Salawatan Simtudduror dan Paduan Tiga Budaya

Kesenian Simtudduror, sejenis seni salawatan paduan tiga kebudayaan: Timur Tengah, Banjar, dan Pekalongan. Jenis kesenian lama yang masih dilestarikan masyarakat Pekalongan.

Salawatan Simtudduror dan Paduan Tiga Budaya
Festival Simtudduror (nu.or.id)

Inibaru.id - Di Pekalongan, Jawa Tengah ada simtudduror. Pernah dengar atau masih terdengar asing buat kamu?

Ya, itu salawatan yang telah berkembang lama di Pekalongan, khususnya di daerah pantai. Memang sih itu bukan kesenian asli melainkan hasil akulturasi budaya Timur Tengah, Banjar dan Pekalongan.

Penasaran dengan kesenian yang biasa dimainkan oleh 15 – 20 ini?

Simtudduror diambil dari kitab Maulid Simtudduror karya Habib Ali Al Habsy yang berasal dari Hadramaut (Yaman). Kitab tersebut berisi tentang kerinduannya kepada Rasullullah. Dalam kitab itu kamu akan membaca sejarah hidup dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad saw.

Baca juga:
Sucikan Diri dan Alam melalui Upacara Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan
Barongan Tegal dan Histeria Penonton

Isinya itu disenandungkan dalam bentuk salawatan sehingga dikenal sebagai seni salawatan Simtudduror. Melansir laman warisanbudaya.kemendikbud.go.id, alat musik pengiring dalam kesenian ini berupa rebana dan tanjidor. Rebana yang digunakan adalah rebana genjring asli Pekalongan sebanyak empat buah. Jenis rebana yang digunakan sama, yaitu rebana berdiameter 30-32 sentimeter. Keempat rebana itu dipukul dengan pola yang berbeda-beda sehingga tercipta permainan yang dinamis.

Pola permainan rebananya mengadopsi pola rebana Banjar. Ada empat pola/ritme pukulan yang dikembangkan dalam permainan Simtudduror, yaitu pola mrasuk, genjring, golong I, dan golong II. Nah, sudah cukup jelas letak perpaduan budaya dalam Simtudduror itu, bukan?

Meskipun bukan kesenian asli, Simtudduror menjadi salah satu jenis kesenian yang dilestarikan oleh orang Pekalongan hingga sekarang. Terbukti dari seringnya kesenian ini dipentaskan pada momen penting seperti peringatan hari jadi Kota Pekalongan pada 2017 dan peringatan Hari Santri di Pekalongan pada tahun yang sama.

“Festival Seni Budaya Simtudduror memang bukan asli Pekalongan, namun sebagai kota yang masyarakatnya hampir semuanya beragama Islam, Simtudduror perlu kita lestarikan,” ujar Wakil Walikota Pekalongan H M Saelany Mahfudz pada Festival Seni Budaya Hari Jadi Kota ke-111Pekalongan, seperti dikutip dari laman pekalongankota.go.id.

Baca juga:
Menumbuhkan Sportivitas melalui Permainan Betengan
Mereka Mengawinkan Sepasang Poci

Selain itu, Simtudduror juga bisa kamu temui pada acara hajatan seperti pernikahan, khitanan, selamatan, dan lain-lain.

Tertarik menyaksikan Simtudduror? Cek saja laman pekalongankota.go.id  untuk melihat agenda pertunjukan di daerah tersebut.(IB13/E02)