Festival Tempo Doeloe, Makna Merdeka versi Taman Lentera

Lomba, pergelaran seni, dan pelbagai hiburan menjadi cara masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaan negeri ini. Namun, gimana kalau semua perayaan itu dikemas dalam suasana Jawa kuno yang kental? Jawabannya ada di Festival Tempo Doeloe garapan Taman Lentera. Seperti apa?

Festival Tempo Doeloe, Makna Merdeka versi Taman Lentera
Flashmob Gambang Semarang. (Inibaru.id/Clara Ariski)

Inibaru.id – Peringatan kemerdekaan negeri ini sudah selesai dua pekan lalu. Namun, euforianya masih terus berlangsung hingga kini, nggak terkecuali di Taman Lentera. Bertempat di Kampung Tobat Santrendelik, Sukorejo, Gunungpati, Semarang, mereka menggelar Festival Tempo Doeloe.

Taman Lentera merupakan sekolah non-formal yang diinisiasi Komunitas Small Initiatives Semarang. Ini merupakan kali kedua komunitas yang berdiri sejak Januari 2016 itu menggelar festival tahunan tersebut. Mengenakan pakaian tradisional Jawa, para relawan dan siswa ajar yang hadir menggelar pelbagai kegiatan bertajuk "masa lampau".

Adit, salah seorang relawan Taman Lentera mengatakan, Festival Tempo Doeloe sengaja dibuat untuk mengedukasi anak-anak terkait makna kemerdekaan, Millens.

"Melalui drama detik-detik kemerdekaan, mereka memerankan tokoh-tokoh penting seperti Soekarno, Hatta, Soekarni, dan lain-lain," tutur dia.

Yang menarik, mereka menyampaikan seluruh dialog dalam bahasa Jawa, lo! Suasana mendebarkan dan khidmat begitu terasa dalam drama yang diperankan para aktor cilik ini, khususnya pada momen penghormatan kepada sang saka merah putih.

Puncak drama kemerdekaan, menyanyikan lagu "Indonesia Raya". (Inibaru.id/Clara Ariski)

Tari Tradisional

Selain drama kemerdekaan, festival yang diselenggarakan di bawah teduhnya kebun jati itu juga diisi dengan sejumlah pertunjukan tari tradisional, di antaranya Tari Prau Layar, Cublak-Cublak Suweng, dan Apuse, yang diperagaakan oleh 2-4 penari.

Setelah itu, mereka juga menggelar flash mob Tari Gambang Semarang yang telah diadaptasi. Gambang Semarang yang identik dengan gerakan lemah gemulai, menjadi lebih sederhana dan energetik, membuatnya jadi lebih mudah diikuti semua orang.

Tarian Prau Layar dari Jawa Tengah. (Inibaru.id/Clara Ariski)

Lelah mengikuti drama kemerdekaan dan tari-tarian tradisional, para pengunjung dan peserta kemudian dipersilakan menjajal berbagai jajanan di pasar rakyat. Sejumlah pengananan tradisional telah disiapkan, di antaranya bubur sumsum, tiwul, grontol, cenil, dan kacang godok.

Cenil dan pelbagai jajan tradisional yang tersedia di Festival Tempo Doeloe. (Inibaru.id/Clara Ariski)

Setelah perut kenyang, festival kembali dilanjutkan dengan lomba-lomba yang dikemas dengan tradisional, misalnya cantol caping, dongeng, balap jarit, menembak dengan tulup, dan tentu saja makan kerupuk. Pemilihan lomba-lombanya pun nggak mengabaikan cerita sejarah zaman dulu, lo. Katakanlah lomba tembak tulup, lomba ini bertujuan untuk menjelaskan pada anak-anak bahwa pada zaman perang dulu, banyak pahlawan Indonesia yang hanya bermodalkan senjata tradisional seperti bambu runcing dan tulup untuk melawan penjajah. Hm, keren dan tampak begitu menarik!

Boleh juga, nih, gaya tempo doeloe-nya. Jadi berasa benar-benar kembali ke masa lalu untuk mengenang saat-saat menuju merdeka di negeri ini. Semoga tahun depan ada lagi, ya! (Clara Ariski/E03)