Guyub Rukun Warga Grobogan Tercermin pada Tradisi Bujono Pirukun

Umat Kristiani di Grobogan punya kebiasaan unik saat Natal yakni makan bersama dalam satu nampan. Tradisi ini kerap disebut dengan Bujono Pirukun. Berikut ulasannya.

Guyub Rukun Warga Grobogan Tercermin pada Tradisi Bujono Pirukun
Para jemaat di salah satu gereja di Grobogan menikmati hidangan saat tradisi Bujono Pirukun. (Jmanunggil)

Inibaru.id – Bagi sobat Millens yang pernah tinggal di pondok atau sering ikut Pramuka, makan bersama pada satu nampan adalah hal yang biasa. Kebiasaan ini rupanya nggak hanya ditemui di Pramuka atau pondok saja. Di Grobogan, Jawa Tengah umat Kristiani di sana juga memiliki kebiasaan serupa yang disebut tradisi Bujono Pirukun.

Tradisi ini dilakukan untuk menyambut Natal. Konon, tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun silam itu bermakna berkumpul untuk menunjukkan kerukunan.

Bujono Pirukun juga dimaknai sebagai pengingat kedudukan dan derajat manusia yang sama di mata Tuhan. Ini bisa dipahami dari bentuk tradisi berupa klumpukan atau makanan bersama di satu lantai dengan satu hidangan yang sama.

Selain memupuk kerukunan, tradisi ini juga menjadi simbol rasa syukur atas nikmat Tuhan yang dilimpahkan kepada warga setempat yang mayoritas berkerja sebagai petani. Makanan yang dibawa pun sebagian besar adalah masakan tradisional yang berasal dari hasil bumi jemaat gereja.

Sebelum tradisi dimulai, para jemaat bakal melaksanakan kebaktian di gereja terlebih dulu. Usai kebaktian, jemaat kembali ke rumah masing-masing untuk mengambil makanan yang sudah disiapkan. Makanan itu biasanya berupa nasi, sayur-sayuran (gudangan), lauk pauk, dan rempeyek. Aneka makanan ini disajikan pada daun pisang dan rigen (piring dari lidi). Rigen memiliki filosofi jemaat harus menyatu baik dengan sesama maupun dengan lingkungan.

Makanan itu lantas dibawa ke gereja untuk makan bersama. Nggak hanya jemaat gereja, masyarakat umum pun turut serta dalam tradisi ini.

”Usai melakukan kebaktian, jemaat kemudian mengambil makanan dari rumah untuk dibawa ke gereja. Ketupat dan beragam makanan lainnya dihidangkan, kemudian makan bersama, warga sekitar. Tradisi ini sebagai simbol kerukunan jemaat dengan warga,” ujar salah seorang pendeta di Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU) Agus Tri Harioko seperti ditulis Suaramerdeka.com, (26/12/2017).

GKJTU merupakan salah satu gereja yang rutin menggelar tradisi Bujono Pirukun tiap tahun. Selain Natal, tradisi Bujono Pirukun juga dilaksanakan saat paskah, bulan keluarga, dan momen-momen tertentu, lo.

Wah, guyub rukun pasti sangat terasa saat tradisi ini berlangsung ya, Millens. Nah, tradisi-tradisi semacam ini nih yang perlu dilestarikan. Setuju? (IB07/E04)