Tradisi Memetik Bunga Wijayakusuma, Ritual Sakral Penobatan Raja Jawa

Tradisi Memetik Bunga Wijayakusuma, Ritual Sakral Penobatan Raja Jawa
Memiliki julukan 'Queen of Night' karena hanya mekar pada malam hari. (Twitter/Notyourfatboy_)

Wijayakusuma adalah bunga yang menjadi salah satu syarat seorang raja naik tahta di Jawa. Jadi penasaran ya, apa alasan bunga wijayakusuma menjadi syarat penobatan raja tersebut.

Inibaru.id –  Bunga wijayakusuma merupakan salah satu bunga ‘istimewa’ di Jawa. Bunga ini sebenarnya mudah tumbuh di mana saja. Namun tanaman ini tidak selalu berbunga. Konon, Wijayakusuma hanya mekar setahun sekali dan mekar hanya di larut malam. Setelah matahari terbit, bunganya layu dan menguncup kembali.

Di kalangan kerajaan, bunga wijayakusuma dikeramatkan. Saking sakralnya bunga ini, harus tersedia pada acara penobatan raja.

Kerajaan Mataram bahkan percaya kalau penobatan raja nggak sah jika sang raja baru tersebut nggak berhasil memetik bunga yang dianggap sebagai pusaka keraton tersebut. Sebaliknya, kalau berhasil, maka sang raja bakal dianggap bisa membawa kejayaan dan kemakmuran.

Bunga Wijayakusuma Merupakan Pusaka Kresna

Omong-omong, dalam dunia pewayangan, wijayakusuma berarti bunga kemenangan dan merupakan pusaka milik Kresna, Raja Dwarawati.

Sebelum mangkat ke Swargolaka di Nirwana, bunga ini dihanyutkan ke Laut Kidul oleh Kresna. Kabarnya, bunga ini berlabuh dan kemudian tumbuh menjadi pohon di atas pulau batu karang yang letaknya di ujung timur Pulau Nusakambangan. Kisah ini semakin memperkuat keistimewaan bunga wijayakusuma bagi masyarakat Jawa. 

Memetik Bunga Wijayakusuma

Bila mekar aroma wangi semerbak.  (Instagram/Lina Widjaja)
Bila mekar aroma wangi semerbak.  (Instagram/Lina Widjaja)

Meski bisa ditanam di berbagai tempat, bukan berarti sembarang bunga wijayakusuma bisa dipakai untuk acara adat kerajaan ya. Bunga yang digunakan sebagai perangkat upacara adat harus diambil dari Karang Bandung, sebuah pulau karang kecil di ujung timur Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Cara memetik bunganya juga nggak boleh sembarangan. Bukannya dengan menggunakan tangan, tapi dengan semedi. Selain itu, sebelumnya, para utusan raja akan melakukan upacara ‘melabuh’ atau sedekah laut di tengah laut dekat pulau Karang Bandung (Majethi).

Pada tahun 1939, proses memetik bunga wijayakusuma yang nggak biasa ini pernah ditulis Koran Belanda. Di koran tersebut, diceritakan kedatangan utusan Keraton Surakarta dari Sunan Pakubuwono XI di Cilacap, Pantai Selatan Jawa.

Bunga wijayakusuma dengan sendirinya jatuh ke wadah bokor saat para utusan melakukan semedi. Mereka pun dengan sigap segera menutupnya dengan kain kerajaan dan membawanya pulang ke Kartasura untuk disimpan di dalam kamar pusaka keraton.

Biasanya sih, nggak satu orang pun boleh melihat bunga di bawah kain penutup itu. Hanya raja yang boleh mengintip untuk memastikan bahwa bunga itu betul-betul bunga wijayakusuma. Maklum, di keraton, hanya sunan dan anggota ekspedisi yang tahu bentuk fisik dari bunga tersebut.

Di rumahmu, ada nggak nih bunga wijayakusuma, Millens? Pernah melihatnya saat mekar, belum? (Goo, Mer, Per/IB32/E07)