Tapa Bisu Mubeng Benteng, Tradisi Sambut Malam Satu Sura di Yogyakarta
Tapa Bisu Mubeng Benteng. (Beritagar)

Tapa Bisu Mubeng Benteng, Tradisi Sambut Malam Satu Sura di Yogyakarta

Diam mengitari keraton, itulah Tapa Bisu Mubeng Benteng. Selama perjalanan, momen ini juga menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan segala perbuatan pada tahun lalu.

Inibaru.id – Jika Keraton Kasunan Surakarta menggelar kirab Kebo Bule, Keraton Yogyakarta pun punya ritual tersendiri menyambut malam 1 Sura.

Untuk menyambut tahun baru versi kalender Sultan Agungan ini, Keraton Yogyakarta menggelar ritual tapa Bisu Mubeng Benteng. Ritual ini dilakukan dengan berjalan kaki sepanjang empat kilometer. Siapa pun diperbolehkan ikut asal bersedia diam selama perjalanan.

Sebelum dikenal dengan nama “Mubeng Benteng”, tradisi ini dulunya bernama “Muser” atau “Munjer”. Dalam bahasa Jawa, munjer berarti mengelilingi pusat wilayah desa yang juga menjadi tempatnya berdirinya Kerajaan Mataram.

Sembari membawa bendera dan panjí-panji keraton, para abdi dalem beserta warga melakukan doa. Doa ini tentu saja hanya diucapkan dalam hati ya, Millens. Selama perjalanan, momen ini juga menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan segala perbuatan pada tahun lalu.

Tapa Bisu Mubeng Benteng. (Tribunnews)

Ritual Tapa Bisu Mubeng Benteng biasanya dimulai pada pukul 00.01 WIB di pelataran Keben Keraton. Meski dimulai pada tengah malam, pelataran ini sudah dipenuhi warga yang tertarik ikut sejak pukul 20.00, lo.

Dimulai dari pelataran Keben, rombongan bakal melewati beberapa jalan yaitu Jalan Rotowijayan, Jalan Agus Salim, Jalan Mayjen Sutoyo, dan Jalan Brigjen Katamso. Mubeng Benteng akan diakhiri di Alun-Alun Utara.

Pengin ikutan? Hm, jangan lupa gunakan pakaian tebal ya. Hawa dingin malam hari mungkin bakal membuat badanmu menggigil. Namun, mendapatkan pengalaman menyaksikan di tradisi unik ini rasanya bakal sepadan kok. Jadi, siapkan diri menyambut malam 1 Sura ya! (IB15/E03)