Kubro Siswo, Tarian Pejuang yang Jadi Pembuka Festival Lima Gunung

Kubro Siswo, Tarian Pejuang yang Jadi Pembuka Festival Lima Gunung
Kesenian Kubro Siswo menjadi pembuka dalam Festival Lima Gunung 2018. (Inibaru.id/Putri Rachmawati)

Festival Lima Gunung 2018 dibuka dengan Tarian Kubro Siswo dari para seniman di Desa Bandongan, Kecamatan Bandongan, Magelang. Gerakannya yang energetik membuat para penonton ikut bersemangat.

Inibaru.id – Kubro Siswo menjadi kesenian tradisional pembuka dalam Festival Lima Gunung 2018. Acara yang diselenggarakan di Dusun Wonolelo, Desa Bandongan, Kabupaten Magelang ini merupakan pagelaran seni masyarakat dari pelbagai daerah.

Berkembang di daerah Magelang dan Yogyakarta, Kubro Siswo merupakan kesenian tradisional yang awalnya menggambarkan penyebaran Islam di Pulau Jawa. Lagu-lagu pengiring tarian Kubro Siswo umumnya berisikan ajakan untuk melakukan ibadah salat lima waktu, sedekah, dan lain-lain.

Gerakan tarian Kubro Siswo menggambarkan suasana perang. (Inibaru.id/Putri Rachmwati)

Selain itu, kata Kubro Siswo juga merupakan kependekan dari Kesenian Ubahing Badan Lan Rogo yang memiliki arti “kesenian mengenai gerak badan dan jiwa”.

Tarian ini dipentaskan oleh para penari lelaki yang terdiri atas 15-20 orang. Para penari tersebut biasanya mengenakan kaos dan celana pendek seperti pakaian bola sambil membawa pedang dan perisai kecil. Selain penari, ada pula orang-orang yang menyanyikan lagu Kubro Siswo dan para pemain musik.

Seorang "jenderal" yang beperan sebagai penyanyi sekaligus pemberi komando kepada para penari. (Inibaru.id/Putri Rachmwati)

Yang menjadi ciri khas, para penyanyi Kubro Siswo mengenakan kostum seperti seorang jenderal yang sedang memimpin para prajuritnya. "Jenderal” tersebut juga membunyikan peluit untuk memberikan aba-aba pergantian gerakan tarian.

Yeyen, salah seorang koordinator tari Kubro Siswo menuturkan, tarian ini menyimbolkan para pemuda yang membantu melawan penjajah saat perang Diponegoro. Yap, maka, nggak heran jika gerakan-gerakan dalam tarian Kubro Siswo menggambarkan semangat perjuangan saat perang.

“Dari liriknya kan kelihatan ‘susah payah anggone ngusir Belanda’. Itu menunjukkan semangat perjuangan,” ujar Yeyen kepada Inibaru.id seusai tampil membawakan Kubro Siswo, Jumat (10/8/2018).

Hm, keren deh! Kalau diamati, tarian Kubro Siswo merupakan perwujudan akulturasi dari tiga unsur, yakni Islam, Jawa, dan perjuangan melawan penjajah.

Festival Lima Gunung tahun ini berlangsung pada 10-12 Agustus. Jadi, sudah telat ya kalau datang sekarang! Ha-ha. Coba festival itu tahun depan, deh! (Putri Rachmawati/E03)