Ketika Wayang Potehi Ikut Bagi-Bagi Takjil

Ketika Wayang Potehi Ikut Bagi-Bagi Takjil
Sambil memegangi wayang, umat klenteng mencegat pengguna jalan untuk diberikan takjil. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Umat Klenteng Ling Hok Bio ini punya cara yang unik untuk melestarikan budaya. Wayang potehi yang menjadi kebudayaan warga Tionghoa ini nggak cuma diperkenalkan di panggung pertunjukan. Dengan membagikan takjil gratis sambil menunjukkan berbagai wayang warna-warni ini jadi satu pemandangan yang menarik mata.

Inibaru.id - Apa yang melintas di pikiranmu kalau lagi ngomongin budaya Tionghoa? Kalau yang kamu kenal hanya barongsai, berarti kamu harus mengenal budaya unik yang satu ini. Wayang potehi! Yup, Indonesia punya banyak wayang termasuk wayang yang diadopsi dari Tiongkok ini.

Meskipun di Semarang pertunjukan wayang potehi ini cuma bisa ditemui dua kali saja dalam setahun, nggak membuat warga Tionghoa jadi patah arang untuk tetap memperkenalkan wayang potehi ke masyarakat luas. Hal inilah yang dilakukan oleh umat Klenteng Ling Hok Bio yang memperkenalkan wayang potehi dengan cara membagikan takjil kepada pengguna jalan.

Agung Kurniawan, umat Klenteng Ling Hok Bio sedang menunjukkan wayang potehi. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

“Kita pengen memperkenalkan wayang potehi karena di Semarang sudah jarang dimainkan dan dalangnya pun sudah meninggal,” tutur Agung Kurniawan sambil mempersiapkan wayang. Inisiasinya untuk memperkenalkan wayang potehi dengan cara ini turut disetujui oleh umat klenteng yang lain.

Beberapa umat klenteng pun turut datang untuk turut membagikan takjil. Meskipun mereka nggak bisa memainkan, tapi mereka tetap bersemangat lo. Dengan memakaikan wayang potehi warna-warni yang sekilas berbentuk seperti boneka tangan, para umat klenteng mencegat pengguna jalan yang lalu-lalang di depan klenteng.

Suasana pembagian takjil kepada pengguna jalan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Hal ini tentu saja menyita perhatian pengguna jalan yang melintas, Millens. Agung mengatakan langkah ini dilakukan supaya wayang potehi nggak punah. “Kalau barongsai sudah banyak yang ngerti, sekarang kita pakai potehi,” tuturnya.

Dia dan teman-temannya yang sudah siap dengan wayang potehi di tangan kiri dan takjil di tangan kanan dengan sabar melayani pengguna jalan, mereka juga dengan senang hati jika ada pengguna jalan yang berhenti untuk bertanya tentang wayang yang mereka pegang tersebut.

Meskipun budaya berbagi takjil ini sudah beberapa kali dilakukan, tapi pembagian dengan wayang potehi baru dilakukan sekali ini. Kegiatan ini dilakukan oleh umat Klenteng Ling Hok Bio selama enam hari lo. Wah, semoga wayang potehi nggak punah ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)