Saling Klaim Tanah Kelahiran Mahapatih Gajah Mada: Bali, Jawa, Kalimantan, atau Sumatra?

Saling Klaim Tanah Kelahiran Mahapatih Gajah Mada: Bali, Jawa, Kalimantan, atau Sumatra?
Relief Gajah Mada mengacungkan keris di Monumen Nasional, Jakarta. (Wikimedia/Gunawan Kartapranata)

Hingga kini, dari mana asal usul Gajah Mada masih menjadi perdebatan. Beberapa berpendapat mahapatih ini berasal dari Jawa, ada yang bilang dari Bali, bahkan Kalimantan atau Sumatera. Nggak heran jika asal usul tokoh legendaris ini jadi rebutan. Nama besarnya berpotensi memperteguh eksistensi identitas suatu daerah.

Inibaru.id – Gajah Mada memang mengabdi untuk Majapahit yang berlokasi di bumi Jawa. Tapi, asal usulnya masih tanda tanya. Belum ada bukti yang meyakinkan di mana ia dilahirkan dan siapa orang tuanya.

Minimnya petunjuk membuat tokoh besar ini bisa berasal dari mana saja. Paling nggak, ada empat daerah yang disebut-sebut merupakan tanah kelahiran sang mahapatih, yaitu Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan. Kok bisa sampai Sumatera segala?

Jadi begini, beberapa sejarawan berasumsi bahwa kata Mada itu ada dalam bahasa Minangkabau. Artinya, bandel. Nah, dalam bahasa Jawa, kata ini nggak ada.

Kemudian, untuk nama “Gajah” diambil dari binatang yang hidup di Pulau Andalas tersebut. Dugaan ini kian kuat dengan eratnya hubungan sang Patih dengan Adityawarman. Ia adalah seorang pangeran berdarah Sumatera. Kemungkinan besar, Gajah Mada dibawa ke Majapahit olehnya.

Lalu bagaimana dengan klaim Gajah Mada dari Kalimantan? Asumsi ini merujuk pada cerita rakyat suku Krio. Konon, ada seorang panglima besar Dayak di Kalimantan Barat yang bernama Panglima Jaga Mada. Dia diutus ke Jawa Dwipa untuk menguasai bumi Jawa.

Sumber Tulis Naskah Sastra

Gajah Mada. (Pintarpolitik)
Gajah Mada. (Pintarpolitik)

Selain dua klaim di atas, paling nggak ada empat sumber yang mungkin menjadi petunjuk asal usul Mahapatih yang terkenal dengan Sumpah Palapa ini.

Naskah Usana Jawa

Menurut naskah Usana Jawa, Gajah Mada dilahirkan di Pulau Bali. Ia dikisahkan lahir bukan dari manusia, melainkan lahir begitu saja dari buah kelapa yang memancar sebagai penjelmaan dari Sang Hyang Narayana (Visnu). Sosok ini dipercaya lahir atas kehendak dewa-dewi tanpa ibu dan ayah.

Kamu nggak perlu heran dengan keajaiban kelahiran Gajah Mada. Dalam naskah tradisional Nusantara, seorang yang berpengaruh pada masa itu memang sering diceritakan dengan hal-hal yang nggak lazim.

Dengan anggapan sebagai keturunan dewa, masyarakat yang percaya akan menghormatinya. Mitos memang menjadi legitimasi yang mujarab.

Babad Gajah Mada

Menurut Babad Gajah Mada, ia anak Nari Ratih dan Mpu Sura Dharma Yogi. (Wikimedia/Gunawan Kartapranata)
Menurut Babad Gajah Mada, ia anak Nari Ratih dan Mpu Sura Dharma Yogi. (Wikimedia/Gunawan Kartapranata)

Karya sastra ini berasal dari Bali. Dalam babad ini, diceritakan siapa orang tua Gajah Mada dan bagaimana ia dilahirkan. Gajah Mada lahir dari rahim seorang perempuan cantik bernama Patni Nari Ratih. Dia adalah istri seorang pendeta muda bernama Mpu Sura Dharma Yogi.

Suatu hari, Dewa Brahma melihat Nari Ratih dan jatuh hati. Cinta buta Dewa Brahma membuatnya memperkosa Nari Ratih. Peristiwa memilukan tersebut ia adukan pada suaminya.

Barangkali sadar bahwa yang bakal mereka hadapi adalah dewa, Ratih dan suaminya pergi mengembara. Mereka tiba di Desa Mada yang terletak di kaki Gunung Semeru ketika jabang bayi dalam kandungan Ratih siap lahir ke dunia.

Bayi tersebut lahir dengan berbagai pertanda bahwa nantinya ia akan jadi orang besar. Bayi laki-laki itu kemudian diasuh oleh kepala Desa Mada, sementara ibu dan ayahnya pergi bertapa di puncak Gunung Plambang. Mereka hendak memohon keselamatan dan kejayaan bagi si bayi. Permohonan tersebut dikabulkan Dewata. Si bayi dijanjikan menjadi orang yang dikenal di seluruh Nusantara.

Ketika Gajah Mada beranjak remaja, seorang Mahapatih Majapahit datang ke Desa Mada dan mengajaknya mengabdi kepada raja. Ia bahkan dinikahkan dengan putri sang mahapatih yang bernama Ken Bebed.

Setelah mertuanya lengser, kedudukan sebagai Mahapatih Amangkubumi Majapahit berada di pundaknya. Berkat kerja kerasnya, kerajaan Majapahit berhasil memperluas daerah kekuasaannya hingga ke luar Pulau Jawa.

Babad Arung Bondhan

Kitab Babad Arung Bondhan memberi penjelasan berbeda mengenai asal-usul Gajah Mada. Dalam kitab Jawa abad pertengahan tersebut, dikisahkan bahwa Gajah Mada adalah anak dari Patih Lugender (dikenal dengan nama Logender dalam cerita Damarwulan dan Menakjingga). Dalam cerita tersebut, Logender menjadi Patih Ratu Majapahit bernama Ratu Kenya (Kencanawungu).

Terjemahan kitab adalah sebagai berikut:

Sebagian terjemahan kitab Babad Arung Bondhan. (Kekunoan)
Sebagian terjemahan kitab Babad Arung Bondhan. (Kekunoan)

Kalau kata JLA Brandes, kisah Damarwulan dan Menakjingga terjadi saat Majapahit diperintah oleh Ratu Suhita. Menakjingga yang dimaksud dalam kisah tersebut setara dengan Bhre Wirabhumi. Ia adalah penguasa kedaton timur yang melawan Majapahit.

Jadi, berdasarkan tafsiran ini, Gajah Mada adalah anak dari Patih Logender yang baru lahir usai Majapahit melewati masa kejayaannya. Hal ini bertentangan dengan berbagai prasasti dan Kakawin Nagarakrtagama. Dalam bukti otentik itu disebutkan bahwa Gajah Mada berperan dalam masa awal dan masa kejayaan Majapahit dalam periode kekuasaan Hayam Wuruk. Hm

Pararaton

Raden Wijaya atau Krtarajasa Jayawardhana dikisahkan memiliki beberapa pengikut setia. Mereka mengiringi Raden Wijaya ketika mengungsi dan membuka hutan Trik sebagai cikal bakal Majapahit. Mereka adalah Lembu Sora, Nambi, Ranggalawe, Gajah Pagon, Pedang Dangdi, dan lainnya.

Lantaran terkena tombak ketika melawan Jayakatwang, Gajah Pagon terluka. Usai prajurit Kadiri berhasil dihalau, Raden Wijaya dan rombongan menuju ke Desa Pandakan (mungkin sekarang kecamatan di utara Malang). Mereka disambut kepala desa yang bernama Macan Kuping.

Karena terluka, Gajah Pagon terpaksa harus dititipkan di desa ini, sementara rombongan menuju Arya Wiraraja untuk meminta bantuan. Setelah luka Gajah Pagon sembuh, ia dinikahkan dengan putri Macan Kuping. Bukan cuma itu, Gajah Pagon juga menggantikan Macan Kuping menjadi kepala desa. Dari pernikahan itu lahirlah Gajah Mada.  

Jadi ada dua “Gajah” pada era Majapahit yaitu Gajah Pagon pada awal berdirinya Majapahit dan Gajah Mada yang mulai dikenal pada masa pemerintahan Raja Jayanegara. Ia juga yang mengantarkan kejayaan Majapahit pada pemerintahan Hayam Wuruk.

Hm, menarik ya, Millens. Kalau menurutmu, Gajah Mada berasal dari mana nih? (Kek,Viv/IB21/E03)