Sempat Disinggung Abu Janda, Siapa ya Pendiri Sunda Wiwitan?

Sempat Disinggung Abu Janda, Siapa ya Pendiri Sunda Wiwitan?
Ilustrasi: penganut Sunda Wiwitan di Suku Baduy. (REUTERS/Beawiharta)

Baru-baru ini, pegiat media sosial dengan akun Abu Janda menyinggung mengenai agama asli masyarakat Indonesia yaitu Sunda Wiwitan. Agama ini disebut-sebut sebagai produk lokal. Kira-kira kamu sudah tahu belum siapa pendirinya?

Inibaru.id - Di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur ada Kejawen, sementara di Jawa Barat terdapat sebuah agama warisan leluhur bernama Sunda Wiwitan. Sebagian warga di Jawa Barat, khususnya di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, menganut kepercayaan ini.

Adalah Pangeran Madrais atau Sadewa Alibasa Koesoema Widajayaningrat yang memperkenalkan ajaran yang juga kerap disebut sebagai Djawa Soenda ini. Pangeran Madrais adalah anak dari Pangeran Alibasa (Pangeran Gebang ke-9) dari pernikahannya dengan R Kastewi, keturunan kelima Tumenggung Jayadipura Susukan.

Lahir pada 1822, Madrais dianggap melenceng dari ajaran Sunan Gunung Jati. Konon, dia masih satu keturunan dari salah seorang Sembilan Wali. Nama aslinya Muhammad Rais, tapi disingkat menjadi Madrais karena teman-temannya di pesantren kesulitan memanggil namanya.

Yap, pendiri agama Sunda Wiwitan ini pernah nyantri di banyak pesantren saking tertariknya dengan Islam.

Sempat Dianggap Lahir di Luar Pernikahan Sah

Pangeran Madrais, pendiri Sunda Wiwitan. (Historyofcirebon)
Pangeran Madrais, pendiri Sunda Wiwitan. (Historyofcirebon)

Ada versi lain yang menyebutkan kedua orang tua Madrais nggak pernah menikah. Hal ini bermula ketika Kerajaan Gebang mewajibkan setiap daerah bawahannya mengirimkan seorang lelaki untuk dijadikan abdi. Entah kenapa, Desa Susukan nggak mengirimkannya.

Warga desa sekitar marah karena merasa hal tersebut nggak adil. Karena itu, kepala desa mengirimkan seorang perempuan bernama Nyi Kastewi sebagai permintaan maaf.

Sosok cantik Nyi Kastewi membuat Pangeran Alibassa kesengsem. Jadilah perempuan itu abdi dalem di Keraton Gebang. Kedekatan itu membuat keduanya lupa diri hingga Nyi Kastewi berbadan dua.

Agar nggak kena hukum adat, Pangeran Alibassa pun menyebut Nyi Kastewi dihamili oleh makhluk gaib. Nggak ingin Nyi Kastewi dan anaknya kenapa-kenapa, Alibassa meminta Ki Sastrawardana, bawahannya untuk menikahi kekasihnya itu.

Ki Sastrawardana merupakan tokoh dari Desa Cigugur di Kuningan tempat agama tersebut nantinya berkembang. Tapi, ada juga yang menyebut jika Pangeran Madrais benar-benar anak dari perkawinan sah antara Pangeran Alibassa dan Nyi Kastewi.

Madrais yang kala itu berusia kanak-kanak sempat menuntut ilmu di pondok pesantren. Dia sangat menyukai ajaran Islam sehingga sering berpindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Dia sempat diasuh ayah angkatnya, Ki Sastrawardana, kemudian dibawa oleh orang tua dari pihak ibunya.

Ketika remaja, kegemarannya memperlajari ilmu agama mulai teralihkan dengan adanya ilmu kanuragan serta hal-hal yang berbau mistis yang dia dapatkan di pesantren-pesantren tersebut. Sejak itu, ia pun mulai beralih ke ajaran tersebut.

Kontroversi Ajarannya

Madrais mengajarkan agar pengikut Sunda Wiwitan dikafani dengan kain hitam. (Aliexpress)
Madrais mengajarkan agar pengikut Sunda Wiwitan dikafani dengan kain hitam. (Aliexpress)

Madrais yang merasa mendapatkan wahyu untuk memperdalam ajaran kanuragan. Dia kemudian menggabungkan seluruh ilmu kebatinan yang diperoleh dari pesantren-pesantren di Pulau Jawa.

Dia kemudian kembali ke Cigugur dan mendirikan padepokan sendiri. Di sana Pangeran Madrais berdakwah sembari mengenalkan ajaran yang dia dapatkan dari pondok pesantren.

Ajarannya banyak disukai masyarakat setempat. Namun, yang lebih banyak dia sampaikan adalah sisi mistik seperti menyembuhkan orang sakit dan meramal. Dia juga membuat aturan sendiri mengenai mengafani orang meninggal dengan warna hitam.

Kepada pengikutnya dia mengajarkan agar mengucapkan "Wajoh Lawan" yang artinya ayo lawan agar menunda kematian ketika sakaratul maut. Semenjak itu kalangan ulama setempat menganggap ajaran Madrais sudah melenceng jauh dan nggak sesuai dengan syariat Islam.

Mendapat anggapan itu, Madrais menyatakan diri keluar dari Islam dan mematenkan ajarannya ke Raden Muhammad Ahmad, Bupati Kuningan saat itu. Permohonan ini kemudian diteruskan kepada Residen Cirebon RPM Van De Meer serta Gubernur Jendral Hindia Belanda Dirk Fock.

Pada 6 Oktober 1925, agama Djawa Soenda pun lahir. Nama tersebut dipilih karena Madrais menggabungkan ajaran tata cara beribadah, kebatinan, filosofi, serta budaya masyarakat Jawa dengan tradisi leluhur Sunda di masa lampau.

Betapa kaya keyakinan di Jawa ini ya, Millens! Kamu pernah tahu ajaran ini atau bertemu penganut Djawa Soenda ini? (Mer,Wik/IB21/E03)