Meruwat Srandul, Merawat Kesenian Kendal

Anak millenials bisa sangat terbuka dan menerima kebudayaan modern. Namun, itu nggak berarti kebudayaan warisan para orang tua seperti tari Srandul ini diabaikan.

Meruwat Srandul, Merawat Kesenian Kendal
Jaranan Srandul Lanang. (Manunggalingbahurekso.blogspot)

Inibaru.id - Siapa yang mampu mempertahankan tradisi, nilai luhur, dan kekayaan lokal kalau bukan semua warga termasuk anak muda? Jika para penerus merasa itu semua nggak penting dan nggak jadi prioritas, maka yang terjadi adalah kepunahan. Nggak mau menjadi generasi yang melupakan warisan budaya, kan?

Saat ini, beberapa seni hiburan rakyat yang menjadi kekhasan sebuah daerah sudah banyak yang mati. Alasan kepunahannya bermacam-macam, mulai dari kekurangan dana, nggak ada lokasi untuk latihan dan pentas serta mandeknya regenerasi pemainnya.

Salah satu seni hiburan rakyat yang diambang kepunahan adalah Srandul dari Kendal. Srandul termasuk jenis drama tari yang menampilkan kisah tentang kehidupan sehari-hari seperti pertanian, kemakmuran, bencana dan lainnya. Dulu, kesenian ini eksis karena selalu diwariskan turun-temurun.

Pementasan Srandul di TMII Jakarta. (Majalahhandal.kendalkab)

Dilansir dari Wazana.wazana.blogspot, personel Srandul biasanya berjumlah 15 orang yang terdiri atas enam pemusik dan sembilan pemain. Karena menceritakan kehidupan keseharian, kostum yang dipakai adalah pakaian yang biasa dikenakan masyarakat pedesaan ditambah dengan tata rias yang realis.

Drama tari ini biasanya dipentaskan di sebuah arena dengan alat penerangan yang sampai sekarang tetap dipertahankan yaitu obor. Saat pentas, para pemain akan mengitari obor sambil melantukan syair-syair disertai gerakan tari yang khas.    

Nah, kabar gembiranya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal mulai melirik dan bertekad melestarikan kesenian Srandul. Terbukti, pada 14 April 2018 lalu kesenian ini dipentaskan di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Dinukil dari video Medcom.id, pementasan Srandul yang dipadu dengan kesenian modern dengan judul “Misteri Kyai Kendil Wesi” kala itu merupakan bagian dari promosi Pemkab Kendal pada pameran UMKM. Drama yang selalu menampilkan dialog antara pemain dan pengrawit musik pengiring tersebut berhasil menyita perhatian jutaan pasang mata lo, Millens.

Menurut penjelasan sutradara “Misteri Kyai Kendil Wesi” Sony Wisnu Murty, Srandul merupakan kependekan dari kata sarananing njedul yang berarti sarana yang digunakan agar sesuatu yang dikehendaki muncul dan diketahui banyak orang.

Kuda kepang, salah satu bagian dari kesenian Srandul di Kendal. (Instagram/Ngestiwargobudoyo)

Dahulu, Srandul merupakan jenis pertunjukkan yang digelar dalam berbagai kesempatan upacara tradisi. Srandul biasanya mudah dijumpai di Kendal daerah atas di antaranya Kecamatan Limbangan dan Singorojo. Namun, kini pertunjukan itu sudah jarang banget dimainkan karena para pemainnya sudah bertambah tua dan kalah dengan kesenian modern. Sedih, ya?

Itulah sekilas tentang Srandul, sebuah karya seni sarat nilai budaya dari Kendal yang mulai langka. Ada dan tiadanya Srandul di masa kini bergantung pada kepedulian semua kalangan pada warisan tradisi ya, Millens. (IB20/E04)