzakki)

Ada alasan mengapa anak muda cenderung nggak tertarik untuk mempelajari tradisi ngelik di Banjarnegara. Yang utama adalah tingkat kesulitannya yang cukup tinggi. Maklum, nggak semua orang bisa menyanyi dengan nada tinggi.

“Alunan nadanya memang unik dan sulit. Mungkin hal itu yang menyebabkan hampir tidak ada generasi muda yang tertarik,” lanjut Aziz.

Konon ya, tradisi ngelik diprakarsai oleh Kiai Nur Iman atau Raden Sandiyo, anak laki-laki dari Amangkurat IV yang dikenal sebagai pendiri Mlangi. Sang Kiai memang teguh berdakwah menyebarkan agama Islam lewat karya seni.

Dia pulalah yang mempopulerkan tradisi ngelik, yaitu membaca salawat nabi dengan nada-nada yang mirip dengan tembang jawa, suara yang bernada tinggi, dan hentakan tepuk tangan. Alasannya, tentu saja agar lebih meriah. Maklum, dulu ngelik dibuat sebagai cara untuk merayakan maulid Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itulah, suasana saat melakukannya harus dibuat segembira mungkin.

Hm, menarik juga ya tradisi ngelik di Banjarnegara ini. Semoga saja nggak sampai punah, Millens. (Ban, Lip, Isl/IB09/E05)