Semar, Sosok Lokal yang Dimunculkan Dalam Kidung Sudamala

Semar, Sosok Lokal yang Dimunculkan Dalam Kidung Sudamala
Semar, pengasuh Pandawa. (Kompas)

Dalam dunia pewayangan, Semar dikenal sebagai tokoh lucu, sederhana, jujur, tulus, berpengetahuan, dan tajam batinnya. Ia merupakan tokoh Punakawan yang paling dihormati dan menjadi pengasuh Pandawa. Kira-kira kapan ya tokoh ini mulai dikenal?

Inibaru.id – Semar digambarkan dengan sosok bertubuh bulat, tersenyum, dan bermata sembab. Ia bukan laki-laki atau perempuan. Keunikan fisik ini kerap menjadikan Semar sebagai simbol kehidupan oleh orang Jawa.

Tubuh bulat ibarat bumi yang bulat. Bibir yang selalu tersenyum namun mata sembab dan berair mata menjadi gambaran hidup manusia yang diwarnai suka dan duka. Ia bukan lelaki, bukan pula perempuan yang menggambarkan jika manusia itu nggak sempurna. Setiap manusia memiliki ciri khas.

Tangan kanannya menunjuk ke atas yang berarti sang Maha Tunggal sementara tangan kirinya ke belakang yang bermakna berserah pada-Nya. Sosok ini memang lekat dengan gambaran spiritualitas.

Semar Dalam Sudamala

Sejarawan Prof Dr Slamet Muljana mengatakan kalau tokoh Semar ini kali pertama ditemukan di dalam karya sastra pada zaman Majapahit dengan judul Sudamala. Dipahat dalam bentuk relief di Candi Sukuh pada 1439, karya sastra ini berupa kakawin. Sudamala sangat popular di lingkup pencinta wayang.

Dalam Sudamala, Semar dikisahkan menemani Sadewa (Sudamala) ketika ditangkap  Dewi Uma yang berwujud raksasa. Akibat selingkuh, Dewa Siwa mengubahnya dalam wujud yang mengerikan. Ia bisa kembali ke bentuk semula jika diruwat oleh Sadewa.

Uma terus memaksa Sadewa, tapi bungsu Pandawa ini selalu menolak. Ia merasa nggak bisa melakukan upacara ruwatan. Akhirnya, dengan bantuan Hyang Guru/Siwa, Sadewa bisa meruwat Uma. Sang Dewi pun kembali ke wujud semula dan pulang ke surga.

Semar dikenal bijaksana, lucu, tapi juga jahil. (Pixabay)<br>
Semar dikenal bijaksana, lucu, tapi juga jahil. (Pixabay)

Semar yang juga berada di sana kemudian menjahili Kalika yang tengah kebingungan. Jiwa jahilnya muncul. Kalika yang masih dikutuk menjadi raksasa ini diminta menyediakan nasi sebakul, aneka lauk pauk, dan sekendi tuak oleh Semar. Ia mengaku bisa meruwat Kalika seperti yang sudah dilakukan Sadewa kepada Uma.

Dengan polosnya Kalika menyiapkan itu semua. Setelah siap, Kalika diminta pergi oleh Semar yang langsung makan dengan lahap. Beberapa saat kemudian, Kalika baru sadar kalau sudah dikibuli Semar. Duh ternyata Semar jahil banget ya, Millens?

Selanjutnya, ketika Islam mulai berkembang di Pulau Jawa, sosok Semar masih ada. Bahkan bisa dibilang lebih dominan dibanding Sudamala. Pada era selanjutnya, tokoh ini dimunculkan para pujangga dengan derajat yang lebih tinggi. Ia bukan hanya rakyat jelata melainkan jelmaan Batara Ismaya.

Asal usul Semar

Sebagian besar orang Jawa percaya jika Semar adalah jelmaan dewa. Dalam Serat Kanda misalnya, Semar dikatakan putra Sang Hyang Nurasa. Nama asli Semar adalah Sang Hyang Tunggal. Karena tahta kayangan diberikan kepada saudaranya, Sang Hyang Wenang, Semar akhirnya menjadi pengasuh  para ksatria.

Sebagian masyarakat mengenal sosok ini sebagai putra Sang Hyang Wisesa yang dianugerah Mustika Manik Astagina dan delapan kekuatan. Kedelapan kekuatan tersebut adalah nggak pernah mengantuk, nggak pernah lapar, nggak pernah jatuh cinta, nggak pernah sedih, nggak pernah lelah, nggak pernah sakit, nggak pernah kepanasan, dan nggak pernah kedinginan. Wuih!

Hal unik dari Semar adalah senjata kentutnya. Senjata ini memang bukan untuk membunuh tapi untuk menyadarkan orang-orang yang sedang berseteru.

Duh, kira-kira bau kentut Semar kayak apa ya, Millens? (Jag/IB21/E03)