Simbol Kekerabatan Itu Ada di Halaman Panjang Rumah Adat Madura

Selalu ada halaman panjang di rumah adat Madura. Namanya Tanean Lanjhang yang berfungsi sebagai pusat ikatan dan pengawasan seluruh anggota keluarga.

Simbol Kekerabatan Itu Ada di Halaman Panjang Rumah Adat Madura
Tanean Lanjhang (adat-tradisional.blogspot.com)

Inibaru.id – Kekerabatan bagi masyarakat Madura adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi. Salah satu tengara mengenai ikatan kekerabatan itu bisa dilihat pada rumah adat Dikutip dari GNFI, daerah yang masih memiliki bangunan rumah adat ada di Desa Pamaroh, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan, Madura. Rumah adat itu memiliki halaman panjang yang kondang dengan sebutan Tanean Lanjhang.

Tanean Lanjhang yang jadi bukti kekerabatan masyarakat Madura terbentuk karena sejumlah rumah tata berjejeran dengan rumah induk yang berada di tengah-tengah. Rumah induk itu biasanya ditandai dengan bumbungan berbentuk jengger ayam di atapnya.

Rumah induk itu ditempati orang tertua dari keluarga bersangkutan. Orang tertua ini kemudian disebut kepala somah. Ibarat raja kecil, kepala somah menguasai semua kebijakan keluarga, terutama menyangkut masalah perkawinan. 

Baca juga:
Jaranan, Nggak Sekadar Naik Kuda Tiruan
Tradisi Natal Keturunan Portugis di Kampung Tugu

Perlu kamu tahu, rumah adat Madura hanya memiliki satu pintu di depan. Itu nggak asal dibuat seperti itu. Hanya satu pintu di depan dimaksudkan agar pemilik rumah dapat mengontrol aktivitas keluar-masuk keluarga. Pintunya dihiasi ukiran asli Madura, dengan warna hijau dan merah, lambang kesetiaan dan perjuangan. Sebuah lukisan bunga juga tampak menghiasi dinding depan rumah. Lukisan itu menggambarkan keharmonisan keluarga, sebuah impian rumah masa depan yang bahagia.

Di samping kanan dan kiri rumah induk, dibangun rumah untuk anak-anaknya. Anak tertua menempati rumah sebelah kanan. Anak lainnya menempati rumah sebelah kiri. Biasanya, rumah induk ditandai dengan hiasan dua jengger ayam yang ada di atas atap, dengan posisi berhadapan yang mirip dua nisan suatu makam. Serem? Nggak, posisi hiiasan seperti itu mengingatkan penghuni rumah akan kematian.

Di bagian dalam rumah, berdiri empat buah pilar penyanggah yang tampak kokoh. Pilar-pilar itu terhubung satu dengan lainnya sehingga membentuk sebuah bujur sangkar. Pilar-pilar seperti itu disebut pilar pasarean.  

Baca juga:
Rasa Syukur Orang Osing dalam “Selametan Sawah”
Pesta Syukur Suku Jerieng di Bumi Sejiran Setason

Sejumlah perabotan keluarga juga masih tampak terpelihara di dalam rumah, antara lain sebuah bayang besar terbuat dari kayu jati dengan ujung sebelah kiri lebih tinggi, yang berfungsi mengganjal kepala saat beristirahat. Ada pula sebuah tombak tradisional Madura yang masih terpelihara dengan baik. Tombak merupakan senjata tradisional Madura dalam mempertahankan keutuhan keluarga.

Untuk beribadah, setiap rumah adat dilengkapi sebuah surau. Selain untuk salat, surau jadi tempat kepala somah untuk memantau orang-orang yang keluar-masuk halamannya. Orang Madura menyebut surau sebagai langgar. Atap suraunya menggunakan daun ilalang yang membentang memayungi penghuninya dari air hujan dan sengatan matahari. (EBC/SA)