Status Sosial dan Tradisi yang Retak di Kampung Gerabah Kunden Kendal

Status Sosial dan Tradisi yang Retak di Kampung Gerabah Kunden Kendal
Ngasiati, salah seorang pengrajin gerabah di Kampung Kunden. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Dahulu, Kampung Kunden terkenal sebagai sentra pembuatan gerabah di Kendal. Masyarakat satu kampung memproduksi kerajinan dari tanah liat. Namun saat ini kondisinya telah berbeda, seperti apa perubahannya?

Inibaru.id – Saya mengenal nama Kampung Kunden kali pertama dari buku Ekspresi Seni Orang Miskin: Adaptasi Simbolik Terhadap Kemiskinan karya Guru Besar Unnes Tjetjep Rohendi Rohidi. Sekitar lima tahun yang lalu ketika saya baca, isinya begitu mengusik pikiran terkait bagaimana masyarakat miskin mengekspresikan seni mereka.

Dari sana timbul keinginan kuat suatu hari saya harus berkunjung ke kampung tersebut. Sembari beranjangsana akan mimpi tersebut, akhirnya niat kesampaian juga pada Jumat (24/1). Saya menginjakkan kaki di Kampung Kunden, sentra pembuatan gerabah di Kendal.

Menata hasil gerabah yang telah jadi di depan rumah. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Menata hasil gerabah yang telah jadi di depan rumah. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Namun, apa yang saya imajinasikan terkait kampung ini dari buku Prof. Tjetjep berbeda cukup jauh, mungkin bedanya 150 derajat dari yang saya bayangkan. Jika Kunden dahulu satu kampung memproduksi beraneka macam produk gerabah, saat ini pengrajinnya bisa dihitung dengan jari.

Menurut pengrajin gerabah yang saya temui bernama Ngasiati, saat ini area pembuat gerabah terdapat di tiga gang utama yang berada di Kelurahan Langenharjo, Kecamatan Kendal. Jika tiga gang tersebut disatukan, jumlah pengrajin gerabah sekitar ada 12 orang.  

Pengrajin gerabah yang masih bertahan hingga sekarang merupakan generasi tua yang melanjutkan warisan orang tua dan buyut secara turun temurun. Seperti Ngasiati, perempuan berusia 65 tahun tersebut menekuni dunia gerabah sejak kecil dari orangtuanya.

“Sejak kecil belajar buat gerabah melanjutkan orangtua. SD kelas tiga sudah bikin-bikin, dari cobek, pot-pot bunga, wajan, ngaron,” katanya.

Produk-produk gerabah yang dihasilkan di Kampung Kendal. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Produk-produk gerabah yang dihasilkan di Kampung Kendal. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Masa itu bahkan Ngasiati diminta orangtuanya untuk putus SD karena membuat gerabah lebih menguntungkan daripada sekolah. Gaji guru pun lebih kecil dibandingkan penghasilan pembuat gerabah.

Pekerjaan sebagai pengrajin gerabah pun bagi generasi muda Kampung Kunden sudah nggak relevan dengan kondisi zaman. Ngasiati menambahkan, perabotan  saat ini banyak yang bisa dibuat dari logam dan plastik, nggak perlu bersusah payah berjibaku dengan tanah liat dan proses pembakaran yang mengotori rumah. Akhirnya para generasi muda lebih memilih bekerja di pabrik.

“Dulu di Kunden semua buat gerabah, tahun 2005 orang-orangnya yang kandel (ahli-red) pada meninggal. Tahun 2013 sudah sangat sepi,” ucapnya.

Di sisi lain, kondisi perumahan di Kampung Kunden yang menggambarkan kebudayaan orang miskin pun kini telah berganti. Jika Prof. Tjetjep menyebut rumah orang miskin dicirikan dengan nggak ada ruang privasi dan ruang lebih dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan primer yang bersifat keseharian (subsisten) khususnya untuk membuat gerabah.

Salah satu fasad rumah pengrajin gerabah di Kampung Kunden saat ini. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Salah satu fasad rumah pengrajin gerabah di Kampung Kunden saat ini. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Sebagian besar rumah-rumah yang ada di Kampung Kunden saat ini rata-rata tembok, ada ruang privasi, dan kondisinya sudah banyak yang layak. Bahkan kondisinya lebih baik jika saya bandingkan dengan rumah-rumah yang ada di perkampungan Deliksari, Kelurahan Sukorejo, Semarang dengan segenap himpitan ekonominya.

Usai kunjungan tersebut, saya tiba-tiba teringat dengan lirik lagu dari Keane, “everybody’s changing and I don’t feel the same.” Segala hal memang berubah, Millens! (Isma Swastiningrum/E05)