Senjakala Kerajinan Gerabah di Desa Klipoh

Senjakala Kerajinan Gerabah di Desa Klipoh
Seorang pengrajin gerabah di Desa Klipoh. (Bisniswisata)

Sejak dahulu Desa Klipoh dikenal sebagai sentra penghasil gerabah berkualitas di Jawa Tengah. Meski demikian, persentase pengrajin gerabah di sana mulai menurun.

Inibaru.id – Sejak lama Desa Klipoh dikenal sebagai desa penghasil gerabah berkualitas di Jawa Tengah. Sebagian besar masyarakat Desa Klipoh memang bermatapencaharian sebagai pengrajin gerabah. Meski kini mungkin jumlahnya perlahan menurun seiring majunya zaman.

Di antara warga Desa Klipoh yang masih gigih menjadi pengrajin gerabah adalah Limno, 72 tahun, dan Kani, 67 tahun. Pasangan suami istri itu mulai membuat gerabah sejak usia belia. Kani bahkan telah belajar membuat gerabah sejak usianya 10 tahun.

Yang dilakukan Kani sebenarnya merupakan hal lumrah di Desa Klipoh. Budaya di desa tersebut memang mewajarkan kaum perempuan sebagai pengrajin gerabah sejak dini. Sementara, kaum lelaki bertugas untuk mencari kayu bakar serta bahan baku gerabah berupa tanah liat.

pengrajin gerabah di Desa Klipoh didominasi oleh kaum perempuan. (Beritagar.id/Reza Fitriyanto)

Sebagai sentra kerajinan gerabah, ada yang khas dari hasil kerajinan Desa Klipoh, yakni aneka peranti dapur seperti penggorengan, kendi, periuk, cobek, tempayan, dan anglo. Aneka peranti itu tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari yang kecil hingga besar.

Namun, jumlah penduduk yang semula nyaris seluruhnya menjadi pengrajin gerabah, kini menurun dan hanya tersisa 25 persen saja. Itupun nggak banyak yang bertahan menjadi pengrajin gerabah peranti rumah tangga.

Sebagian pengrajin yang tersisa memilih untuk berinovasi menjadi pengrajin gerabah aneka suvenir, seperti miniatur candi dan gantungan kunci.

Baca Juga: Jejak Perempuan Pembuat Gerabah di Desa Klipoh

Lamno dan Kani adalah sepasang dari segelintir warga Klipoh yang memilih bertahan menjadi pengrajin gerabah rumah tangga. Jenis yang dibuat pun terbatas, hanya periuk atau penggorengan saja.

“Kalau kami sudah nggak ada, nggak ada lagi yang bikin periuk seperti ini,” kata Lamno, dikutip dari Beritagar (30/6/2018).

Seorang pengrajin gerabah di Desa Klipoh. (Genpijogja)

Yang dikatakan Lamno boleh jadi benar. Proses pembuatan gerabah yang cukup rumit tentu kurang sesuai dengan prinsip generasi masa kini yang lebih menyukai pekerjaan simpel namun cepat mendatangkan uang.

“Sekarang sudah nggak mau telaten bikin kayak  gini. Mending ke Taman Candi, pulang sore bawa duit berapa pun,” tambah Lamno.

Meski demikian, citra Desa Klipoh sebagai sentra penghasil gerabah telah dikenal bahkan hingga ke mancanegara, terlebih sejak media sosial semakin merambah.

Gerabah buatan Lamno dan Kani tetap diminati banyak pembeli. Pada jangka waktu tertentu, tengkulak akan datang mengangkut gerabah-gerabah itu untuk kemudian dipasarkan ke berbagai daerah. Sekali angkut, tengkulak bisa membawa hingga 2.000 gerabah lo.

Senjakala gerabah Klipoh? Hm, semoga sih nggak ya, Millens! (IB10/E03)