Tradisi Gredoan di Banyuwangi, Rayakan Maulid Nabi Sambil Cari Jodoh

Warga Banyuwangi punya tradisi unik untuk memperingati Maulid Nabi. Selain memperingati kelahiran Nabi Muhamada, tradisi itu juga dijadikan ajang cari jodoh.

Tradisi Gredoan di Banyuwangi, Rayakan Maulid Nabi Sambil Cari Jodoh
Tarian Tongkat api, salah satu atraksi di Tradisi Gredoan Banyuwangi. (Paradise Banyuwangi)

Inibaru.id – Di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, terdapat sebuah tradisi yang unik, yakni Tradisi Gredoan. Tradisi ini biasanya digelar bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad yang dirayakan umat Islam. Namun, tradisi ini punya maksud lain yakni mencari jodoh.

Kompas.com (4/2/2014) menulis, Grodean adalah tradisi masyarakat Osing yang pengin mencari jodoh di sekitar Kecamatan Kabat dan Kecamatan Rogojampi.

“Gredo itu artinya menggoda. Kegiatan ini berlaku bagi mereka yang masih gadis, perjaka, duda, atau janda. Tradisi ini dilakukan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Biasanya tradisi ini dilakukan di malam hari dan pagi keesokan harinya akan diadakan selamatan di masjid,” jelas Budayawan Banyuwangi Hasnan Singodimayan.

Sebelum pengajian, para gadis biasanya akan membantu orang tua memasak. Sementara itu, para laki-laki yang mencari pasangan berada di luar rumah.

“Para laki-laki ini memasukkan lidi ke lubang yang ada di dinding rumah gedhek (bambu). Jika sang gadis mengiyakan ajakan pertemanan ini, lidi ini akan dipatahkan. Para gadis dan laki-laki ini kemudian saling mengobrol dan merayu sambil dibatasi oleh dinding tersebut. Adanya dinding ini sebagai pembatas bahwa mereka belum memiliki ikatan, namun jika memang sudah ada saling ketertarikan, bisa berakhir dengan lamaran dan pernikahan,” lanjut Hasnan.

Hingga saat ini, tradisi Gredoan masih rutin diadakan masyarakat Desa Macan Putih, Banyuwangi. Lebih menarik karena ratusan warga dari desa lain juga ikut mengunjungi Desa Macan Putih untuk menikmati berbagai macam tradisi seperti pawai keliling desa, tarian tongkat api, gelaran musik daerah, hingga karnaval boneka.

“Berbagai macam atraksi ini adalah gambaran dari keanekaragaman sifat manusia di dunia, baik itu yang jahat dan yang baik. Karnaval boneka menandakan sifat-sifat tersebut. Semuaitu kemudian dikembalikan pada tuntunan Nabi Muhammad SAW. Jadi, selain memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad, tradisi ini juga menjadi ajang mencari pasangan hidup,” jelas salah seorang tokoh masyarakat Desa Macan Putih Syaifudin.

Salah seorang warga yang mendapatkan jodoh melalui tradisi Gredoan adalah Fatmawati. Wanita berusia 73 tahun ini sudah mendapatkan 5 anak dan 7 cucu setelah menikah dengan Supaat.

“Dulu kami sering ketemu pas ngaji di masjid tapi tidak pernah berani mengobrol atau kenalan. Pas malam Gredoan, dia datang ke rumah saya sambil memasukkan lidi. Saya bahagia sekali. Lidinya saya patahkan dan kami mengobrol meski dibatasi dinding bambu. Setelah itu, dia melamar saya,” kenang Fatmawati.

Gimana, sobat Millens tertarik untuk mencari jodoh lewat tradisi ini? He-he (IB09/E04)