6 Rangkaian Tradisi Sambut Kelahiran Bayi Jawa

Dalam tradisi Jawa, ada 6 ritual penyambutan bayi yang baru lahir. Apa saja ya?

6 Rangkaian Tradisi Sambut Kelahiran Bayi Jawa
Tradisi mencukur rambut bayi sampai gundul (Mommiesdaily.com)

Inibaru.id – Kelahiran sang buah hati tentu sangat dinanti oleh keluarga. Ucapan syukur dan doa agar bayi tumbuh sehat serta selamat dari marabahaya diekspresikan dengan berbagai upacara. Di Jawa, setidaknya ada 6 ritual menyambut kelahiran bayi. Itulah yang ditulis Javanist.com (04/04/2015). Millens pengin tahu? Yuk simak!

  1. Mendhem Batir (Mengubur Ari-ari)

Orang jawa percaya bahwa ari-ari atau plasenta merupakan batir bayi (teman bayi) sejak dalam kandungan. Secara medis, ari-ari berfungsi untuk menyalurkan berbagai nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin di dalam rahim. Lewat ari-ari juga zat-zat antibodi, berbagai hormon dan gizi disalurkan sehingga janin bisa tumbuh dan berkembang menjadi bayi.

Karena itu Millens, orang Jawa percaya bahwa organ ini harus tetap dirawat meskipun tugasnya telah selesai ketika bayi telah lahir. Organ tersebut akan diberi perlakuan khusus oleh dukun bayi dan dikubur sedemikian rupa agar tidak dimakan binatang ataupun membusuk di tempat sampah. Upacara mendhem ari-ari ini biasanya dilakukan oleh sang ayah atau kerabat. Lokasi yang paling umum dipilih berada di dekat pintu utama rumah, diberi kurungan bambu dan penerangan selama 35 hari (selapan). 

  1. Brokohan

Brokohan merupakan salah satu upacara tradisi jawa yang dilaksanakan sehari setelah bayi lahir. Kata Brokohan sendiri berasal dari kata barokah-an, yang artinya memohon berkah dan keselamatan atas kelahiran bayi.

Nah, dalam acara ini biasanya para tetangga dekat dan sanak saudara berdatangan dan berkumpul sebagai tanda turut bahagia atas kelancaran dan keselamatan kelahiran bayi. Biasanya mereka juga akan membawa berbagai hadiah seperti perlengkapan bayi dan makanan untuk keluarga yang melahirkan.

  1. Sepasaran

Kalau tradisi yang satu ini dilaksanakan tepat lima hari setelah bayi lahir, Millens. Pihak keluarga mengundang tetangga sekitar beserta keluarga besar untuk ikut mendoakan atas bayi yang telah lahir. Acara ini mirip seperti kenduri atau hajatan. Inti dari acara tersebut adalah upacara selamatan sekaligus mengumumkan nama bayi yang telah lahir.

  1. Puputan

Upacara Puputan dilakukan ketika sisa tali pusar yang menempel pada perut bayi sudah putus. Pelaksanaan upacara ini biasanya berupa kenduri dengan memohon pada Tuhan agar anak yang telah puput puser selalu diberi keselamatan serta kesehatan oleh Sang Pencipta. Konon, pada zaman dulu upacara puputan dilaksanakan dengan menyediakan berbagi macam sesaji.

Perlu kamu tahu bahwa waktu puput setiap bayi nggak sama. Ada yang 4 hari, bahkan ada yang sampai 35 hari lo! Maka nggak heran jika ada yang mengadakan puputan bersamaan dengan selapanan.

  1. Aqiqah

Akulturasi budaya Jawa-Islam sangat terlihat dalam upacara Aqiqah. Tujuh hari setelah kelahiran bayi merupakan waktu yang diutamakan untuk mengadakan upacara ini, Millens. Namun, sebenarnya nggak apa-apa jika dilakukan setelahnya. Di acara aqiqah, keluarga akan memotong kambing sebanyak 2 ekor untuk bayi laki-laki dan 1 ekor kembing untuk perempuan.

  1. Selapanan

Upacara Selapanan dilaksanakan pada hari ke-35 setelah kelahiran bayi. Ritual ini dilangsungkan dengan rangkaian acara bancakan weton (kenduri hari kelahiran), pencukuran rambut bayi hingga gundul dan pemotongan kuku bayi.

Pemotongan rambut dan kuku ini bertujuan untuk menjaga kesehatan bayi agar kulit kepala dan jari bayi tetap bersih. Sedangkan bancakan selapanan dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran bayi. Doa-doa agar bayi selalu sehat dan selamat juga dipanjatkan. (IB06/E05)