Sarana Cinta Kasih Beda Alam Ibu ke Anak di Klaten Bernama Trek Lisang

Sarana Cinta Kasih Beda Alam Ibu ke Anak di Klaten Bernama Trek Lisang
Sebuah trek lisang yang berada di samping rumah orang tua. (Yoursay)

Bagi orang tua, anak adalah segalanya. Mereka rela melakukan apapun demi merawat dan menjaga sang anak. Hal ini bahkan bisa dilakukan meski orang tua dan anak sudah berbeda alam. Caranya adalah dengan melakukan tradisi trek lisang.

Inibaru.id ­– Di Jawa, ada sebuah stereotip bahwa orang yang baru meninggal dianggap belum sepenuhnya meninggalkan dunia. Mereka meyakini bahwa anak yang baru meninggal masih bisa memeluk keluarganya yang ada di dunia nyata. Pun dengan manusia yang masih hidup, mereka percaya bahwa arwah anak yang meninggal akan tetap tumbuh layaknya manusia biasa.

Dari keyakinan tersebut, di Klaten, Jawa Tengah, ada sebuah kepercayaan mengenai hubungan orang tua dengan anaknya yang sudah meninggal. Namun anak yang dimaksud di sini adalah yang meninggal karena keguguran. Jadi ya, di Klaten, orang tua masih merawat jenazah bayinya dengan membuatkan kuburan atau trek.

Letak kuburan trek itu biasanya berdekatan dengan rumah orang tua bayi tersebut. O ya, bayi yang meninggal karena keguguran ini dinamakan lisang. Maka, tradisi ini dikenal dengan istilah trek lisang.

Sebagai bentuk cinta kasih, lokasi trek lisang dibuat sedekat mungkin dengan rumah orang tuanya. Tujuannya? agar semakin mudah orang tua mengawasi dan merawat trek lisang. Bagi masyarakat Jawa, hal ini menjadi salah satu wujud tradisi berbuat baik kepada semua anggota keluarga.

Mitos dan Merelakan Trek Lisang

Proses merawat trek lisang. (etnis.id)
Proses merawat trek lisang. (etnis.id)

Masyarakat Klaten percaya jika sang lisang nggak dirawat dengan benar, dia akan mengganggu orang-orang yang ada di sekitarnya. Sebaliknya, jika dirawat, lisang tersebut akan memberikan jalan yang baik bagi orang tua untuk meniti kehidupan di masa mendatang. Hal ini didasari pada kepercayaan bahwa bayi yang meninggal masih dalam keadaan suci.

Umumnya, trek lisang berukuran panjang sekitar 1 sampai 1,5 dan lebar 80 hingga 1 meter, dengan tinggi 1 meter. Biasanya, trek lisang ini hanya didirikan sekitar 1.000 hari usai pemakaman dilakukan. Jadi, nggak selamanya ada di dekat rumah, ya, Millens.

Usai seribu hari, trek tidak digunakan lagi dan lisang akan dipindahkan ke permakaman umum. Hal ini menandakan bahwa setelah seribu hari lisang akan mampu merawat dirinya sendiri dan sudah saatnya berkumpul dengan para leluhurnya.

Nggak hanya di Klaten, warga di beberapa daerah lain di Jawa juga masih menerapkan tradisi trek lisang ini. Meski begitu, kebanyakan orang kini langsung memilih menguburkan jenazah bayi keguguran di permakaman umum.

Kalau di tempatmu, apakah masih ada orang yang menjaga tradisi trek lisang, Millens?. (Etn, You/IB31/E07)