Sultan Agung adalah Perokok Berat, Sejak Kapan Rokok Mulai Dikenal Masyarakat Jawa?

Sultan Agung adalah Perokok Berat, Sejak Kapan Rokok Mulai Dikenal Masyarakat Jawa?
Sejak kapan rokok dikenal masyarakat Jawa? (Twitter.com/kretekisme)

Konon, penguasa Mataram, Sultan Agung, adalah seorang perokok berat. Sejumlah karya sastra di Jawa zaman dulu juga menyertakan rokok di dalamnya. Sejatinya, kapan rokok mulai dikenal masyarakat Jawa?

Inibaru.id - Rokok agaknya telah menjadi bagian dari tradisi di Jawa, bahkan Indonesia. Banyak orang bertanya-tanya, sejak kapan negeri ini mengenal rokok. Meski dianggap berbahaya bagi kesehatan, rokok memang nggak bisa dipisahkan dari keseharian masyarakat kita.

Konon, rokok sudah ada jauh sebelum negeri ini berdiri. Ada sejumlah peninggalan sejarah tertulis yang mencantumkan nama rokok. Contohnya, Serat Centhini yang dibuat pada 1814 menyebut rokok sebagai “ses” atau “eses” yang sudah banyak dikonsumsi masyarakat Jawa. Dalam serat tersebut, disebutkan bahwa tembakau dihidangkan pada para tamu demi membuat obrolan jadi lebih cair dengan tuan rumah.

Sementara itu, Serat Subasita (1914) menyebut mengolah tembakau dan mengisapnya sebagai salah satu perilaku khas orang Jawa. Menariknya, dalam karya tersebut, dicantumkan beberapa aturan nggak tertulis tentang merokok, seperti nggak boleh melakukannya di dekat anak-anak atau ibu hamil, serta nggak sembarangan merokok saat bertamu di rumah orang lain, kecuali jika tuan rumah juga merokok.

Rokok klobot, rokok khas Indonesia yang dikenal sejak zaman kerajaan. (Twitter.com/BKHTRDR)
Rokok klobot, rokok khas Indonesia yang dikenal sejak zaman kerajaan. (Twitter.com/BKHTRDR)

Naskah Babad ing Sengkala yang ditulis lebih lama, tepatnya 1602, juga sudah mencantumkan rokok dengan sebutan yang akrab bagi orang Jawa masa kini, “udud”. Dalam naskah ini, disebutkan bahwa tembakau mulai dikenal masyarakat saat kematian Panembahan Senopati pada 1601.

Menariknya, tembakau pada zaman tersebut dibungkus dengan kulit jagung yang dikeringkan alias klobot. Saat dibakar dengan api, muncul bunyi “kretek-kretek”. Sejak saat itulah istilah kretek dikenal masyarakat Nusantara.

Catatan Dr H de Haen, seorang Belanda yang tinggal di Jawa pada 1622 hingga 1623 menyebut Sultan Agung sebagai perokok berat. Para bangsawan di sekitarnya juga melakukan hal yang sama. Sementara itu, catatan J.W Winter pada 1824 menyebut lebih dari seperempat pendapatan orang Jawa habis hanya demi memenuhi kebutuhan konsumsi tembakau.

Lalu, gimana dengan istilah rokok? Istilah ini rupanya berasal dari Bahasa Belanda, yakni ro’ken, yang berarti pipa.

Wah, ternyata sejarah rokok di Jawa sudah sangat lama, ya Millens. Buat kamu yang merokok, tahu sejarah ini nggak, nih? (Ber/IB09/E03)