Tarling (Tetap) Legenda Pantura

Ada masa ketika tarling sangat populer di wilayah pantura barat seperti Tegal, Brebes, Cirebon, dan Indramayu. Musik legendaris itu diciptakan dari ketidaksengajaan.

Tarling (Tetap) Legenda Pantura
Majelis Seni dan Tradisi Cirebon (MeSTI) menggelar pentas bertajuk "Pesona Indonesia-Simfoni Tarling" di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, April 2017 (Istimewa/Republika.co.id)

Inibaru.id – Pernah dengar lagu “Jaran Goyang”? Sebagian besar dari kamu kemungkinan langsung mengacungkan telunjuk sambil berucap, “Nella Kharisma.”

Tapi pernah dengar Ajian Kemat Jaran Guyang? Lo kok diam? Ya, nggak apa-apa kalau belum pernah wong itu sempat populer saat sebagian besar dari kamu kemungkinan belum “dikonsep”. Orang tua kamu juga kemungkinan masih jadi ababil kalau pakai istilah sekarang.

Ya, sebenarnya antara jaran goyang ala Nella dan ajian kemat jaran guyang hampir serupa, sama-sama ajian pelet. Yang pertama berasal dari Banyuwangi, yang kedua dari Cirebon, khususnya dalam kisah percintaan tragis antara Baridin dan Suratminah dalam drama tarling Cirebon. Konon kisah yang agak mirip dengan Romeo dan Juliet itu berasal dari kisah nyata pada masa kolonialisme Belanda.

Tapi biar nggak kebingungan lantaran banyak informasi yang mungkin baru buat kamu, tulisan ini hanya akan membahas soal tarling Cirebon, suatu tradisi musik yang legendaris.

Baca juga:
Tarling, Nggak Ada Matinya
Dari Lembaran Daun Lemba Terciptalah Rompi Suku Dayak Ngaju

Dari namanya, tarling adalah akronim dari gitar dan suling. Kedua instrumen itulah yang mendominasi sajian musik tarling, baik drama musikal tarling maupun selanjutnya muncul genre baru seperti tarling dangdut.

Blog ndayeng.wordpress.come menulis, tarling lahir sekitar 1931. Jenis musik itu sering disebut melodi jiwa karena menggambarkan kehidupan masyarakat Cirebon sehari-hari lewat alunan musik dan lirik lagu yang dinyanyikan oleh seniman tarling klasik.

Dino Syahrudin, salah satu seniman Cirebon bercerita, tarling tercipta tanpa sengaja. Saat itu tentara Belanda meminta kepada salah seorang ahli gamelan , Sugro, untuk memperbaiki salah satu gitar yang rusak. Sugro bersedia.

Kepandaian Sugro dalam memperbaiki gitar yang rusak tadi dibarengi dengan kemampuannya berinovasi untuk memasukan nada-nada pada alat musik gamelan ke dalam gitar. Dari keahliannya itulah secara tidak sengaja tercipta sebuah seni musik baru yaitu musik tarling klasik.

“Paduan suara gamelan dengan laras yang bisa masuk ke dalam gitar ditambah dengan penambahan alunan tiupan suling maka tercipta harmoni musik yang baru yaitu tarling khas Cirebon,” ujar Dino.

Baca juga:
Simbol Kekerabatan Itu Ada di Halaman Panjang Rumah Adat Madura
Jaranan, Nggak Sekadar Naik Kuda Tiruan

Namun seperti dikutip dari Wikipedia, nama tarling saat itu belum digunakan sebagai jenis aliran musik. Saat itu nama yang digunakan untuk menyebut jenis musik ini adalah Melodi Kota Ayu untuk wilayah Indramayu dan Melodi Kota Udang untuk wilayah Cirebon. Dan nama tarling baru diresmikan saat RRI sering menyiarkan jenis musik ini. Badan Pemerintah Harian (saat ini DPRD) pada tanggal 17 Agustus 1962 meresmikan nama Tarling sebagai nama resmi jenis musiknya.

Tapi Millens, meski hampir punah, seni tarling nggak akan bisa dipisahkan dari sejarah masyarakat pesisir pantura. (EBC/SA)