Seporsi Nasi Jagung, Sepenggal Tradisi, dan Sedikit Cerita

Seporsi Nasi Jagung, Sepenggal Tradisi, dan Sedikit Cerita
Nasi jangung buatan Jumirah. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Meski sudah mulai ditinggalkan, seporsi nasi jagung masih menyisakan sedikit cerita bagi banyak orang. Bahkan, ada sepenggal tradisi yang melibatkan penganan yang pernah menjadi primadona saat beras belum terbeli masyarakat Indonesia ini.

Inibaru.id – Mungkin beberapa dari kamu nggak asing dengan penulis dan wiraswasta asal Mollo, NTT, Dicky Senda. Dia dikenal publik setelah memopulerkan pelbagai bahan pangan lokal yang diolahnya menjadi makanan serta kudapan yang menggiurkan.

Saya suka mengikuti kisahnya karena Dicky biasa mengolah bahan pangan yang ada di sekitarnya. Ini bisa menjadi referensi saya melakukan diversifikasi pangan, agar nggak melulu makan beras yang harganya terus meroket, sering terjadi kelangkaan, bahkan nggak jarang harus diimpor.

Yap, sejak budaya Tiongkok masuk dan "revolusi hijau" diterapkan di Indonesia, beras memang kian populer dan perlahan jadi sumber karbohidrat utama. Semua orang mengonsumsinya. Padahal, sejatinya masyarakat kita mengenal berbagai sumber karbohidrat yang sudah dikonsumsi sejak lama.

Jauh sebelum beras mampu dibeli, orang-orang di negeri ini mengonsumsi jagung dan umbi-umbian. Maka, jangan heran kalau banyak jajan pasar di Indonesia menggunakan bahan-bahan tersebut. Alih-alih nasi beras, orang Jawa Tengah bahkan konon lebih familiar dengan nasi jagung.

Namun, kini hampir nggak ada orang yang berjualan nasi jagung. Kalau pun ada, fungsinya bukanlah sebagai menu utama, melainkan sekadar sumber pangan alternatif, selingan, atau jajan yang nggak dimakan setiap hari. Nasibnya mungkin nggak jauh berbeda dengan getuk atau tiwul.

Diversifikasi Pangan yang Tersisa

Kehadiran nasi di meja makan tiap keluarga di Indonesia telah menggerus bahan pangan lain. Nasi jagung? Makanan itu kini nggak lebih dari sekadar penganan penawar rindu. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Kehadiran nasi di meja makan tiap keluarga di Indonesia telah menggerus bahan pangan lain. Nasi jagung? Makanan itu kini nggak lebih dari sekadar penganan penawar rindu. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Oya, di Pasar Sumowono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, kamu masih bisa menemukan penjual nasi jagung, lo. Di pasar yang berada di jantung Kecamatan Sumowono itu, nasi jagung memang masih dijajakan saban hari. Peminatnya pun masih banyak.

Kadang-kadang saya membelinya kalau bosan dengan nasi beras. Ini seperti yang juga dilakukan Arofah, pembeli yang kebetulan saya temui sewaktu sama-sama membeli nasi jagung di sekitar parkiran Pasar Sumowono.

“Nasi jagung itu ndoyani dan khas," tutur Arofah sepintas lalu. "Perlu sih sekali-kali makan nasi jagung bosan dengan nasi dari beras.”

Menurut saya, nasi jagung cukup enak dikonsumsi sehari-hari. Namun, cara pengolahan yang ribet bikin saya malas membuatnya sendiri, berbeda dengan beras yang cukup satu "klik" untuk menanaknya. Terus, harganya yang murah juga semakin bikin saya ogah membuatnya sendiri. Mending beli! Ha-ha.

Berdasarkan pengamatan saya, peminat nasi jagung sejatinya cukup banyak, lo. Para penjual nasi jagung di pasar biasanya cukup dipadati pembeli. Mereka seperti punya pelanggan tetap. Salah seorang di antaranya adalah Sulamah, pedagang di Pasar Sumowono.

"Hari ini satu saja, untuk dimakan sendiri," aku Sulamah yang pada siang itu sengaja turun ke dekat parkiran untuk membeli seporsi nasi jagung. Ah, pikiran saya langsung melayang jauh memikirkan diversifikasi pangan di Indonesia.

Nenek saya pernah bercerita, selama penjajahan hingga awal-awal merdeka, orang-orang Indonesia miskin sekali. Beras nggak terbeli. Untuk makan, mereka memilih jagung dan umbi-umbian seperti ubi, talas, dan suweg (mirip porang). Bahkan, beberapa makanan itu dikeringkan dulu biar tahan lebih lama.

Ehm, pada satu sisi, kemiskinan itu menyedihkan. Namun, keadaan ini justru membuat masyarakat kita kreatif. Hal tersebut jauh berbeda dengan sekarang. Setelah beras cukup murah untuk dibeli siapa saja, menu itu menjadi satu-satunya karbohidrat utama di meja makan kita. Diversifikasi makanan? Bye!

Masih Menjadi Bagian dari Tradisi

Para penjual nasi jagung di sekitar parkiran Pasar Sumowono. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Para penjual nasi jagung di sekitar parkiran Pasar Sumowono. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Saya beruntung dibesarkan di kampung yang masih mengenal nasi jagung, meski kini hanya disajikan pada momen-momen tertentu. Oya, nasi jagung adalah penganan yang terbuat dari jagung kering yang digerus kasar. Makanan ini umumnya dihidangkan bersama urapan pedas dan ikan asin.

Jiyah, salah seorang pembuat nasi jagung andalan di kampung saya, mengatakan, nasi jagung biasa disajikan pada jamuan acara tertentu, misalnya sinoman. Sinoman adalah semacam gotong-royong warga untuk membantu penyelenggaraan hajatan tertentu, seperti pernikahan atau khitanan.

Nasi jagung, ungkapnya, disajikan pihak penyelenggara hajatan untuk warga yang datang membantu memasak kebutuhan acara. Nasi jagung menjadi semacam hidangan khusus untuk menghormati mereka yang telah mengulurkan tangannya.

"Nasi jagung jadi sajian yang ditunggu-tunggu," seru perempuan paruh baya tersebut. “Memang meningkatkan selera makan. Makan sedikit nggak bakal cukup.”

Selain itu, nasi jagung juga masih dijual tiap hari di pasar-pasar tradisional. Di pasar-pasar tradisional lain di Semarang agaknya penjual nasi jagung juga masih ada, meski cuma satu-dua. Seperti di Sumowono, pembelinya pun sejatinya masih lumayan banyak.

Buat kamu yang sering mendengungkan diversifikasi makanan, nggak ada salahnya menjajal nasi jagung ini, Millens. Penganan ini bisa menjadi sumber karbohidrat alternatif bagi penderita diabetes juga, lo! Kamu yang diet gluten pun cocok menyantap nasi yang mengandung vitamin B dan C, magnesium, serta kalium, ini.

Hm, menyoal diversifikasi makanan dengan orang "belum kenyang kalau nggak ketemu nasi" seperti saya memang bakal sulit, sih. Namun, untuk alasan nostalgia dan nguri-uri tradisi, saya mau makan nasi jagung lagi dan lagi. Yeah, siapa tahu saya bisa jadi the next Kak Dicky! Ha-ha. (Zulfa Anisah/E03)