Terang Redup Lampion Teng-Tengan Khas Ramadan

Terang Redup Lampion Teng-Tengan Khas Ramadan
Slamet Riyadi mengaku sudah 7 tahun menjadi pengrajin Lampion Teng-Tengan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Semarang mempunyai tradisi unik Ramadan bernama Lampion Teng-Tengan. Para pembuatnya pun hanya berada di satu tempat yaitu di Purwosari Perbalan, Semarang. Seperti apakah lampion tersebut?

Inibaru.id - Mainan unik ini bernama lampion teng-tengan. Hanya diproduksi di bulan Ramadan, lampion ini merupakan salah satu mainan khas Kota Semarang, Millens. Tempat produksinya pun cuma ada satu tempat di Semarang, yakni di Purwosari Perbalan, Gang H, Kecamatan Semarang Utara.

Slamet Riyadi, perajin lampion teng-tengan menerangkan arti nama tersebut. Disebut “teng-tengan” karena mulanya lampion tersebut merupakan piranti yang selalu ditenteng ketika akan berangkat salat tarawih ke masjid. Saat itu lebih dikenal dengan nama “Dian Kurung” atau lampu yang dikurung. Lampion ini pertama kali tercipta di tahun 1942.

“Kata sesepuh zaman dahulu, di daerah ini dulu belum ada penerangan. Kalau magrib  sudah gelap. Nah, kemudian dari keadaan yang seperti itu, orang-orang berinisiatif membuat lampion ini,” ujar Slamet, Rabu (23/5) pada Inibaru.id. Dia menjadi perajin lampion di kala Ramadan saja. Di luar sebagai pengrajin lampion dia berprofesi sebagai pembuat pakan ikan.

Slamet Riyadi sedang menyalakan lilin di dalam Lampion Teng-Tengan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Lampion yang berbentuk prisma ini memiliki kerangka yang terbuat dari bambu. Di sekitar bambu kemudian dilapisi kertas minyak yang umumnya berwarna putih. Kemudian di tengah rangka bercokol lengkung kulit bambu yang berfungsi sebagai tempat  sumbu dan kertas-kertas yang sudah dibentuk menjadi bermacam gambar seperti kereta api, gajah, naga maupun petani. Di bagian sumbu itu nantinya akan dipasangi lilin yang berfungsi menghadirkan udara agar lengkung bambu tadi bisa berputar. Setelah bisa berputar maka akan tertampang siluet gambar-gambar hewan yang diterangi oleh cahaya lilin. Unik banget deh!

Eits, kamu nggak bisa menemukan lampion ini di tempat lain. Pasalnya, warga kampung Purwosari Perbalan menjual mainan ini secara berkeliling atau digelar pada acara besar seperti Dugderan atau Besaran di Demak.

Hasilnya pun bisa dibilang lumayan. Itulah sebabnya warga nggak pernah melewatkan momen Ramadan untuk memproduksinya. “Hasilnya lumayan. Bisa buat nambah-nambah ongkos lebaran. Lagipula momen seperti ini cuman terjadi setahun sekali saja,” ucap Wiwid, yang belum lama menjadi perajin lampion teng-tengan.

Pendapatan yang menjanjikan rupanya nggak lantas membuat orang tertarik menggeluti bisnis mainan ini. Saat ini hanya ada dua rumah produksi yang membuatnya. Kedua tempat tersebut dijalankan oleh Slamet Riyadi dan Junarso. Padahal dulu hampir semua warga meproduksinya. “Mulai tahun 1997 sudah menurun. Pokoknya setelah listrik mulai datang. Selain itu juga kalah dengan lampion-lampion yang berbahan baku plastik,” tambah Wiwid.

Rumah produksi Lampion Ten-Tengan di Purwosari Perbalan, Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Harga lampion teng-tengan ini dipatok sekitar Rp 15.000. Itu kalau kamu membelinya langsung di tempat produksinya. Namun kalau sudah diedarkan oleh pedagang sendiri, harganya bisa naik menjadi Rp 24.000. Tenang, bisa ditawar kok. Tapi jangan kebangetan ya nawarnya. Ingat pedagang kecil untungnya nggak seberapa.

Mumpung masih Ramadan, yuk beli teng-tengan. Kalau mau dijadikan hiasan malam takbir juga bisa. (Audrian F/E05)