Warga Flores Sambut Natal dengan Tradisi Meriam Bambu

Warga Flores Sambut Natal dengan Tradisi Meriam Bambu
Tradisi Meriam Bambu di Flores adalah cara warga setempat menyambut Natal. (Tribunnews)

Bukan suara senjata atau tanda peperangan, bunyi meriam bambu yang menggelegar di Pulau Flores tiap Desember ini adalah tradisi menyambut hari Natal. Selain Natal, ada pula yang menggelar tradisi ini hingga Tahun Baru tiba.

Inibaru.id – Perayaan Natal adalah hal yang paling ditunggu-tunggu umat Kristiani setiap tahun. Untuk merayakan hari raya tersebut, mereka menggelar berbagai macam tradisi. Di Flores, Nusa Tenggara Timur, misalnya, warga di sana mengadakan tradisi Meriam Bambu untuk merayakan Natal.

Tradisi Meriam Bambu hampir dilakukan seluruh warga di Pulau Flores setiap masa Adven. Dalam ajaran Katolik, masa Adven merupakan masa-masa pertobatan untuk menyambut kelahiran Yesus Kristus yang berlangsung selama empat minggu. Selama waktu itu pula, masyarakat Flores membunyikan meriam. Bahkan, ada juga yang membunyikan meriam sampai Tahun Baru tiba.

Dulu, meriam bambu digunakan masyarakat Flores sebagai tanda ada seseorang yang meninggal. Saat itu, mereka membutuhkan tanda untuk menginformasikan sesuatu yang mendesak karena jarak antarkampung lumayan jauh dan sulit dilewati.

Namun, sekarang teknologi sudah menyebar hingga pelosok negeri termasuk Flores. Masyarakat setempat lantas nggak lagi membutuhkan dentuman meriam untuk mengabarkan berita duka. Karena takut musnah, akhirnya masyarakat Flores memutuskan untuk tetap melakukan tradisi Meriam Bambu sebagai pertanda menyambut hari Natal dan Tahun Baru. Meriam bambu bisa dibilang kembang api tradisional masyarakat Flores.

Anak-anak menyalakan meriam bambu. (Yosephbendi)

Sistem meriam bambu selaiknya meriam manual tapi dengan bahan-bahan sederhana. Desain meriam bambu juga sangat sederhana yakni hanya bambu yang dipotong agak panjang dan diberi lubang kecil di daerah sekitar pangkalnya.

Warga Flores biasanya memanfaatkan minyak tanah dan abu gosok untuk dimasukkan dalam lubang kecil itu. Untuk menghasilkan bunyi ledakan, mereka menyulut api di lubang. Setelah itu, asap akan muncul dari lubang belakang dan depan bambu. Lebih kurang 10 menit, bambu akan mulai panas. Sulut api kembali pada lubang kecil dan terdengar ledakan. Wah, seru ya!

Salut deh untuk masyarakat Flores yang masih melestarikan meriam bambu di tengah kecanggihan teknologi. Bagaimanapun, kebudayaan memang harus dilestarikan. Setuju, Millens? (IB07/E04)