Sungkeman, Prosesi Sakral pada Pernikahan Jawa yang Hampir Selalu Diiringi Isak Tangis

Sungkeman, Prosesi Sakral pada Pernikahan Jawa yang Hampir Selalu Diiringi Isak Tangis
Sungkeman menjadi momen yang mengharukan bagi mempelai pengantin dan orang tuanya. (Budayajawa)

Prosesi upacara pernikahan adat Jawa ditutup dengan ritual sungkeman. Biasanya, momen sungkeman menjadi momen yang sakral dan penuh dengan haru biru. Tamu undangan yang menyaksikan pun sering terbawa suasana.

Inibaru.id - Pernikahan adat Jawa begitu menunjung tinggi hubungan orang tua dengan anak. Hubungan itu, salah satunya, terwujud dalam prosesi Sungkeman. Ritual wajib ini dilakukan istri-suami untuk meminta restu kedua orang tua mereka sebelum memulai kehidupan rumah tangga sendiri.

Pada prosesi sungkeman, orang tua duduk di kursi atau posisi yang lebih tinggi, sedangkan kedua mempelai pengantin berjongkok dengan bertumpu pada lutut di lantai. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua yang telah membesarkan mereka hingga hari pernikahan tiba.

Mempelai perempuan melakukan sungkeman. (Harrylotwedding.wordpress)

Setelah pengantin berada di depan kedua orang tuanya, mereka menundukkan kepala. Kemudian, orang tua mengulurkan tangan kanannya untuk dijabat dan dicium, sedangkan tangan kirinya mengelus kepala anaknya.

Sungkeman umumnya dilakukan terlebih dahulu kepada orang tua pengantin perempuan, baru setelah itu kepada orang tua pengantin laki-laki.

Momen Mengharukan

Pada pernikahan, sungkeman kerap menjadi momen paling mengharukan bagi kedua mempelai. Nggak jarang peristiwa ini mengundang drama yang dipenuhi isak tangis. Bahkan, tamu undangan yang hadir pun bisa ikut terhanyut dalam suasana mengharu biru tersebut.

 

Bikin air mata pengin tumpah, ah! (Pinterest)

Yap, ini tentu bisa dipahami karena selain menjadi simbol bakti anak kepada orang tua, sungkeman juga menjadi saat-saat terakhir anak bersama dengan orang tuanya. Momen itu juga biasanya menjadi kesempatan bagi anak mengucapkan maaf dan terima kasih kepada kedua orang tuanya. Duh, jadi pengin nangis! Hu-hu.

Saat sungkeman, orang tua mengenakan batik motif truntum dengan ikat pinggang yang disebut sindhur. Motif truntun melambangkan kerelaan orang tua pada anaknya, dengan harapan sang anak bakal memperoleh rezeki yang cukup.

Sementara, sindhur melambangkan restu orang tua agar anaknya berhati-hati dalam menjalani hidup, dan hidup secara rukun serta sejahtera. Hm, sungguh indah maknanya!

Pada momen seperti ini, yakin bisa nggak nangis? (Griyapernikahan.wordpress)

Yakin deh, ketika dihadapkan pada momen ini, air mata rasanya pengin jatuh aja! Ingatan bakal kembali ke masa kecil dan terus berputar hingga detik-detik perpisahan dengan mereka tiba. Ah, kasih orang tua memang sepanjang masa, ya, Millens! (MG28/E03)