Mirip Kurban, Orang Batak di Sumatera Utara Rayakan Natal dengan Tradisi Marbinda

Mirip Kurban, Orang Batak di Sumatera Utara Rayakan Natal dengan Tradisi Marbinda
Ilustrasi menyembelih kerbau dalam tradisi Marbinda. (Majalahkartini)

Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam merayakan Natal. Nah, kalau umat Kristiani Sumatera Selatan punya tradisi menyembeli hewan yang disebut Marbinda untuk merayakan Natal.

Inibaru.id – Selama ini, kurban selalu identik dengan Iduladha yang dirayakan orang muslim. Namun, rupanya umat Kristiani di Sumatera Utara pun punya tradisi menyembelih hewan seperti kegiatan kurban, Millens. Tradisi tersebut dinamakan Marbinda yang dilakukan untuk merayakan Natal.

Tradisi Marbinda merupakan tradisi masyarakat Batak, khususnya Batak Toba. Konon, tradisi ini sudah berlangsung secara turun temurun setelah agama Kristen masuk ke Tanah Batak. Tradisi itu pun rutin dilaksanakan setiap menyambut Natal dan Tahun Baru Masehi.

Medanbisnisdaily.com (29/12/2017), menulis tradisi ini bertujuan untuk merawat kebersamaan dan memeriahkan Natal. Selain itu, Marbinda juga wujud syukur orang Batak Toba atas berkat yang telah didapat selama satu tahun sekaligus menyongsong Tahun Baru Masehi dengan penuh suka cita.

Dalam tradisi ini, mereka akan menyembelih hewan kurban, selanjutnya daging hewan kurban akan dibagikan kepada warga lainnya. Warga yang mendapat jatah daging adalah mereka yang ikut berpartisipasi dalam pengumpulan dana. Namun, nggak menutup kemungkinan, daging bakal dibagikan kepada masyarakat yang nggak mampu yang ada di kampung itu.

Ongkos pembelian hewan itu berasal dari uang yang iuran setiap warga. Karena itulah, hewan yang dibeli dan dikurbankan sangat bergantung kepada banyaknya warga yang ikut menggalang dana. Bila jumlah warga yang berpartisipasi mencukupi dan uang yang terkumpul juga banyak, warga bisa kurban kerbau. Akan tetapi, bila dana yang terkumpul tidak begitu banyak masyarakat bisa membeli babi.

Kendati demikan, tradisi Marbinda masih terus dilakukan di Sumatra Utara terutama di daerah permukiman orang Batak, salah satunya di Ujung Serdang, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang. Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk kebersamaan, kekeluargaan, dan kehangatan. Masing-masing akan mendapatkan bagian daging yang sama dengan yang lain sehingga setiap orang bisa merasakan kebahagiaan yang sama.

“Tradisi Marbinda patut untuk dilestarikan. Ia bukan sekadar bagi-bagi daging. Di dalamnya ada nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Di dalam budaya Batak Toba itu dibilang ‘si sada hudon’, artinya setiap orang merasakan makanan yang sama dan dari sumber yang sama,” tukas Budayawan Batak Toba Batara Siahaan.

Dalam pelaksanaan Marbinda, setiap warga yang merayakan Natal akan bergotong-royong dengan cara membagi tugas. Ada yang menyembelih, menguliti, memotong daging, dan membungkus ke dalam plastik untuk dibagikan. Di sinilah bentuk kebersamaan itu terjalin.

Wah, pasti guyub rukun bakal terasa saat Marbinda berlangsung, ya. Kalau di daerahmu, ada tradisi apa saja nih saat Natal? (IB07/E04)